Istri Gubernur Aceh Tinjau Kedatangan Bantuan di Bandara Malikussaleh: Krisis Logistik Mengancam Wilayah Terisolasi

TARMIZI UMAR

- Redaksi

Minggu, 30 November 2025 - 14:05 WIB

5056 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TIMELINES iNEWS Investigasi | Aceh Utara — Dampak Banjir besar yang melanda Provinsi Aceh pada akhir November 2025 Meninggalkan Duka dan menciptakan krisis kemanusiaan paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian wilayah Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe lumpuh total akibat tingginya debit air, rusaknya akses jalan nasional, serta terendamnya ribuan rumah warga. Untuk memastikan bantuan darurat tiba dan langsung disalurkan ke titik bencana, Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial Aceh Bergerak cepat dengan meninjau arus masuk bantuan di Bandara Malikussaleh.

Sabtu sore (29/11/2025), Istri Gubernur Aceh, Ny. Marlina Muzakir, didampingi Plt. Kepala Dinas Sosial Aceh, Chaidir, S.E., M.M., turun langsung ke lokasi. Bandara Malikussaleh yang biasanya melayani penerbangan komersial kini difungsikan sebagai pusat distribusi logistik darurat, menjadi tumpuan utama penanganan bencana.

Begitu pesawat kargo BNPB mendarat, proses pembongkaran bantuan dilakukan tanpa penundaan. Puluhan relawan, petugas bandara, dan unsur TNI-Polri bekerja simultan menurunkan paket-paket logistik yang berisi makanan siap saji, tenda darurat, perlengkapan sandang, serta kebutuhan dasar lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bantuan harus disegerakan. Warga kita sedang dalam kondisi kritis. Banyak yang bertahan hanya dengan pakaian di badan. Mereka tidak bisa menunggu,” tegas Ny. Marlina di tengah proses penurunan logistik.

Bencana banjir ini telah menyebabkan isolasi di sejumlah wilayah. Warga di beberapa kecamatan bertahan 3–4 hari di dataran lebih tinggi tanpa suplai makanan yang memadai. Bagi pemerintah daerah, kondisi ini bukan sekadar banjir musiman, tetapi ancaman kemanusiaan yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi.

Plt. Kadis Sosial Aceh, Chaidir, mengungkapkan bahwa persediaan logistik di gudang Dinas Sosial Aceh berada pada kondisi paling kritis.

“Stok bantuan Aceh sudah habis. Kita mengandalkan pasokan dari pemerintah pusat dan dukungan mitra lainnya. Bantuan masuk lewat darat, laut, dan udara, tetapi banyak wilayah tetap sulit dijangkau,” ujarnya.

Ia mencontohkan Kecamatan Baktiya, salah satu wilayah terparah, di mana ketinggian air masih mencapai 1–2 meter di atas badan jalan. Ribuan warga di daerah tersebut praktis terisolasi dan hanya bisa diakses melalui jalur udara atau perahu karet.

Chaidir menegaskan bahwa kebutuhan terpenting saat ini adalah makanan siap saji, air bersih, dan perlengkapan sandang. Sejumlah warga dilaporkan sudah tiga hari bertahan tanpa makanan cukup karena akses distribusi terhambat dan suplai lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan.

“Ini bukan banjir biasa. Tiga kebutuhan terbesar sekarang adalah makanan siap saji dan perlengkapan sandang dan air bersih Tolong fokuskan bantuan ke posko-posko yang terisolasi,” imbau Chaidir.

Ia juga mengajak masyarakat, lembaga kemanusiaan, serta relawan untuk memastikan setiap bantuan tepat sasaran dan tidak menumpuk di satu titik saja.

Dengan kondisi akses darat banyak yang terputus akibat jembatan ambruk dan genangan tinggi, jalur udara menjadi opsi yang paling memungkinkan untuk menjangkau wilayah terdampak. Helikopter BNPB dan TNI kini disiagakan sebagai penopang utama distribusi.

“Helikopter menjadi kunci untuk menjangkau wilayah yang benar-benar terisolasi,” tambah Chaidir.

Sebelum meninggalkan bandara, Chaidir kembali menginstruksikan seluruh tim agar bekerja tanpa menunggu waktu.

“Pastikan bantuan terjadwal dan bergerak hari ini juga. Setiap jam sangat berarti bagi keselamatan warga kita,” tegasnya.

Dengan penanganan yang terus dipercepat dan kedatangan bantuan dari berbagai pihak, pemerintah berharap krisis logistik yang menimpa ribuan warga Aceh dapat segera teratasi. Namun dengan cuaca yang masih tidak menentu, tantangan proses evakuasi dan distribusi bantuan diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.*[]

Berita Terkait

Walikota Langsa Ajak Pelaku Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
MPU Aceh Perkuat Pemahaman Fatwa Pendidikan bagi Kepala Sekolah di Aceh
Tahapan Pilchiksung, Dua Calon Geuchik Serambi Indah Resmi Kantongi Nomor Urut
Respon Laporan Warga, Satpol PP-WH Kota Langsa Bongkar Tiang Baliho yang Nyaris Roboh
Walikota Langsa Serahkan Bantuan Seragam Sekolah untuk Anak Yatim Piatu di Gampong Jawa
Perkuat Mutu PAUD dan PKBM, Disdikbud Aceh Utara Gembleng Ratusan Peserta Lewat Bimtek KSP dan Akreditasi
Haji Uma Turun Tangan, Tiga ART Asal Aceh Korban Penyiksaan di Malaysia Dapat Perlindungan KJRI
Bupati Aceh Utara Dorong Revisi UUPA dan Perpanjangan Dana Otsus di Hadapan Komisi II DPR

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 04:13 WIB

Tanam Perdana Kedelai, PTPN I & Kodaeral I TNI AL Optimalkan 270 Hektare Lahan Aset Negara di Tanjung Morawa

Jumat, 19 Juni 2026 - 04:02 WIB

Kodaeral I, Pemkab Deli Serdang Dan PTPN I Regional 1 Bersinergi Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Jumat, 19 Juni 2026 - 01:20 WIB

Deteksi Dini Gangguan Kamtib, Satops Patnal Lapas Kelas IIB Padangsidimpuan Gelar Razia Insidentil

Jumat, 19 Juni 2026 - 00:53 WIB

Kanwil Ditjenpas Sumut Resmikan Hasil Program Bedah Rumah, Wujud Nyata Kepedulian Pemasyarakatan bagi Masyarakat

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:59 WIB

Lapas Perempuan Medan Hadiri Rakor Keadilan Restoratif Kemenko Polkam Di Sumut

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:33 WIB

Kapolres Pematangsiantar Turun Langsung Pengecekan TKP Kebakaran Kios di Pasar Dwikora Parluasan

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:28 WIB

Gagalakan Peredaran Narkoba, Polres Pematangsiantar Amankan Dua Pemilik Sabu 6,69 Gram

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:24 WIB

Polres Pematangsianțar Ringkus Residivis Narkotika Miliki 13 Butir Ekstasi

Berita Terbaru