TLIi|SUMUT|SIANTAR, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pematangsiantar menggelar konferensi pers terkait pencapain yang mereka lakukan sepanjang tahun 2025. Konferensi pers tersebut dipimpin oleh Kepala BNN Kota Pematangsiantar Mushab Aulia Arif Hasibuan S.Sos, Selasa 23 Desember 2025 di kantor BNN jalan Keselamatan Kelurahan Sukadame Kecamatan Siantar Utara Kota Pematangsiantar.
Mushab Aulia Hasibuan memaparkan sejumlah pencapaian kinerja Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) sepanjang tahun 2025.
“Penyerapan anggaran belum maksimal akibat pemblokiran anggaran sebagai dampak kebijakan efisiensi di tingkat pusat maupun daerah. BNN juga memperkuat sinergi lintas sektor melalui berbagai perjanjian kerja sama dengan instansi pemerintah, swasta, dan komponen masyarakat, termasuk di wilayah rayonisasi Humbang Hasundutan, Toba, dan Samosir,” terangnya
Dia melanjutkan, pada bidang rehabilitasi dan pencegahan, BNN Kota Pematangsiantar mencatat capaian signifikan, antara lain pelaksanaan SKHPN PNBP terhadap 1.520 orang, layanan rehabilitasi rawat jalan kepada 96 klien, serta pembentukan Unit Intervensi Berbasis Masyarakat di Kelurahan Sukaraja. Indeks Kota Tanggap Ancaman Narkoba (IKOTAN) tercatat sebesar 3,03 dengan kategori tanggap, sementara Indeks Kemandirian Partisipasi (IKP) mencapai 3,63 dengan predikat sangat mandiri.
Dalam sesi tanya jawab dengan insan pers, BNN Katim Eva br Tambunan menjelaskan bahwa pelaksanaan tes urin tahun 2025 dilakukan melalui kerja sama dengan Pemerintah Kota Pematangsiantar melalui Kesbangpol sebagai bagian dari program 100 hari kerja Wali Kota. Tes urin dilaksanakan dalam dua tahap, yakni tahap pertama di SMP Negeri yang menyasar guru laki-laki dan siswa laki-laki, serta tahap kedua di SMP swasta dan MTs yang melibatkan sekitar 25 peserta per sekolah berdasarkan rekomendasi guru BK atau wali kelas. Total peserta tes urin mencapai sekitar 5.200 orang.
Dari hasil pemeriksaan, BNN menemukan sejumlah peserta yang terindikasi positif. Namun demikian, BNN menegaskan bahwa penanganan dilakukan melalui pendekatan rehabilitasi, bukan proses hukum. Siswa yang terindikasi positif menjalani rehabilitasi rawat jalan di Klinik Pratama BNN dengan pendampingan orang tua dan guru BK, serta pengaturan jadwal agar tidak mengganggu proses belajar mengajar. Sementara itu, peserta nonpelajar juga ditangani melalui mekanisme rehabilitasi sesuai ketentuan yang berlaku.
BNN menambahkan bahwa alat tes urin yang digunakan mengacu pada tiga parameter dan tidak mendeteksi zat invalansia. Berdasarkan hasil deteksi dini di lapangan, jenis narkotika yang paling banyak ditemukan adalah ganja dan sabu.
Mushab Aulia Hasibuan menambahkan tes urin juga akan digelar di SMA negeri yang ada di kota Pematangsiantar sebagai bukti keseriusan Pemerintah dalam memberantas narkoba.(Juin)

































