( foto istimewa sang penulis Siti Aminah)
Penulis: Siti Aminah, mahasiswa PBI Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Di sebuah kota yang sejuk dan indah, tepatnya di Kota Yogyakarta, hiduplah sebuah keluarga kecil yang penuh cinta. Namun, keluarga itu hanya terdiri dari seorang ayah dan anak perempuan semata wayangnya yang cantik.Suatu sore, Ayah terlihat memegang sebuah karung kecil berisi buah-buah mungil.
Warnanya beragam.hijau, jingga kekuningan, hingga merah. Pemandangan itu langsung membuatku penasaran.
“Ayah, itu apa?” tanyaku spontan sambil menunjuk karung tersebut.
Ayah tersenyum, lalu mengambil salah satu buah kecil itu.
“Ini namanya lada, Ghaniyah,” ujarnya lembut.
Oh iya, hampir lupa memperkenalkan diri. Namaku Ghaniyah, nama yang Ayah ambil dari bahasa Arab yang berarti kekayaan.
Aku mengernyit bingung.
“Lada? Aku nggak pernah dengar.
Bentuknya juga baru pertama kali aku lihat.
“Ayah dapat dari mana?”
Ayah tersenyum lagi.
“Ayah mendapatkannya saat berlibur ke tanah kelahiran Ayah, di Bangka. Kamu pernah dengar Bangka?”
Aku menggeleng pelan.
“Bangka? Belum pernah. Ayah juga nggak pernah cerita soal Bangka. Ceritain dong, Yah. Ghaniyah jadi penasaran,” pintaku manja.
Ayah terkekeh kecil.
“Iya, iya. Ayah akan cerita.”
Kami pun berpindah ke ruang tamu. Ayah membuka lemari buku dan mengambil sebuah benda tebal.Hmmm… sepertinya album, batinku. Tapi album tentang apa, ya?Ayah duduk di sampingku sambil membuka album itu lembar demi lembar. Di sana, aku melihat foto sepasang orang tua yang sepertinya adalah kakek dan nenekku. Ada juga foto mereka sedang makan durian langsung dari pohonnya eh, maksudku, langsung dari batang pohon. Aku tersenyum kecil melihatnya.
Di halaman berikutnya, terlihat banyak pohon hijau dengan daun yang mirip sirih.Apa ini sirih, ya? Tapi kok ada buah yang mirip lada bergantungan? gumamku dalam hati.
Ayah merangkul pundakku.
“Kamu lihat ini, Niyah,” katanya sambil menunjuk sebuah foto.
“Ini namanya pohon lada. Pohon ini banyak ditemukan di Bangka.”
“Bangka itu di mana, Yah?” tanyaku semakin penasaran.
“Bangka terletak di sebelah timur Pulau Sumatra. Di barat berbatasan dengan Selat Bangka, dan di timur dengan Selat Karimata. Ibu kotanya adalah Pangkal Pinang,” jelas Ayah dengan sabar.
“Oh, begitu ya, Yah,” jawabku sambil mengangguk-angguk.
“Selain lada, apa lagi yang ada di Bangka, Yah? Ada pantai nggak?” tanyaku antusias.
“Tentu ada. Bangka punya banyak pantai yang indah. Pulau ini juga terkenal sebagai penghasil timah,” jawab Ayah.
“Waaah… Ghaniyah jadi penasaran. Boleh nggak Ghaniyah ke sana, Yah? Sekalian mengunjungi tempat kelahiran Ayah,” pintaku sambil merayu.
Ayah menatapku sambil tersenyum nakal.
“Kalau sekarang sepertinya belum bisa, Ghaniyah. Ayah masih harus bekerja.”
“Yah…” suaraku melemah.
“Tapi…” Ayah menepuk kepalaku lembut.
“Kalau kamu mau, kita bisa pergi saat libur sekolah. Ayah akan berusaha ambil cuti, khusus buat kamu.”
“Beneran, Yah?” tanyaku berbinar.
“Beneran. Tapi dengan satu syarat. Ghaniyah harus rajin belajar supaya naik kelas, ya.”
“Iya, Ayah. Ghaniyah kan memang pintar dan selalu naik kelas,” jawabku percaya diri.
Ayah tertawa.
“Iya, iya. Anak Ayah memang paling pintar dan paling cantik.”
Tawa kami pun memenuhi ruang tamu sore itu. Melihat album dan mendengar cerita Ayah membuatku semakin bersemangat menunggu hari pergi ke Bangka.Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya tiba hari pengambilan rapor.hari yang paling kutunggu. Dengan rapor dan piala di tangan kanan dan kiri, aku pulang ke rumah dengan penuh semangat.
Namun, Ayah belum pulang dari tempat kerja. Aku berganti pakaian lalu duduk menunggu di ruang tamu. Tak terasa, hari mulai gelap dan suara azan magrib berkumandang.Tak lama kemudian, terdengar suara motor di depan rumah.
“Itu Ayah!” seruku girang.
Namun, saat pintu terbuka, yang masuk bukan Ayah, melainkan Bibiku.
“Bibi? Tumben datang malam-malam,” tanyaku. Entah kenapa, hatiku mulai terasa aneh.
“Ghaniyah… ayo ikut Bibi ke rumah sakit,” ucapnya dengan wajah pucat.
“Kenapa, Bi? Siapa yang sakit? Ayah mana?” tanyaku cemas.
“Sebetulnya… Ayah kamu ada di rumah sakit,” jawab Bibi dengan mata berkaca-kaca.
“Hah? Ayah sakit apa, Bi?” tanyaku sambil menangis.
“Nanti Bibi ceritakan. Sekarang ikut Bibi dulu, ya.”
“Iya, Bi…”
Harapan yang selama ini kubayangkan tiba-tiba berubah menjadi ketakutan. Di dalam mobil, aku hanya bisa berdoa sambil menatap jalan dengan air mata yang terus mengalir.Sesampainya di rumah sakit, aku melihat Ayah terbaring lemah di atas ranjang, dengan infus menempel di tangannya. Tak lama kemudian, dokter keluar dan berkata pelan,
“Maaf, Ibu dan Adik. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah berkehendak lain.”
Tangisku pecah. Aku berlari masuk dan memeluk tubuh Ayah yang kini tak lagi bersuara.
“Ayah, jangan tinggalin Ghaniyah. Ayah kan janji mau ajak Ghaniyah ke Bangka. Ghaniyah sudah naik kelas dan dapat juara, Yah…”
Bibi memelukku erat.
“Sabar, Niyah. Kalau kamu sedih, Ayahmu tidak akan tenang di sana.”
Tangisku semakin menjadi.Tak lama kemudian, dokter memanggil Bibi dan menyampaikan pesan terakhir Ayah. Ayah ingin dimakamkan di Bangka, tanah kelahirannya.Mendengar itu, hatiku semakin perih. Bahkan di saat terakhirnya, Ayah masih memikirkan janjinya kepadaku.Ayah, kita ke Bangka bareng-bareng ya, ucapku dalam hati sambil tersenyum di balik air mata.
Keesokan harinya, aku dan Bibi berangkat ke Bangka. Bukan kebahagiaan yang kudapatkan, melainkan duka yang mendalam.
Setibanya di rumah keluarga Ayah, aku melihat Nenek dan dua orang bibi menangis di dekat jenazah Ayah. Mereka adalah Ibu dan kedua adik Ayahku.Tangisan itu kembali memecahkan hatiku.Akhirnya, prosesi pemakaman pun dilakukan. Hari itu menjadi hari terberat dalam hidupku hari di mana aku benar-benar harus merelakan Ayah pergi.
Malam-malam berikutnya, rumah Nenek dipenuhi doa selama tujuh hari. Perlahan, aku mulai kuat. Bibiku menemaniku memenuhi janji Ayah: melihat kebun lada, sawit, tambang timah, dan sawah.Meski Ayah tak ada, aku merasa ia selalu di sampingku.Saat Bibi hendak pulang ke kota, aku memilih tinggal.
“Di sini saja, Bi. Ghaniyah merasa lebih dekat dengan Ayah,” ucapku tersenyum.
Bibi mengangguk dan memelukku erat.
Dari kejauhan, aku melambaikan tangan saat mobil Bibi menghilang, sambil memeluk kenangan tentang Ayah yang akan selalu hidup di hatiku.
TAMAT



































