Kenangan Yang Tak Dipilih

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Minggu, 28 Desember 2025 - 13:22 WIB

50120 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

( foto istimewa sang penulis Kanza Olivia)

Penulis: Kanza Olivia

Nama gadis itu Chaniee,Sejak kecil, Chaniee selalu berpikir bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman. Tempat untuk belajar, bermain, dan tertawa. Namun kenyataannya, masa SD justru menjadi bagian hidup yang paling ingin ia lupakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di kelas, Chaniee bukan anak yang menonjol. Ia tidak pandai berbicara di depan banyak orang, suaranya kecil, dan sering gugup. Hal-hal sederhana itulah yang membuatnya menjadi sasaran. Teman-temannya mulai menertawakan caranya membaca, caranya menjawab pertanyaan, bahkan caranya diam. Dari tawa kecil, berubah menjadi ejekan. Dari ejekan, berubah menjadi kebiasaan.

Setiap hari, Chaniee merasa seperti berjalan di lorong yang penuh mata menghakimi.Ia disebut tidak bisa apa-apa,disebut aneh dan disebut tidak berguna.Tanpa sadar, kata-kata itu perlahan tumbuh di kepalanya. Ia mulai ragu pada dirinya sendiri. Ketika guru meminta siswa maju ke depan, Chaniee menunduk, berharap namanya tidak dipanggil. Ketika ada kerja kelompok, ia takut dipilih terakhir atau lebih buruk, tidak dipilih sama sekali.

Ia pernah mencoba melawan. Pernah mencoba tersenyum seolah tidak apa-apa. Tapi semakin ia bertahan, semakin sakit rasanya. Tidak ada yang benar-benar membelanya. Bahkan diam pun terasa salah.Setiap pulang sekolah, Chaniee sering duduk lama di kamarnya.

Ia memandangi seragamnya,dalam hatinya ia bertanya lirih , “Apa aku benar-benar seburuk itu?” Tangisnya pelan, agar tidak terdengar siapa pun.

Masa SD mengajarkannya satu hal yang tidak seharusnya dipelajari anak kecil: bagaimana caranya bertahan dari rasa sakit.

Ketika kelulusan tiba, teman-temannya menangis karena perpisahan. Chaniee tidak. Ia hanya merasa lega. Ia berharap SMP akan menjadi awal baru, meski di dalam hatinya tersimpan ketakutan yang besar.Masuk SMP, hari pertama terasa menakutkan. Chaniee kembali duduk di bangku belakang, mengamati sekitar dengan hati-hati. Ia takut sejarah akan terulang. Takut diejek. Takut diremehkan. Takut kembali merasa sendirian di tengah keramaian.

Namun hari demi hari berlalu dengan cara yang berbeda.Ada teman yang menyapanya lebih dulu,ada yang menungguinya saat istirahat dan ada yang mendengarkan ceritanya tanpa tertawa meremehkan.

Chaniee sempat bingung. Ia menunggu ejekan itu datang, tapi tidak pernah muncul. Di SMP, ia bukan gadis yang dianggap tidak bisa apa-apa. Ia hanyalah Chaniee seorang murid biasa yang dihargai.Ia mulai berani berbicara,mulai berani tertawa,mulai berani menjadi dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, Chaniee merasa bahwa keberadaannya berarti. Ia punya teman yang mengingat namanya, yang menyapanya dengan tulus, yang tidak menjadikannya bahan olokan. Luka lama memang tidak langsung hilang, tapi perlahan tidak lagi berdarah.

Meski begitu, ada satu perasaan yang kadang datang tanpa diundang: iri.Saat teman-temannya bercerita tentang masa SD mereka tentang permainan sepulang sekolah, tentang tawa di kelas, tentang kenangan manis Chaniee hanya tersenyum tipis. Ia tidak punya cerita seperti itu. Masa SD-nya kosong dari kebahagiaan, penuh oleh rasa takut dan air mata yang disembunyikan.Ia iri, bukan karena membenci mereka, tapi karena ia tidak pernah punya pilihan untuk merasakan hal yang sama.

Namun seiring waktu, Chaniee mulai memahami sesuatu.Tidak semua orang tumbuh dengan kenangan indah, dan itu bukan kesalahan mereka.Tidak semua luka terlihat, tapi semua luka membentuk kekuatan.Kini, Chaniee tahu bahwa masa lalunya tidak menentukan nilainya. Ia mungkin tidak memiliki kenangan indah tentang SD, tetapi ia memiliki keberanian untuk terus melangkah. Ia adalah gadis yang pernah diremehkan, namun tidak pernah benar-benar kalah.Dan di setiap langkahnya sekarang, Chaniee membawa satu keyakinan bahwa dirinya pantas bahagia,pantas dihargai,dan pantas memiliki masa depan yang lebih baik.

Berita Terkait

Yori And His Curiosity
Harapan Yang Tersimpan Di Kotak Abu
Rapuh Di Tengah Keluarga Yang Ricuh
Detak Yang Menyelamatkan
Bangka Tempatku Bercerita
Perjalanan Risa Di Dunia Perkuliahan 
Tawa Di Balik Bangku
Hutan Yang Berbicara

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 01:13 WIB

BNCT: Harhubnas Momentum Perkuat Konektivitas Antardaerah Dan Arus Barang

Kamis, 17 September 2026 - 23:41 WIB

Kanwil Ditjenpas Sumut Silaturahmi dengan Danpas Brimob I Korbrimob Polri, Perkuat Sinergitas dan Pengamanan Pemasyarakatan

Kamis, 17 September 2026 - 23:34 WIB

Kanwil Ditjenpas Sumut Dorong Penguatan Pengawasan Klien Reintegrasi Melalui Sosialisasi dan FGD Kelayan Binter Bapas Medan

Kamis, 17 September 2026 - 21:41 WIB

kepala Bapas Kls 1 Medan Kriston   Napitupulu A.Md.IP., S.H.,Perkuat Kolaborasi Pembimbingan Klien Pemasyarakatan melalui Kelayan Binter

Kamis, 17 September 2026 - 21:32 WIB

Polsek Siantar Martoba Selesaikan Dugaan Perkelahian di Jalan Rondahaim Dengan Problem Solving 

Kamis, 17 September 2026 - 21:28 WIB

Kapolda Sumut Lantik Sejumlah Pejabat Baru, Tekankan Profesionalisme dan Responsivitas

Kamis, 17 September 2026 - 21:14 WIB

Bapas Medan Gandeng Camat, Lurah, TNI-Polri, Tokoh Agama dan Pokmas Lipas Dalam FGD Kelayan Binter

Kamis, 17 September 2026 - 20:54 WIB

Pastikan Kesiapan Sarana Kesehatan, Kalapas Perempuan Kls IIA Medan Kontrol Area Klinik

Berita Terbaru