( foto istimewa sang penulis Jihan Fauziah Fahrani)
Penulis: Jihan Fauziah Fahrani.Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Sejak itu…
rumah tak lagi ramai,
hanya menyisakan sepi
yang duduk bersamaku
setiap malam.
Kehilangan mengajarkanku
makna rindu
rindu yang tak bersuara,
namun berat di dada,
dan tak pernah benar-benar pergi.
Aku anak satu-satunya
yang belajar menjadi kuat,
tanpa sempat bertanya
apakah aku siap,
atau sekadar dipaksa bertahan.
Di antara ingatanku,
masih ada perjalanan itu:
obrolan sederhana di atas motor,
angin, jalan, dan tawa kecil
yang kini tinggal kenangan.
Ayah, Ibu…
rinduku pada kalian tak pernah usai.
Sayangku tetap utuh,
meski luka kerap menyertai
doa-doa yang kupeluk sendiri.
Aku berjalan membawa sepi,
namun tak kubiarkan ia
mematikan harap.
Sebab aku percaya,
Tuhan tak menuliskan perpisahan
tanpa sebuah pertemuan.
Dan bila dunia ini
tak memberi kesempatan
untuk kembali berkumpul,
biarlah surga menjadi rumah
tempat kita bersatu kembali.


































