Oleh: [SAMSUL EDY.,S.Hut.,M.Kv]
Pemred Media Timelinesinews Investigasi
Tanggal 05 April 2026
Jakarta – Janji bekerja di Australia dengan gaji hingga Rp65 juta per bulan beredar luas di TikTok dan grup WhatsApp. Tawaran itu terdengar menggiurkan: tanpa batas usia, tanpa kemampuan bahasa Inggris, dan biaya awal ditanggung.
Salah satu akun tiktok @pekerja.oz yang diduga dipimpin oleh HRD Andriani, nama ini disebut sebut didalam beberapa tayangan video tiktok nya seorang sosok yang mampu membuka lapangan kerja bagi pelamar kerja yang berusia maksimal 60 tahun, pihak tim investigasi hingga saat ini belum bisa mendapatkan konfirmasi tentang video tersebut adalah sosok Andriani asli, atau bila asli apakah video tersebut telah dimanfaatkan oleh pihak lain yang ingin mencari keuntungan pribadi sehingga merusak nama baik HRD Andriani, atau diduga HRD Andriani ini memang terlibat langsung dalam kegiatan ilegal ini.
Namun, di balik narasi tersebut, investigasi menemukan indikasi kuat praktik penipuan terstruktur—mulai dari penjualan sertifikat IELTS instan, ketiadaan identitas perusahaan, hingga dugaan manipulasi dalam pengelolaan grup calon pekerja.
Janji Manis, Realitas Janggal
Materi kampanye yang disebarkan akun @pekerja.oz diduga HRD Andriani menawarkan sejumlah fasilitas yang tampak menarik:
Gaji Rp65 juta per bulan, Visa sponsor Australia (DAMA / subclass 482), Tidak perlu bahasa Inggris, Usia hingga 60 tahun, Sistem dana talang (potong gaji 10%), Lowongan bahkan diperluas ke sektor pertambangan, driver, hingga pekerjaan rumah tangga dengan klaim gaji mencapai Rp100 juta per bulan.
Namun, klaim tersebut tidak sejalan dengan sistem ketenagakerjaan maupun kebijakan imigrasi Australia yang ketat dan berbasis kualifikasi.
🚨 IELTS Instan: Titik Paling Kritis
Temuan paling fatal dalam investigasi ini adalah penawaran sertifikat IELTS tanpa ujian.
> “IELTS Rp950 ribu, 1 jam jadi PDF tanpa ujian.” bahkan ada diskon nya menjadi Rp.500 ribu pada hari hari tertentu bagi pelamar yang melamar pada saat tertentu.
Klaim ini tidak mungkin terjadi dalam sistem resmi.
Bagaimana IELTS sebenarnya bekerja?
IELTS (International English Language Testing System) dikelola oleh British Council, IDP, Cambridge Assessment English.
Prosesnya Harus mengikuti ujian resmi, Hasil keluar sekitar 3–13 hari,
Sertifikat Berupa Test Report Form (TRF), Memiliki nomor unik, Bisa diverifikasi secara online
👉 Artinya, tidak ada: IELTS instan dan IELTS tanpa ujian tida ada Sertifikat jadi dalam 1 jam via WhatsApp
➡️ Kesimpulan: Penawaran tersebut merupakan indikasi kuat pemalsuan dokumen (document fraud).
⚖️ Dampak Hukum: Tidak Main-main
Praktik ini berpotensi melanggar hukum di dua negara.
Di Indonesia.
Pelaku dapat dijerat Pasal 263 KUHP (Pemalsuan Dokumen), Ancaman hingga 6 tahun penjara, Pasal 378 KUHP (Penipuan), UU No. 18 Tahun 2017 (PMI Ilegal)
Di Australia.
Jika dokumen palsu digunakan: 👉 Dikategorikan sebagai Visa fraud, Misrepresentation
Konsekuensi Visa ditolak, Deportasi, Blacklist imigrasi, Larangan masuk Australia bertahun-tahun
Dari TikTok ke WhatsApp: Skema Bertahap
Pola rekrutmen menunjukkan alur yang sistematis:
1. Menarik korban melalui TikTok
2. Mengarahkan ke WhatsApp dan Telegram.
3. Meminta dokumen awal
4. Menawarkan “IELTS instan”
5. Memasukkan ke grup pekerja
6. Menjual slot kloter keberangkatan
Metode ini dikenal sebagai funnel scam, di mana korban dibangun kepercayaannya sebelum dimonetisasi.
Pelamar di giring dari Wa admin satu sampai admin 3, adapun nomor Wa Admin yaitu:
1. untuk bayar uang muka sebesar Rp.400.000 untuk sertifikat IELTS di nomor (+62 851-2131-XXXX),
2. untuk bayar uang pelunasan sebesar Rp.550.000 untuk sertifikat IELTS di nomor (+62 851-1120-XXXX),
3. untuk bayar uang Kloter keberangkatan kerja sebesar Rp.1.500.000 untuk Kloter Mei, Rp.1.juta untuk kloter Juni, Rp.500.ribu untuk kloter Juli, untuk kloter November Gratis, semua urusan arahkan ke nomor (+62 851-2157-XXXX).
Surat MCU yang Tak Sinkron dengan Identitas Bisnis Resmi
Setelah semua lunas, maka pihak HRD Andriani mengirim kan surat pengantar MCU di rumah sakit pusat maupun rumah sakit setempat agar pada saat pelaksanaan MCU pada jadwal surat dilaksanakan nanti nya biaya akan di tanggung oleh HRD Andriani dengan cara pihak RSU setempat agar menelepon HRD Andriani di nomor WA : (0851-2156-95XX),
Salah seorang pelamar bernama inisial ‘E’ juga sempat menghubungi nomor HRD Andriani ini untuk konfirmasi, ‘E’ mengatakan bahwa pihak rumah sakit pasti keberatan dengan surat ini, karena RSU merasa tidak ada kepentingan untuk menghubungi pihak HRD Andriani, dan bagaimana bila nanti apabila RSU setempat menelepon pihak HRD Andriani apakah ada jaminannya pihak HRD Andriani merespon nya? Permasalahan didalam surat tidak tertulis alamat resmi perusahaan, hanya ada nomor WA HRD Andriani saja yang bahkan selama ini tidak pernah aktif melakukan penelponan saja selalu aktifnya DM atau Chat WA, Tanya ‘E’ , namun Nomor yang mengaku HRD Andriani hanya menjawab “tunggu aja sesuai jadwal”.
Disini lah muncul kekhawatiran ‘E’ kalau ini benar kecurigaan nya penipuan, maka biaya MCU yang lumayan mahal akan dibayar sendiri oleh dirinya ‘E’ selanjutnya nanti setelah dibayar, apa gunanya Hasil MCU itu ? Pada akhir nya nanti dirinya merasa kena PRANK oleh nomor WA tang mengaku HRD Andriani yang saat ini wajah orang nya cuma dilihat melalui foto dan video saja, belum pernah interaksi langsung.
Analisa surat pengantar MCU oleh tim investigasi:
Investigasi juga menelusuri sebuah dokumen yang disebut sebagai “surat pengantar medical check up (MCU)” yang diklaim berasal dari perusahaan bernama Cutri Farm Company di Woorinen, Victoria, Australia.
Sekilas, surat tersebut tampak meyakinkan karena mencantumkan alamat di Australia serta nama perusahaan yang terdengar serupa dengan bisnis hortikultura yang memang ada di wilayah tersebut. Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut, ditemukan sejumlah ketidaksesuaian mendasar.
Penelusuran publik menunjukkan adanya entitas bisnis bernama Cutri Fruit yang beroperasi di Woorinen, Victoria. Namun, nama yang digunakan dalam surat adalah “Cutri Farm Company”, yang tidak ditemukan dalam basis data bisnis publik maupun informasi resmi yang dapat diverifikasi.
Selain perbedaan nama entitas, surat tersebut juga tidak mencantumkan unsur penting yang lazim terdapat dalam dokumen korporat internasional, seperti:
nomor registrasi perusahaan (ABN/ACN), alamat email resmi perusahaan, nomor telepon kantor di Australia, identitas penandatangan yang dapat diverifikasi,
Sebaliknya, surat justru mengarahkan komunikasi dan konfirmasi biaya kepada nomor WhatsApp pribadi di Indonesia.
Lebih jauh, terdapat ketidakkonsistenan lain, seperti perbedaan kode pos dengan alamat yang digunakan oleh bisnis resmi di lokasi yang sama, serta penggunaan bahasa Indonesia penuh dalam dokumen yang diklaim berasal dari perusahaan Australia.
Struktur surat juga dinilai tidak lazim: tidak mencantumkan penerima secara spesifik, tidak memiliki tanggal surat yang jelas, serta menggunakan format dan tata bahasa yang tidak sesuai dengan standar komunikasi korporat lintas negara.
Dalam praktik bisnis internasional, terutama yang berkaitan dengan rekrutmen tenaga kerja dan proses medis untuk visa, dokumen resmi umumnya:
dapat diverifikasi secara independen, menggunakan kanal komunikasi resmi perusahaan, dan tidak bergantung pada kontak pribadi seperti WhatsApp.
Ketidaksesuaian antara nama entitas, format dokumen, serta mekanisme komunikasi tersebut memperkuat dugaan bahwa surat ini tidak autentik atau setidaknya tidak dapat diverifikasi sebagai dokumen resmi perusahaan di Australia.
Temuan ini menjadi bagian penting dalam menguatkan indikasi bahwa proses rekrutmen yang ditawarkan tidak transparan dan berpotensi menyesatkan calon pekerja.
Grup Tertutup dan Minim Transparansi
Sejumlah pelamar mengaku telah membayar biaya namun kemudian ada pelamar yang dikeluarkan dari grup tanpa pengembalian dana.
Salah satu korban berinisial ‘V’ dan ‘J’ mengaku dikeluarkan setelah meminta transparansi.
> “Saya cuma minta Sekali kali HRD Andriani Live jangan DM aja. Tiba-tiba dikeluarkan, uang tidak dikembalikan,” ujar ‘V’
Menurut ‘J’, grup yang dibuat sebagai pusat koordinasi justru minim interaksi. Admin jarang memberikan arahan dan bimbingan sebelum berangkat, sementara komunikasi berlangsung satu arah.
Ketika ‘J’ membuat grup diskusi sesama pelamar, ia justru dilaporkan oleh anggota yang diduga bagian dari admin juga, lalu ‘J’ dikeluarkan tanpa kompensasi. Ternyata didalam grup tersebut tidak semuanya anggota pelamar asli, namun ada juga beberapa Admin yang menyamar seolah olah olah Pelamar untuk meramaikan Grup WA namun aslinya adalah bagian dari komplotan Agensi ilegal ini.
ketika ‘V’ melakukan interaksi dengan cara japri masing masing kontak WA didalam grup, banyak yang tidak merespon, hanya beberapa orang saja pelamar yang merespon dan ikut bergabung di dalam grup diskusi yang dibuat oleh ‘J’,
‘J’ Sempat dihubungi oleh admin (+62 851-2157-24XX) memberikan teguran bahwa ‘J’ telah menghasut anggota pelamar kerja lainnya di kloter Juli, seharusnya ‘J’ ikuti aja dulu proses nya baik itu benar atau tidak grup tersebut jelas admin kepada J, selanjutnya nomor WA ‘J’ dikeluarkan dari semua grup WA dan diblokir dari semua nomor admin tanpa ada kejelasan kompensasi pengembalian biaya.
Identitas Perusahaan Tidak Jelas
Investigasi tidak menemukan Nama perusahaan Indonesia, Perusahaan tidak berbadan Hukum, Izin resmi P3MI tidak ada, Alamat kantor Identitas sponsor di Australia tidak ada.
Padahal, penempatan pekerja migran Indonesia wajib melalui jalur resmi yang diatur negara.
⚖️ Potensi Pelanggaran Hukum Serius
UU No. 18 Tahun 2017, 👉 Pasal 69–71: Penempatan harus melalui BP2MI, atau P3MI resmi.
➡️ Tanpa itu: ilegal
Sanksi Penjara hingga 10 tahun, Denda miliaran rupiah
Pasal 378 KUHP Jika terdapat kebohongan, janji palsu, penarikan uang.
UU No. 21 Tahun 2007 (TPPO) Jika berujung pada eksploitasi, penempatan ilegal, penyalahgunaan visa
Istilah Visa Digunakan Secara Menyesatkan.
Akun tersebut menyebut DAMA dan visa 482. Namun: Visa 482 untuk pekerja terampil, Wajib kemampuan bahasa Inggris, Tidak umum untuk pekerjaan petik buah.
Penggunaan istilah ini menunjukkan adanya distorsi informasi untuk membangun kesan legalitas.
Risiko Nyata bagi Korban, Kehilangan uang, Penyalahgunaan data pribadi, Penggunaan dokumen palsu, Deportasi, Eksploitasi kerja
Kesimpulan: Pola Dugaan Penipuan Terstruktur.
Seluruh temuan menunjukkan pola yang konsisten: Dokumen tidak sah, Identitas tidak jelas, Sistem tertutup, Transaksi tidak transparan
> Indikasi kuat dugaan penipuan terstruktur yang berpotensi melanggar hukum pidana dan ketenagakerjaan.
Catatan untuk Publik
Bekerja ke luar negeri memang bisa melalui berbagai jalur, termasuk mandiri. Namun: harus legal, harus transparan, harus dapat diverifikasi
Jika sebuah lowongan tidak memiliki identitas jelas hanya beroperasi melalui WhatsApp, menawarkan dokumen instan, meminta pembayaran tanpa dasar publik perlu waspada.
> “Jika terdengar terlalu mudah, kemungkinan besar itu bukan peluang—melainkan jebakan.”
Harapan Korban dan Desakan Penegakan Hukum
Sejumlah korban berharap agar aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian Republik Indonesia melalui Mabes Polri, dapat segera mengusut tuntas dugaan kasus ini dan menindak para pelaku sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Selain itu, publik juga mendesak agar instansi terkait mengambil langkah konkret, termasuk upaya hukum serta pemblokiran terhadap akun dan saluran yang diduga digunakan sebagai sarana perekrutan ilegal.
Hingga saat ini, aktivitas perekrutan masih terus berlangsung. Jumlah pendaftar disebut telah mencapai ratusan orang, sementara pengikut (followers) pada saluran WhatsApp terkait telah mencapai sekitar 8.000 pengguna. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi bertambahnya korban baru.
Adapun akun dan saluran yang diduga terkait antara lain:
Akun TikTok: @pekerja.oz
https://www.tiktok.com/@pekerja.oz?_r=1&_t=ZS-950fKJYt5lN
Saluran WhatsApp:
PENDAFTARAN IELTS (diduga palsu):
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7KAGJ9Gv7UDsmApH3K
INFO LOKER AUSTRALIA (diduga palsu):
https://whatsapp.com/channel/0029Vb6xAoRI1rcqOj15mq2q
TESTIMONI IELTS (diduga palsu):
https://whatsapp.com/channel/0029VbCQt016rsQzn0dFLn1q
Saluran-saluran tersebut diketahui mengarahkan pelamar untuk berkomunikasi lebih lanjut secara privat dengan sejumlah nomor admin WhatsApp. Pola ini dinilai semakin memperkuat indikasi praktik rekrutmen tidak transparan yang berpotensi merugikan masyarakat luas.
Saat ini redaksi sudah melakukan konfirmasi Secara resmi via WA Redaksi kepada semua admin akun tiktok @pekerja.oz maupun @pekerja.australia, namun tidak ada tanggapan dan balasan dari WA, adapun nomor yang kami konfirmasi dinomor sbb :
+62 851-1120-02XX
+62 851-2131-57XX
+62 851-2156-95XX
+62 851-2157-24XX
+62 851-2157-18XX
+62 896-1689-2XX
Bahkan pihak redaksi juga sudah mengirimkan surat email ke perusahaan Cutri Farm Company di Woorinen, Victoria, Australia. email : @cutrifruit.com.au untuk meminta konfirmasi apakah benar HRD Andriani benar sebagai karyawan di perusahaan tersebut, namun hingga saat ini tidak balasan.
Berikut isi surat nya :
Dear Sir/Madam,
I hope this message finds you well.
I am writing to request verification regarding a document that references your organization and a company located at:
38 Byrnes Road, Woorinen, Victoria, Australia
The document is issued under the name “Cutri Farm Company” and includes a QR code that redirects to the Victorian Farmers Federation (VFF) website.
In the letter, there is a person named:
Mr. Andriani (HRD)
I would like to kindly confirm the following:
Whether “Cutri Farm Company” is officially registered or affiliated with your organization.
Whether the individual named “Mr. Andriani” is an official representative or HR personnel of the company.
Whether this type of medical check-up authorization letter is commonly issued and recognized.
For your reference
, I have attached the document in question.
Your clarification is very important to me to ensure the authenticity of this matter.
Thank you for your time and assistance.
Kind regards,
MEDIA TIMELINES INEWS INVESTIGASI
https://www.timelinesinews.com/


































