TLii|Aceh|Medan — Panggung Yudisium Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Kamis, 7 Mei 2026, mendadak berubah menjadi ruang refleksi keras ketika Teuku Kemal Fasya melontarkan pidato tajam yang menyentil arah moral kaum akademisi Indonesia.
Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh itu tampil sebagai wakil wisudawan doktor dan menyampaikan pesan yang jauh dari basa-basi seremonial.
Di hadapan para lulusan magister dan doktor, ia mengingatkan bahwa gelar akademik tertinggi tidak boleh berubah menjadi simbol kesombongan intelektual yang kehilangan nurani kemanusiaan.
Dalam pidatonya, Kemal Fasya menegaskan bahwa dunia pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab moral yang besar: menjaga kemanusiaan, merawat harapan, dan melawan segala bentuk kerusakan sosial maupun ekologis.
“Tugas pendidikan tinggi adalah mempromosikan kebaikan, harapan, kemanusiaan, dan keadilan, serta menolak katastrofi dan penderitaan,” tegasnya di hadapan peserta yudisium.
Pernyataan itu terasa seperti sindiran telak terhadap realitas hari ini, ketika tidak sedikit kaum terdidik justru sibuk mengejar jabatan, proyek, dan kenyamanan pribadi, sementara suara rakyat kecil makin tenggelam.
Dalam pidato yang sarat muatan filosofis, ia mengutip pemikiran filsuf Jerman Martin Heidegger tentang Sein zum Tode — manusia yang harus memberi makna sebelum kematian datang. Bagi Kemal Fasya, pendidikan bukan sekadar alat mencari status sosial, tetapi jalan pengabdian terhadap kehidupan.
Tak berhenti di situ, ia juga menyitir pemikiran Paulo Freire melalui konsep Pedagogy of Hope. Ia mempertanyakan arah pendidikan saat ini: apakah kampus benar-benar melahirkan manusia berdaya, atau justru menghasilkan generasi yang tenggelam dalam budaya hiburan dan kesenangan semu.
Sindiran itu diperkuat dengan kutipan kritis dari pengamat media Neil Postman tentang manusia modern yang “menghibur diri sampai mati”.
“Apakah pendidikan kita melahirkan manusia yang sadar dan berdaya, atau hanya menjadi homo ludens yang sibuk bermain dan berfoya-foya?” ujarnya tajam.
Pidato tersebut sontak menjadi perhatian karena dinilai berbeda dari pidato akademik pada umumnya yang cenderung formal dan aman. Kemal Fasya justru membawa kegelisahan sosial, kritik moral, hingga isu lingkungan ke tengah forum akademik.
Ia bahkan menyinggung pentingnya menjaga ruang hijau dan ekologi kampus.
Menurutnya, keberadaan pohon-pohon di lingkungan USU bukan sekadar penghias, melainkan simbol keberpihakan terhadap kehidupan dan masa depan bumi.
Di penghujung pidato, suasana berubah haru ketika doktor dengan IPK 3,94 itu mengajak seluruh wisudawan untuk mengingat jasa orang tua.
Peraih gelar doktor Program Perencanaan Wilayah dengan disertasi berjudul “Dampak Tragedi Cumbok Dalam Konteks Pembangunan Rekonsiliasi Aceh” itu meminta para lulusan tidak melupakan doa dan rasa terima kasih kepada orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
“Mungkin kita tidak mendapatkan orang tua ideal seperti harapan, tetapi mereka tetap orang tua yang wajib didoakan sepanjang hidup,” ucapnya.
Wisuda USU sendiri berlangsung pada 8–9 Mei 2026 dan menjadi wisuda angkatan ketiga tahun akademik 2025/2026. Namun di tengah gegap gempita toga dan gelar, pidato Teuku Kemal Fasya meninggalkan satu pesan keras: ilmu tanpa keberpihakan pada kemanusiaan hanyalah kesombongan yang dibungkus akademik.



























