Teuku Kemal Fasya “Tampar” Kaum Intelektual di Panggung Yudisium USU: Gelar Tinggi Jangan Berujung Jadi Penonton Kehancuran

RAMAZANI

- Redaksi

Minggu, 10 Mei 2026 - 14:51 WIB

50123 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii|Aceh|Medan — Panggung Yudisium Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Kamis, 7 Mei 2026, mendadak berubah menjadi ruang refleksi keras ketika Teuku Kemal Fasya melontarkan pidato tajam yang menyentil arah moral kaum akademisi Indonesia.

 

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh itu tampil sebagai wakil wisudawan doktor dan menyampaikan pesan yang jauh dari basa-basi seremonial.

 

 

Di hadapan para lulusan magister dan doktor, ia mengingatkan bahwa gelar akademik tertinggi tidak boleh berubah menjadi simbol kesombongan intelektual yang kehilangan nurani kemanusiaan.

 

 

Dalam pidatonya, Kemal Fasya menegaskan bahwa dunia pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab moral yang besar: menjaga kemanusiaan, merawat harapan, dan melawan segala bentuk kerusakan sosial maupun ekologis.

 

 

“Tugas pendidikan tinggi adalah mempromosikan kebaikan, harapan, kemanusiaan, dan keadilan, serta menolak katastrofi dan penderitaan,” tegasnya di hadapan peserta yudisium.

 

 

 

Pernyataan itu terasa seperti sindiran telak terhadap realitas hari ini, ketika tidak sedikit kaum terdidik justru sibuk mengejar jabatan, proyek, dan kenyamanan pribadi, sementara suara rakyat kecil makin tenggelam.

 

 

Dalam pidato yang sarat muatan filosofis, ia mengutip pemikiran filsuf Jerman Martin Heidegger tentang Sein zum Tode — manusia yang harus memberi makna sebelum kematian datang. Bagi Kemal Fasya, pendidikan bukan sekadar alat mencari status sosial, tetapi jalan pengabdian terhadap kehidupan.

 

 

Tak berhenti di situ, ia juga menyitir pemikiran Paulo Freire melalui konsep Pedagogy of Hope. Ia mempertanyakan arah pendidikan saat ini: apakah kampus benar-benar melahirkan manusia berdaya, atau justru menghasilkan generasi yang tenggelam dalam budaya hiburan dan kesenangan semu.

 

 

Sindiran itu diperkuat dengan kutipan kritis dari pengamat media Neil Postman tentang manusia modern yang “menghibur diri sampai mati”.

 

 

“Apakah pendidikan kita melahirkan manusia yang sadar dan berdaya, atau hanya menjadi homo ludens yang sibuk bermain dan berfoya-foya?” ujarnya tajam.

 

 

Pidato tersebut sontak menjadi perhatian karena dinilai berbeda dari pidato akademik pada umumnya yang cenderung formal dan aman. Kemal Fasya justru membawa kegelisahan sosial, kritik moral, hingga isu lingkungan ke tengah forum akademik.

Ia bahkan menyinggung pentingnya menjaga ruang hijau dan ekologi kampus.

 

 

Menurutnya, keberadaan pohon-pohon di lingkungan USU bukan sekadar penghias, melainkan simbol keberpihakan terhadap kehidupan dan masa depan bumi.

Di penghujung pidato, suasana berubah haru ketika doktor dengan IPK 3,94 itu mengajak seluruh wisudawan untuk mengingat jasa orang tua.

 

 

Peraih gelar doktor Program Perencanaan Wilayah dengan disertasi berjudul “Dampak Tragedi Cumbok Dalam Konteks Pembangunan Rekonsiliasi Aceh” itu meminta para lulusan tidak melupakan doa dan rasa terima kasih kepada orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

 

 

“Mungkin kita tidak mendapatkan orang tua ideal seperti harapan, tetapi mereka tetap orang tua yang wajib didoakan sepanjang hidup,” ucapnya.

 

 

Wisuda USU sendiri berlangsung pada 8–9 Mei 2026 dan menjadi wisuda angkatan ketiga tahun akademik 2025/2026. Namun di tengah gegap gempita toga dan gelar, pidato Teuku Kemal Fasya meninggalkan satu pesan keras: ilmu tanpa keberpihakan pada kemanusiaan hanyalah kesombongan yang dibungkus akademik.

Berita Terkait

Sabam Sinaga Upayakan  Mengusulkan 2.000 Siswa Silaen Terima Bantuan PIP Tahun 2026
Kanwil Imigrasi Sumut Teguhkan Komitmen, Laksanakan Penandatanganan Pakta Integritas Seleksi Taruna Poltekimipas TA 2026
Rutan Kelas IIB Tanjung Siap Perkuat 3 Layanan Prioritas Hasil Evaluasi Menteri Imipas
Rutan Kelas IIB Tanjung Optimalkan Kebun SAE, WBP Ikuti Penyemaian Bibit Tomat
Tari Kreasi Nusantara SMA Negeri 7 Lhokseumawe Curi Perhatian di Hardikda Aceh ke-67
Temui Kapolda Aceh, Ketua Baitul Mal Bahas Kemaslahatan Masyarakat
19 Kepala KUA Aceh Besar Dilantik, Yahwa Tegaskan KUA Bukan Sekadar Urus Nikah
Polisi Amankan Mobil Angkut 600 Liter BBM Subsidi Jenis Bio Solar di Banda Aceh

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 18:33 WIB

Sabam Sinaga Upayakan  Mengusulkan 2.000 Siswa Silaen Terima Bantuan PIP Tahun 2026

Rabu, 2 September 2026 - 18:11 WIB

Kanwil Imigrasi Sumut Teguhkan Komitmen, Laksanakan Penandatanganan Pakta Integritas Seleksi Taruna Poltekimipas TA 2026

Rabu, 2 September 2026 - 18:05 WIB

Rutan Kelas IIB Tanjung Siap Perkuat 3 Layanan Prioritas Hasil Evaluasi Menteri Imipas

Rabu, 2 September 2026 - 17:30 WIB

Rutan Kelas IIB Tanjung Optimalkan Kebun SAE, WBP Ikuti Penyemaian Bibit Tomat

Rabu, 2 September 2026 - 17:01 WIB

Tari Kreasi Nusantara SMA Negeri 7 Lhokseumawe Curi Perhatian di Hardikda Aceh ke-67

Rabu, 2 September 2026 - 16:51 WIB

19 Kepala KUA Aceh Besar Dilantik, Yahwa Tegaskan KUA Bukan Sekadar Urus Nikah

Rabu, 2 September 2026 - 14:02 WIB

Polisi Amankan Mobil Angkut 600 Liter BBM Subsidi Jenis Bio Solar di Banda Aceh

Rabu, 2 September 2026 - 13:30 WIB

Peserta PKKPM Gelombang II IAIN Takengon Dampingi Penyerahan Al-Qur’an Wakaf dari Arab Saudi di Pantan Nangka

Berita Terbaru