Foto: Kepala Dinas Sosial Aceh,Budi Afrizal, S.KM., M.KM.Rabu (3/6/2026) Dok.Dinsos
TLii | BANDA ACEH – Dinas Sosial (Dinsos) Aceh menyatakan kesiapan penuh mendukung program Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) dalam pembentukan dan penguatan Kampung Siaga Bencana (KSB) di lima kabupaten/kota rawan bencana di Aceh. Program ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 7 Juni hingga 6 Juli 2026 sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program KSB Pascabencana Sumatera yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI melalui Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana.
Program ini mengacu pada Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera untuk mempercepat pemulihan sosial masyarakat terdampak bencana sekaligus memperkuat kesiapsiagaan di wilayah rawan bencana.
Kepala Dinas Sosial Aceh, Budi Afrizal, S.KM., M.KM., mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari pembentukan tim provinsi dan daerah hingga koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota terkait rekomendasi pembentukan KSB, lokasi kegiatan, sarana dan prasarana pendukung, armada siaga bencana, serta Rescue Tactical Unit (RTU) yang akan dilibatkan dalam simulasi kebencanaan.
“Program KSB merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat yang menempatkan warga sebagai garda terdepan dalam penanggulangan bencana. Ini penting karena Aceh masih menghadapi risiko banjir, cuaca ekstrem, dan berbagai bencana hidrometeorologi lainnya,” ujar Budi.
Setiap KSB akan melibatkan 60 relawan yang berasal dari Masyarakat desa-desa rawan bencana.
Para relawan akan mendapatkan pelatihan komprehensif mengenai manajemen bencana, identifikasi risiko dan kerentanan, penyusunan rencana aksi, pemetaan kawasan rawan bencana, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pengelolaan gardu sosial, hingga lumbung sosial.
Selain itu, peserta juga akan dibekali keterampilan evakuasi, pengelolaan logistik, pendirian dapur umum, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat saat kondisi darurat. SOP yang disusun nantinya akan diuji melalui gladi lapangan dan simulasi kebencanaan.
Dalam pelaksanaannya, Kemensos RI turut menggandeng perguruan tinggi untuk memberikan dukungan akademik, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tiga perguruan tinggi yang diundang dalam kegiatan ini adalah Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Andalas (Unand), dan Universitas Syiah Kuala (USK).
Keterlibatan dosen dan mahasiswa diharapkan dapat memperkuat implementasi program berbasis ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Kemensos RI dijadwalkan menghadiri peluncuran perdana program di Kota Langsa.
Kegiatan ini menjadi langkah awal penguatan sistem kesiapsiagaan masyarakat berbasis komunitas di Aceh.
Sementara itu, Subkoordinator Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) Dinsos Aceh yang juga Ketua Tim Pembentukan KSB Aceh, Yanyan Rahmad, A.Ks., M.Si., menyatakan timnya siap diterjunkan sesuai jadwal pelaksanaan di lima daerah, yakni.- Kota Langsa (7–12 Juni 2026),
– Aceh Timur (13–18 Juni 2026),
– Aceh Utara (19–24 Juni 2026),
– Pidie Jaya (25–30 Juni 2026), dan
– Kabupaten Pidie (1–6 Juli 2026).
Melalui program ini, Kemensos RI berharap masyarakat Aceh semakin tangguh, mandiri, dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan secara optimal.*[Yahbit]



























