TLii|Aceh|ACEH UTARA — Delapan abad perjalanan Samudera Pasai kembali menjadi sorotan. Peringatan 800 tahun kerajaan bersejarah tersebut di Aceh Utara tidak hanya berbicara tentang kejayaan masa lampau, tetapi juga bagaimana generasi sekarang memahami dan menjaga warisan yang ditinggalkan para pendahulu. (Senin/07/2026).
Ketua Panitia Pelaksana Peringatan 800 Tahun Samudera Pasai dan Aceh Utara, Muhammad Joni, S.H., mengatakan sejarah kejayaan Samudera Pasai perlu diwariskan kepada generasi berikutnya agar nilai-nilai peradaban yang pernah tumbuh di wilayah tersebut tidak terputus.
Menurutnya, Samudera Pasai memiliki catatan penting dalam perkembangan Islam dan peradaban di Nusantara. Karena itu, peringatan delapan abad harus dimanfaatkan untuk melihat kembali perjalanan masa lalu sekaligus mengambil pelajaran bagi pembangunan masa depan.
“Tujuannya adalah agar kita bisa mewariskan nilai-nilai sejarah. Zaman dulu kita megah di semua sektor, terutama keagamaan sebagai pusat penyiaran Islam di Nusantara,” ujar Joni saat diwawancarai di Lhoksukon, Senin (7/9/2026).
Rangkaian peringatan 800 tahun itu sendiri mulai bergerak sejak Minggu (6/9/2026). Sejumlah agenda telah dilaksanakan, termasuk ziarah ke makam para leluhur Samudera Pasai dan sidang paripurna di DPRK Aceh Utara.
Memasuki Senin, kegiatan dilanjutkan dengan upacara pengibaran bendera wilayah Pasai dan Aceh Utara. Pada malam harinya, perhatian masyarakat akan tertuju pada Festival Kebudayaan “Hiasan Pasai” yang dijadwalkan berlangsung hingga 13 September 2026.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali sejarah Samudera Pasai di tengah masyarakat, terutama anak-anak muda yang menjadi generasi penerus daerah.
Joni berharap berbagai kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan daerah.
“Peringatan ke-800 tahun ini menjadi momentum untuk melihat ke belakang sekaligus melangkah ke depan demi menjaga marwah dan masa depan generasi Aceh Utara,” katanya.
Jangan Sekadar Meriah, Warisan Harus Dijaga
Bagi panitia, peringatan delapan abad tidak akan banyak berarti jika hanya berhenti pada kemeriahan kegiatan. Jejak Samudera Pasai dinilai harus mampu diterjemahkan menjadi pengetahuan dan semangat bagi masyarakat dalam membangun Aceh Utara.
Joni menilai kejayaan masa lalu tidak cukup hanya dikenang melalui cerita atau perayaan tahunan. Nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah, menurutnya, perlu diterjemahkan menjadi semangat untuk membangun daerah.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan menjaga keamanan serta ketertiban selama rangkaian kegiatan berlangsung. Pelaksanaan kegiatan juga diharapkan tetap menghormati nilai-nilai syariat Islam yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh.
“Kami memohon dukungan dari semua pihak untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Terutama di bidang syariat Islam, agar acara yang mulia ini tidak tercemar oleh hal-hal yang tercela,” ujar Joni.
Delapan abad Samudera Pasai menjadi momentum untuk membuka kembali lembaran sejarah Aceh Utara. Namun, tantangan sebenarnya bukan sekadar menggelar perayaan, melainkan memastikan warisan peradaban tersebut tetap hidup dan dikenal oleh generasi yang akan meneruskan daerah ini.
Sejarah Samudera Pasai bukan hanya milik masa lalu. Ia menjadi bagian dari identitas Aceh Utara yang harus dirawat, dipahami, dan diwariskan. (Ramazani)

































