TLii | Sumut | Toba – Di tengah visi pembangunan yang terus digembar-gemborkan, kenyataan di lapangan berbicara lain. Ruas jalan penghubung Desa Silaen–Desa Lumban Dolok, Kecamatan Silaen, kini rusak parah, penuh lubang dan kubangan yang makin menganga tiap turun hujan. Sekitar 100 meter jalan nyaris tak layak dilalui dan yang paling menderita adalah para pelajar.
Anak Sekolah Berjuang Setiap Hari
Lispon Panjaitan, warga Desa Pintubatu, tak bisa lagi berdiam diri melihat kondisi ini. “Lubang tertutup air, tak terlihat mana yang dalam, mana yang dangkal. Kami bingung melangkah, apalagi anak-anak sekolah yang harus berjuang tiap pagi dan sore,” ujarnya dengan nada prihatin.
Pantauan di lokasi membuktikan keluhan itu bukan isapan jempol. Anak-anak pulang sekolah terlihat berhati-hati, kadang harus menyeberangi kubangan dengan kaki basah, pakaian kotor bahkan terlihat berisiko tergelincir setiap hari.
Pemerintah Dimana?
Sudah berapa lama kondisi ini dibiarkan? Warga mengaku berkali-kali menyampaikan, namun tak ada tanda perbaikan. Padahal ini bukan jalan terpencil, melainkan akses utama yang dipakai warga dan pelajar setiap hari.
“Kami berharap Bupati segera turun langsung melihat kenyataan ini. Jangan menunggu ada korban kecelakaan baru bergerak,” tegas Lispon.
“Toba Mantap” Hanya Slogan?
Pertanyaan yang kini bergema di tengah warga: apakah visi “Toba Mantap” hanya tertulis di kertas dan pidato, atau benar-benar dirasakan di pelosok desa?
Warga tidak meminta kemewahan mereka hanya meminta jalan yang aman, layak, dan bisa dilewati tanpa rasa takut. Jika jalan penghubung utama saja diabaikan, bagaimana warga bisa percaya janji pembangunan yang lebih besar?
“Infrastruktur bukan sekadar proyek megah di pusat kota. Jalan yang aman untuk anak sekolah adalah cermin kepedulian nyata pemimpin,” tandas warga.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Toba terkait kapan perbaikan akan dimulai.
(Tanda)




































