TLii|SUMUT|SIANTAR, Terkait pemberitaan kasus Penistaan Etnis Simalungun, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Hamam Soleh selaku penyelenggara kegiatan Acara Fun Run “Agak Lari Kelen” mengatakan bahwa Pemerintah Kota Pematangsiantar tidak terpikirkan melakukan penistaan Etnis Simalungun.
“Yang pasti kita tidak berniat bahkan terpikirpun tidak untuk melecehkan suku Simalungun,” katanya saat dihubungi melalui seluler, Sabtu 1 November 2025.
Sebab, kata Hamam, bahwa kita sadar hidup di bumi Habonaron Do Bona sehingga sangat menghormati bumi tempat kita dilahirkan dan tempat kita berpijak dan mungkin ini juga akan tempat di kuburan.
Dia menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut sendiri di bangun oleh anak kreativitas yang memang di fasilitasi oleh Dinas Pariwisata dan berkoordinasi berkoordinasi dengan sejumlah OPD terkait lainnya seperti Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, dan Satuan Polisi Pamong Praja.
Dinas Pariwisata percaya dengan ide-ide kreatifitas anak muda pada komunitas yang membuat acara tersebut.
“Tapi kekhilafan kami ini adalah tidak mengontrol keseluruhan kreasi yang mereka konsep karena kami percaya dengan mereka, dan kami sampaikan permohonan maaf kami,” tuturnya.
Hamam Soleh menambahkan, bahwa mereka tentu tetap memerlukan pengajaran untuk senantiasa bisa menjaga dan melestarikan kebudayaan etnis Simalungun dan mereka siap untuk menerima kritik dan saran.
Berita sebelumnya, Acara Fun Run “Agak Lari Kelen” yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pematangsiantar pada 10 Agustus 2025 yang lalu membuat sejumlah lembaga dan Kelompok etnis Simalungun merasa geram dan menuding walikota Wesly Silalahi telah melakukan penistaan Etnis Simalungun.
Pada acara tersebut memakai adat Toba bukan adat istiadat Simalungun, padahal Kota Pematangsiantar adalah tanah leluhur etnis Simalungun. (Juin)




































