Dewan Pandekar Atjeh Serukan Penyelamatan Budaya Lokal: “Jangan Sampai Peradaban Aceh Tenggelam oleh Budaya Luar”

RAMAZANI

- Redaksi

Senin, 11 Mei 2026 - 10:23 WIB

5089 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii|Aceh|Lhokseumawe — Gelombang modernisasi dan derasnya budaya luar dinilai mulai menggerus identitas budaya lokal Aceh.

Kondisi itu membuat kalangan pegiat seni dan pelestari adat angkat suara. Melalui wadah BUSOE Bersatu Silèt Nanggroë, Dewan Pandekar Atjeh menyerukan agar pemerintah kabupaten dan kota di Aceh tidak tinggal diam menjaga warisan budaya daerah yang selama ini menjadi jati diri masyarakat Aceh.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

 

Seruan itu disampaikan dalam upaya memperkuat kembali eksistensi silat tradisional Aceh yang bukan hanya sekadar seni bela diri, tetapi juga bagian penting dari peradaban dan pendidikan budaya masyarakat Aceh sejak zaman dahulu.

 

 

Dewan Pandekar Atjeh menegaskan, organisasi silat tradisional Aceh memiliki peran besar dalam menjaga nilai adat, seni, hingga pendidikan moral generasi muda.

 

 

Di dalamnya tidak hanya diajarkan teknik pertahanan diri, tetapi juga pembinaan seni budaya seperti rapai, seurune kalee, hingga seumapa atau tradisi balas pantun adat yang biasa hadir dalam prosesi pernikahan dan kegiatan adat lainnya.

 

 

“Budaya lokal jangan sampai kalah dan tersingkir di tanahnya sendiri. Pemerintah harus hadir membangun kerja sama nyata dengan organisasi budaya dan silat tradisional Aceh sebagai benteng peradaban daerah,” tegas Abu Siwah selaku Ulee Pandekar Silat Aceh, saat ini kantor pusat dewan PANDEKAR Aceh beralamat di Gampong Keude Aceh jln Pase area x hotel Dewi plaza. Kecamatan Banda sakti kota Lhokseumawe. (Senin. 11/5/2026).

 

 

Menurutnya, silat tradisional Aceh selama ini menjadi rumah besar berbagai aliran bela diri khas Aceh yang tersebar di sejumlah wilayah. Mulai dari Geudeu-Geudeu, Saterlak, Pelintau Tamiang, Siwah Busoe, Ilmukti, Perisai Puteh Aceh, Jaka Satria, Putroe Aceh, harimau muda Aceh Selatan, hingga berbagai aliran lainnya yang tumbuh dari akar budaya masyarakat Aceh sendiri.

 

 

Ia menilai, perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya lokal masih belum maksimal. Padahal, keberadaan organisasi silat tradisional Aceh juga sejalan dengan semangat pelestarian budaya sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) Bab XXI Pasal 221-222 tentang Kebudayaan Aceh.

 

 

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Federasi Silat Tradisional Aceh, Ramazani, mengatakan generasi muda Aceh harus diberi ruang untuk mengenal budaya sendiri agar tidak kehilangan identitas di tengah perkembangan zaman yang semakin keras.

 

 

“Kalau budaya Aceh tidak dijaga mulai hari ini, maka anak cucu kita hanya akan mengenal budaya luar dan melupakan warisan leluhurnya sendiri,” ujarnya.

 

 

BUSOE Bersatu Silèt Nanggroë sendiri dikenal sebagai lembaga pendidikan sejarah dan seni budaya silat Nanggroe yang selama ini aktif menjaga tradisi silat dan adat budaya Aceh. Organisasi tersebut juga tercatat memiliki legalitas hukum dari Kemenkumham RI. Dan BUSOE juga tercatat sebagai inorga-induk organisasi olahraga dalam kepengurusan Kormi-komite olahraga masyarakat Indonesia provinsi Aceh.

 

Serta pernah mendapatkan penghargaan dari PJ gubernur Aceh sebagai salah satu organisasi penggerak olahraga masyarakat, pada hari olah raga nasional-haornas 2023 lalu.

 

 

Para tokoh budaya berharap pemerintah daerah tidak hanya sibuk membangun infrastruktur fisik, tetapi juga serius membangun benteng peradaban melalui penguatan seni, adat, dan budaya lokal Aceh yang mulai terpinggirkan oleh arus globalisasi.

Berita Terkait

LANA Desak DPRA Gunakan Hak Interpelasi terhadap Gubernur Aceh, Soroti Polemik JKA dan Pergub Kontroversial
LANA Desak DPRA Gunakan Hak Interpelasi terhadap Gubernur Aceh, Soroti Polemik JKA dan Pergub Kontroversial
Karutan Raymon Andika Girsang Bahas Pelatihan Kerajinan Tangan dan Barista untuk Warga Binaan
Raymon Andika Girsang: Monev Jadi Penguatan Petugas Tingkatkan Kualitas Pelayanan Tahanan
Hujan Lebat, Dayah Nurul Iman di Pirak Timu Terendam Banjir
Bangun 20 Gedung Layanan dan Fasilitas Olahraga Gratis, Kapolda Sumut Raih Penghargaan Polda Terbaik
Ignatius Silalahi: Kerja Sama Perkuat Layanan Kekayaan Intelektual dan Kesadaran Hukum di Kampus
Kakanwil Ditjenpas Sumut: Pegawai Baru Diharap Jalankan Tugas Optimal dan Profesional

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:03 WIB

LANA Desak DPRA Gunakan Hak Interpelasi terhadap Gubernur Aceh, Soroti Polemik JKA dan Pergub Kontroversial

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:26 WIB

LANA Desak DPRA Gunakan Hak Interpelasi terhadap Gubernur Aceh, Soroti Polemik JKA dan Pergub Kontroversial

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:05 WIB

Karutan Raymon Andika Girsang Bahas Pelatihan Kerajinan Tangan dan Barista untuk Warga Binaan

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:43 WIB

Raymon Andika Girsang: Monev Jadi Penguatan Petugas Tingkatkan Kualitas Pelayanan Tahanan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:27 WIB

Hujan Lebat, Dayah Nurul Iman di Pirak Timu Terendam Banjir

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:19 WIB

Ignatius Silalahi: Kerja Sama Perkuat Layanan Kekayaan Intelektual dan Kesadaran Hukum di Kampus

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:00 WIB

Kakanwil Ditjenpas Sumut: Pegawai Baru Diharap Jalankan Tugas Optimal dan Profesional

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:31 WIB

Andi Surya Pimpin Penandatanganan PKS, Dorong Sinergi Lintas Sektor untuk Pembinaan Humanis dan Produktif

Berita Terbaru