FOTO:Dari kanan ke kiri: Yusraini (Waka Mutu SMK Negeri 1), Nurleila (Kepsek SMK Negeri 1), Devi Irlaini dari DP3A, Upi Kepsek SMK Negeri 3, Pak Azwar, Agus Saputra, Alfais Fajar M .(Foto Dok.Humas)
TLii || BANDA ACEH – Tim Cegah Satgaswil Aceh Densus 88 Antiteror Polri bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Aceh dan Dinas Pendidikan Aceh menggelar pembinaan wawasan kebangsaan dan literasi digital di SMK Negeri 1, 2, dan 3 Banda Aceh, Senin pagi, 20 Juli 2026.
Kegiatan yang dikemas dalam upacara bendera tersebut berlangsung khidmat dan diikuti ratusan pelajar, dewan guru, dan kepala sekolah dari tiga SMK tersebut.

Bertindak sebagai pembina upacara, Aipda Azwar, S.Sos., M.Si. dari Tim Cegah Satgaswil Aceh Densus 88 AT Polri menyampaikan pentingnya bijak dalam menggunakan media sosial dan game online di kalangan pelajar.

Dalam amanatnya, Aipda Azwar mengajak siswa untuk tidak menjadikan game online sebagai pelarian utama dari permasalahan di lingkungan sekolah. Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi dan pertemanan secara langsung di dunia nyata.
“Stop pelarian berlebihan di dunia maya. Mari kita perkuat interaksi positif di dunia nyata,” ujarnya di hadapan pelajar.
Ia juga mengingatkan agar pelajar lebih berhati-hati dalam beraktivitas di WhatsApp dan platform media sosial lainnya. Menurutnya, setiap unggahan, komentar, maupun percakapan digital memiliki jejak dan dampak hukum serta sosial.
Refleksi Data Pembinaan 2025
Aipda Azwar mengungkapkan, sepanjang tahun 2025, Densus 88 bersama Intansi terkait telah melakukan pembinaan kepada lebih dari 100 pelajar SMA/SMK di berbagai daerah di Indonesia sebagai langkah preventif agar tidak terjerumus konten negatif di internet.
“Dari hasil pendampingan, kami melihat banyak kasus bermula dari konten game dan interaksi di media sosial. Karena itu penting bagi kita semua untuk lebih waspada,” jelasnya.
Ia menegaskan, Polri mengedepankan pendekatan pembinaan dan edukasi terlebih dahulu bagi pelajar yang ditemukan mengakses konten yang tidak sesuai.
Dalam kesempatan tersebut, Densus 88 juga menyoroti pentingnya selektivitas dalam memilih game online, mengacu pada imbauan Kementerian Pendidikan, agar tidak memicu perilaku negatif, intoleransi, hingga kekerasan.

Isu perundungan (bullying) juga menjadi perhatian. Densus 88 menilai kendala utama masih adanya korban dan saksi yang ragu untuk melapor.
“Yuk, berani bersuara. Teman, guru, dan orang tua adalah tempat aman untuk bercerita,” ajaknya.
Di akhir kegiatan, Densus 88 meminta dukungan Kepala Sekolah SMK Negeri 1, 2, dan 3 Banda Aceh untuk membuka ruang forum diskusi rutin bersama siswa agar sekolah menjadi ruang aman bagi pelajar untuk tumbuh dan berprestasi.
“Kami tidak ingin ada lagi pelajar yang salah arah karena pengaruh konten negatif. Mari kita jaga bersama agar anak-anak Banda Aceh menjadi generasi yang cerdas digital,” pungkas Aipda Azwar.



































