Perkuat Gerakan Literasi di Pidie, Rumah Baca Nuri Gelar Lokakarya Berbasis Digital
Peningkatan kapasitas pengelola dalam manajemen komunitas dan beradaptasi dengan perkembangan digital,Lokakarya yqng diikuti 50 perwakilan pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), rumah baca, perpustakaan rumah ibadah, dan perpustakaan gampong dari berbagai wilayah di Kabupaten Pidie.Sabtu (15/8/2026).
TLii || PIDIE – Rumah Baca Nuri menggelar Lokakarya Pengelolaan Komunitas Literasi bertajuk “Manajemen Program Komunitas Literasi dan Publikasi Kreatif Berbasis Konten Media Digital” di Kabupaten Pidie.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Bantuan Pemerintah (Banpem) Bidang Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2026 yang didukung Balai Bahasa Provinsi Aceh di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lokakarya ini diikuti 50 perwakilan pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), rumah baca, perpustakaan rumah ibadah, dan perpustakaan gampong dari berbagai wilayah di Kabupaten Pidie. Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pengelola dalam manajemen komunitas sekaligus beradaptasi dengan perkembangan digital.
Ketua Forum TBM Aceh, Rahmiana Rahman, yang menjadi narasumber utama, menekankan pentingnya konsistensi dalam menggerakkan komunitas literasi. Menurut dia, kegiatan literasi tidak harus digelar dalam skala besar, tetapi perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.
“Literasi itu tentang konsistensi, bukan tentang kemegahan acara,” ujar Rahmiana.
Ia juga mendorong para pengelola komunitas memaksimalkan kreativitas di tengah keterbatasan anggaran. Berbagai barang di sekitar lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai bahan kegiatan edukatif bagi anak-anak.
Selain penguatan manajemen, publikasi digital menjadi salah satu materi utama. Para pegiat literasi didorong memanfaatkan media sosial untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan kegiatan komunitas sehingga dapat menjadi inspirasi sekaligus memperluas jejaring dukungan masyarakat.
Dalam lokakarya tersebut, peserta juga menerapkan pendekatan micro-practicing. Mereka tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi langsung menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL), berupa rencana program kerja dan draf konten media sosial yang akan diterapkan di komunitas masing-masing.
Melalui kolaborasi Rumah Baca Nuri, Balai Bahasa Provinsi Aceh, dan para pegiat literasi, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat komunitas literasi di Pidie serta mendorong tumbuhnya budaya baca yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan.*[Yahbit]





























