Cendikia Peutrang Nanggroe Ajak Warga Aceh Kibarkan Bendera Alam Peudeung untuk Perdamaian

ZULKARNAINI

- Redaksi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 01:24 WIB

5019 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii.Banda Aceh – Ketua Cendikia Peutrang Nanggroe Aceh, M. Rafsanjani, mengajak masyarakat Aceh menjadikan pengibaran Bendera Alam Peudeung sebagai bagian dari upaya merawat identitas dan kebudayaan Aceh sekaligus menjaga perdamaian.

Ajakan tersebut disampaikan di tengah perhatian masyarakat terhadap pengibaran bendera di sejumlah wilayah Aceh. Pada Minggu (18/10/2026), sejumlah Bendera Alam Peudeung terlihat berkibar di kawasan Jembatan Peuniti dan Pante Pirak, Banda Aceh.

Bendera tersebut tampak berjejer di pembatas jembatan dengan dua variasi warna dasar, yakni merah dan hijau. Keduanya menampilkan simbol bintang bulan dan pedang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rafsanjani mengatakan, momentum pengibaran Alam Peudeung perlu dimaknai sebagai ruang refleksi untuk mengenang perjalanan sejarah Aceh sekaligus memperkuat kesadaran generasi muda terhadap identitas daerah.

Menurut dia, identitas dan kebudayaan Aceh perlu dirawat tanpa mengabaikan komitmen terhadap perdamaian yang telah dibangun setelah konflik berkepanjangan.

“Pengibaran Alam Peudeung ini kami maknai sebagai bagian dari upaya mengembalikan marwah dan identitas Aceh. Kita ingin mengenang sejarah dan memperkuat jati diri masyarakat Aceh, tetapi tetap dalam semangat perdamaian dan persatuan,” ujar Rafsanjani (21/10/2026).

Ia menegaskan, masyarakat, terutama generasi muda, perlu memahami perjalanan sejarah daerahnya sekaligus mengambil pelajaran dari konflik masa lalu.

Rafsanjani juga meminta Pemerintah Aceh menindaklanjuti persoalan regulasi mengenai bendera dan lambang Aceh sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).

Menurut dia, kepastian hukum diperlukan agar persoalan simbol daerah tidak terus berulang dan menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat.

Ia berharap Pemerintah Aceh, DPRA, pemerintah pusat, dan masyarakat dapat membangun komunikasi untuk mencari penyelesaian yang jelas terhadap persoalan bendera Aceh.

Rafsanjani mengingatkan masyarakat agar menyampaikan aspirasi secara tertib, menjaga persatuan, serta menghormati ketentuan hukum.

Menurut dia, upaya menjaga identitas Aceh dan mempertahankan perdamaian bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Keduanya perlu berjalan beriringan agar masyarakat dapat mengekspresikan identitasnya secara bermartabat tanpa memicu konflik baru.

“Perdamaian adalah hasil dari perjalanan sejarah yang panjang. Karena itu, mari kita rawat perdamaian, kita jaga marwah Aceh, dan kita wariskan identitas serta sejarah Aceh kepada generasi berikutnya,” tutupnya.

Diketahui, Alam Peudeuëng atau bendera pedang merupakan salah satu simbol sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.

Bendera ini telah digunakan sejak masa Sultan Ali Mughayat Syah, sekitar awal abad ke-16, ketika Kesultanan Aceh mulai berkembang sebagai kekuatan politik dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara.

Dalam bahasa Aceh, kata alam berarti bendera, sedangkan peudeuëng berarti pedang. Bendera ini memiliki sejumlah unsur simbolis, seperti warna merah, bulan sabit, bintang, dan pedang yang mencerminkan keberanian, kekuasaan, serta identitas Islam dalam sejarah Aceh.

Jejak sejarah bendera ini juga tersimpan dalam berbagai koleksi dan dokumentasi di luar negeri. Sejumlah benda dan arsip peninggalan Kesultanan Aceh dibawa ke Eropa pada masa kolonial Belanda dan kini menjadi bagian dari koleksi sejumlah museum.

Berita Terkait

Irjen Pol. Ruddi Setiawan Pimpin Sertijab Wakapolda Aceh, Brigjen Pol. Latif Usman Resmi Bertugas
Kapolda Aceh Sampaikan Apresiasi kepada Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo saat Kenal Pamit
Hari Jadi Ke-75 Humas Polri, Bidhumas Polda Aceh Gelar Donor Darah
Kapolda Aceh Turun Langsung Pastikan Lalu Lintas Aman dan Lancar: Kehadiran Polisi Harus Dirasakan Masyarakat
Razia Narkoba di Lampulo, Empat Nelayan Diamankan Polisi
KPI UNITED SIAP TEMPUR LAKONI LAGA PERDANA DI AJANG PIALA REKTOR UIN AR-RANIRY
Tuanku Muhammad Apresiasi Turnamen Mini Soccer Nurul Fikri Boarding School 2026
Ketum H. Heri Julius Pimpin Rapat, Muaythai Aceh Matangkan Sejumlah Agenda Besar

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 01:24 WIB

Cendikia Peutrang Nanggroe Ajak Warga Aceh Kibarkan Bendera Alam Peudeung untuk Perdamaian

Kamis, 22 Oktober 2026 - 01:17 WIB

Satlantas Polres Aceh Besar Gelar Ops Patuh Seulawah 2026 Mulai 26 Oktober

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:44 WIB

Irjen Pol. Ruddi Setiawan Pimpin Sertijab Wakapolda Aceh, Brigjen Pol. Latif Usman Resmi Bertugas

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:09 WIB

Polisi Sita 17 Paket Sabu di Blangkejeren, Seorang Pria Diamankan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:33 WIB

Sambut Hari Santri 2026, Ayahwa Bupati Aceh Utara Ajak Semua Elemen Serentak Berbusana Santri

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:21 WIB

Sambut Hari Jadi Humas Polri ke-75, Polres Gayo Lues Gelar Donor Darah

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:14 WIB

Kadis Sosial Aceh: Prinsip One Command, One Rule, and One Corps sebagai landasan penting dalam menjalankan tugas kemanusiaan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:33 WIB

34 TAGANA MUDA Nagan Raya dikukuhkan, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana

Berita Terbaru