WARGA TANGSE PIDIE Kepung Gunung Neubok Badeuk, Usir Penambang Emas Ilegal dan Perambah Hutan

TARMIZI UMAR

- Redaksi

Minggu, 28 Desember 2025 - 22:03 WIB

20166 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TIMELINES Investigasi | TANGSE — Puluhan warga dari Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, mendatangi kawasan Gunung Neubok Badeuk, Sabtu (27/12/2025), sebagai bentuk protes terhadap maraknya aktivitas tambang emas ilegal dan perambahan hutan yang dinilai telah merusak lingkungan dan mengancam keselamatan masyarakat. Aksi ini dipicu oleh meningkatnya kejadian banjir dan tanah longsor yang belakangan kerap melanda wilayah Tangse.
Sekitar 60 orang perwakilan dari Desa Pulo Mesjid 1, Pulo Mesjid 2, dan Neubok Badeuk bergerak sejak pagi hari menuju kawasan hulu sungai Mileuk. Perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Warga harus menempuh long march selama kurang lebih tujuh jam dengan berjalan kaki menembus hutan dan medan terjal. Hulu sungai tersebut selama ini menjadi sumber air utama bagi masyarakat Tangse.
Setibanya di lokasi, warga mengaku terkejut melihat kondisi hutan yang dinilai sudah rusak parah. Sejumlah pohon besar ditemukan tumbang hingga ke akar, sementara bantaran sungai tampak terkikis akibat aktivitas alat berat. Bekas galian tanah dan lumpur terlihat jelas di beberapa titik yang diduga kuat menjadi lokasi penambangan emas ilegal.

“Yang kami lihat bukan lagi aktivitas tambang biasa, tapi perusakan alam secara besar-besaran. Hutan ini adalah benteng terakhir kami dari bencana,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Tangse di lokasi. Menurutnya, kerusakan tersebut sangat berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, terutama saat musim hujan.

Warga menduga para pelaku tambang emas ilegal dan perambah hutan telah meninggalkan lokasi sebelum kedatangan massa. Meski demikian, sejumlah sisa basecamp, bekas kerukan alat berat, serta jalur akses buatan masih terlihat jelas. Temuan ini semakin menguatkan dugaan bahwa aktivitas penambangan dan penebangan liar telah berlangsung cukup lama dan berskala besar.
Kemarahan warga pun memuncak ketika melihat air sungai yang keruh dan tercemar lumpur. Sungai tersebut selama ini digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari air minum hingga irigasi pertanian. Warga menilai, jika kerusakan ini dibiarkan, dampaknya akan sangat fatal bagi kehidupan generasi mendatang.
Dalam aksi tersebut, warga menyampaikan tuntutan agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera turun tangan menertibkan aktivitas tambang ilegal dan perambahan hutan di Gunung Neubok Badeuk. Mereka meminta dilakukan penutupan total terhadap seluruh aktivitas alat berat serta penindakan tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini bukan sekadar kepentingan satu atau dua desa, tapi menyangkut keselamatan seluruh masyarakat Tangse. Kami meminta pemerintah serius dan tidak tutup mata,” kata perwakilan warga lainnya.
Warga juga menyatakan akan terus melakukan pemantauan secara mandiri di jalur-jalur masuk kawasan hutan. Penjagaan ketat dilakukan untuk mencegah kembali beroperasinya alat berat di lokasi tersebut.

Mereka menegaskan aksi ini bukan yang terakhir jika tidak ada langkah konkret dari pihak berwenang. situasi di kawasan Tangse kondusif dan terkendali ,meski tensi di tengah masyarakat cukup tinggi. Warga berharap pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta instansi terkait segera mengambil langkah cepat dan terukur guna menghentikan kerusakan lingkungan dan mencegah terjadinya bencana yang lebih besar di masa mendatang.*[Yahbit]

Berita Terkait

Panggung Gembira Pentas Seni Pondok Pesantren Thawalib ACEH TENGGARA
Tarhib Ramadhan PKS Aceh Besar Gelar Donor Darah dan Layanan Kesehatan Gratis, Kumpulkan 35 Kantong Darah
Verifikasi Terbuka Rumah Rusak, Bupati Pidie Jaya Gandeng Media dan Masyarakat
Kadis Sosial Aceh Tenggara Akui Dana Makan Anak Yatim Panti Asuhan Telah Dikembalikan
Tim Gabungan Bea Cukai Langsa Gagalkan Ekspor Ilegal Satwa Liar
6 Bulan Tak Masuk Kantor, Oknum ASN Dinas LHK Aceh Tenggara Dilaporkan
Serikat Aksi Peduli Aceh kembali Menyoroti Kinerja Badan Reintegrasi Aceh (BRA)
Walikota Langsa dan Ketua DPRK Perjuangkan Nasib Honorer Tidak Lulus PPPK

Berita Terkait

Senin, 2 Februari 2026 - 18:44 WIB

Polda Sumut Gelar Apel Operasi Keselamatan Toba 2026, Tekankan Lalu Lintas Aman dan Humanis

Senin, 2 Februari 2026 - 18:40 WIB

Sat Res Narkoba Polres Pematangsiantar Ciduk Dua Terduga Pemilik Sabu 1,35 Gram

Minggu, 1 Februari 2026 - 19:57 WIB

Komisi III DPR RI Tinjau Penegakan Hukum di Sumatera Utara, Dorong Transparansi Dan Profesionalisme

Minggu, 1 Februari 2026 - 14:31 WIB

Sat Res Narkoba Polres Pematangsiantar Tangkap Pemilik 6 Paket Sabu

Sabtu, 31 Januari 2026 - 22:18 WIB

Pramuka Jadi Wadah Pembinaan Karakter Dan Kemandirian di Lapas Kelas I Medan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 22:01 WIB

Wujud Komitmen Ketahanan Pangan Berkelanjutan, Rutan Tanjung Pura Tebar 2.000 Ekor Bibit Ikan Nila

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:47 WIB

Pastikan Kondisi Aman Dan Siaga, Laperdan Lakukan Kontrol Area Branggang

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:29 WIB

Laperdan Dan LPKA Medan Gelar Pertandingan Voli Persahabatan, Perkuat Hubungan Kerja

Berita Terbaru

KALIMANTAN SELATAN

Turut Berduka, Rutan Tanjung Kehilangan Petugas Terbaik Ibu Herni Yusnita

Minggu, 1 Feb 2026 - 23:14 WIB

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Dari Ratir ke Aksi: Kwarwil HW Babel Siapkan Langkah Besar di 2026

Minggu, 1 Feb 2026 - 22:43 WIB