TLii [] Pidie Jaya — Air banjir bandang yang menerjang Kabupaten Pidie Jaya akhir November 2025 memang telah surut. Namun bagi masyarakat kecil, derita justru belum berakhir.
Di balik data korban jiwa dan rumah hancur, ada kisah sunyi tentang ekonomi rakyat yang perlahan tercekik.
Minggu (11/01/2026), jurnalis TimelinesiNews.com menemukan puluhan sepeda motor dan becak motor teronggok di sebuah bengkel di Gampong Rhieng Blang, Kecamatan Meureudu. Sisa lumpur masih melekat di rangka dan mesin — bukti bahwa kendaraan-kendaraan itu sempat terendam arus banjir bandang yang meluluhlantakkan Pidie Jaya.
Bustami, pemilik bengkel, menegaskan hampir seluruh kendaraan yang masuk merupakan milik warga terdampak banjir.
“Hampir semuanya korban banjir. Kerusakan paling banyak di karburator karena kemasukan air dan lumpur,” katanya.
Di tengah keterbatasan warga, bengkel kecil itu menjadi titik harapan terakhir. Bustami mengaku terpaksa memberi keringanan biaya karena memahami kondisi pelanggan yang kehilangan penghasilan.
“Tarif tetap normal, tapi kalau lihat kondisinya, ada yang kami diskon. Kalau tidak dibantu, motor mereka tidak akan jalan, dan mereka tidak bisa makan,” ujarnya tegas.
Salah satu korban, Hanafiah, warga Gampong Teupin Peuraho, mengaku sepeda motornya adalah satu-satunya alat untuk mencari nafkah.
Rusaknya kendaraan berarti terhentinya penghasilan keluarga.
“Motor ini bukan barang mewah, ini alat kerja kami. Alhamdulillah rusaknya tidak terlalu parah dan sudah diservis, tapi selama motor rusak kami tidak punya pemasukan,” ungkapnya.
Ia menyebut dampak banjir telah memukul ekonomi warga hingga ke titik terendah.
“Kami mohon perhatian pemerintah. Setelah banjir, ekonomi kami turun drastis. Tanpa kendaraan, kami tidak bisa bekerja,” katanya penuh penekanan.
Deretan motor berlumpur di bengkel kecil itu kini menjadi potret sunyi pascabencana. Ketika air telah pergi, perjuangan warga Pidie Jaya untuk kembali bertahan hidup justru baru dimulai. (JN)




































