Rapuh Di Tengah Keluarga Yang Ricuh

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:46 WIB

20131 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto istimewa sang penulis Karmila)

Penulis: Karmila Mahasiswa PBI semester 3 Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Di sebuah desa yang kecil dengan rumah yang sederhana, sedang terjadi pertengkaran antara anak kedua dan anak ketiga. Mereka saling beradu mulut dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Rumah ini milik kita bersama, kamu tidak bisa seenaknya ingin menjual, dan di sini juga masih ada Dila yang belum menikah. Harusnya kamu mengerti,” ucap si anak ketiga.

Anak kedua dan si bungsu hanya bisa melerainya.Ini ceritaku. Namaku Dila, si bungsu yang lahir tanpa adanya genggaman tangan orang tua. Ayah pulang di saat ibu sedang hamil aku, dan setelah aku lahir menginjak usia sebelas tahun, ibu juga pulang menyusul ayahku. Mereka pulang sebelum melihatku tumbuh.

Sedari kecil aku selalu mengusahakan apa pun yang aku inginkan dengan kerja kerasku sendiri. Aku memiliki tiga kakak, di mana masing-masing sudah mempunyai keluarga. Sejak orang tua kita meninggal, banyak hal yang berubah. Rumah yang dulunya damai dan nyaman sekarang menjadi tempat yang paling ingin aku hindari.

Aku tidak pernah meminta, menuntut, ataupun meminta bantuan kepada mereka karena aku selalu takut merepotkan mereka. Aku juga lebih sering bungkam karena aku tidak pernah diizinkan untuk berpendapat dengan alasan,“Kamu bungsu, harus mengikuti apa pun yang dikatakan tanpa adanya bantahan,” ucap mereka kepadaku.

Setiap adanya masalah tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik, lebih memilih menghindar atau harus dengan emosi, sehingga sering terjadi pertengkaran.

Suatu malam, anak pertama pulang ke rumah.

Aku menyambutnya dengan baik. Kita makan malam bersama diiringi dengan sedikit candaan dan juga tawa, sebelum akhirnya ia berbicara,“Usaha kakak lagi turun drastis, pengeluaran banyak, ada pegawai juga yang harus kakak bayar gajinya,” ucapnya kepadaku dengan suara pelan.

“Apakah kamu masih punya tabungan? Jika masih, boleh kakak pinjam dulu untuk membayar gaji para pegawai.”

Aku terdiam sebentar, memikirkan bagaimana cara mengatakan kepadanya jika aku juga ingin menggunakan uang tabunganku itu untuk membayar uang kuliahku. Apalagi akhir-akhir ini aku tidak bekerja lagi dan hanya bisa mengandalkan uang tabungan untuk kebutuhanku dan tagihan lainnya hingga aku mendapatkan pekerjaan baru lagi.

Lalu dia berkata lagi, “Nggak lama kok, palingan sampai usaha kakak naik lagi. Lagipula jadwal bayar uang semestermu kan masih cukup lama juga, bisalah nanti kakak kasih.”

“Kakak juga nggak bisa kalau pinjam ke saudara lain, nggak enak. Mereka pasti juga banyak pengeluaran. Kamu pasti mengerti, kan?” ucapnya, lalu pergi meninggalkan meja makan.

Keesokan paginya, aku pergi ke rumah kakak ketigaku untuk menemui anaknya dan mengajaknya bermain. Sesampainya di sana, aku melihat kakak pertama dan keduaku juga sedang berada di sini dan mereka sedang berbicara dengan wajah yang penuh ketegangan. Aku tidak ingin bergabung atau sekadar ikut basa-basi di sana karena aku tidak ingin mendengarkan kata-kata yang menyakitkan yang terlontar dari mulut mereka, seperti,

“Kamu udah dewasa, kamu pasti ngerti kan keadaan ekonomi kita.”

“Kakak nggak bisa bantu kamu, kamu tahu sendiri tanggungan kakak banyak. Minta sama saudara lain.”

“Sudah berkali-kali kita bilang untuk nggak usah kuliah. Biaya kuliah itu mahal. Di mana uang untuk membayarnya, sedangkan kamu juga tahu sendiri kita masing-masing punya keluarga. Jangan egois.”

Kurang lebih seperti inilah kata-kata yang selalu mereka lontarkan kepadaku. Oleh sebab itu aku lebih suka sendiri karena aku tidak ingin mendengarkan itu dan menjadi beban pikiranku karena merasa sering merepotkan mereka.Aku terus bermain bersama keponakanku sampai akhirnya aku mendengar suara teriakan,

“KAMU APA-APAAN, SEJAK KAPAN KAMU MENGGADAIKAN TANAH ITU TANPA ADANYA PERSETUJUAN DARI KITA!” ucap kakak ketigaku murka.

“Aku anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini, aku punya hak besar membuat keputusan,” sanggahnya.

“TAPI ITU ARTINYA KAMU TIDAK MENGHARGAI KITA!” teriaknya lagi.

“Dari awal kita sudah sepakat tidak akan menjual atau membagikan hak warisan sampai Dila menikah. Apa kamu lupa?”

Pertengkaran itu terus berlanjut. Kakak pertamaku hanya diam, memilih tidak ikut campur. Aku tak tahan lagi dengan pertengkaran itu, lalu aku memutuskan untuk keluar dan melerai mereka.

“Kalian kenapa sih? Nggak malu sama anak-anak kalian? Kalian udah dewasa, harusnya bisa dibicarakan baik-baik. Kenapa masih kayak anak kecil?” ucapku dengan harapan mereka mendengarkanku.

“Kamu nggak usah ikut campur, ini urusan kita,” ucap kakak laki-lakiku lalu melihatku.

“Ingat, kamu cukup iyakan saja apa keputusan kita. Nggak usah sok berpendapat. Kita lebih dulu hidup dari kamu,” ucapnya lagi dengan tajam.

“Kalian lupa, aku juga anak bapak dan ibu. Apakah salah jika aku berbicara?” ucapku mulai menangis. “Aku juga punya hak untuk semuanya. Selama ini aku selalu diam tanpa adanya bantahan. Aku juga tidak pernah menuntut kalian dalam hal apa pun, aku selalu mengusahakannya sendiri, padahal di sini aku masih tanggung jawab kalian.”

Setelah mengatakan semuanya, aku pulang sembari menangis tersedu-sedu dan mereka memilih bungkam. Di dalam kamarku, aku menangis memikirkan nasib yang tak kunjung membaik.

Sudah tiga hari kami saling diam. Tidak ada kata maaf yang terucap, hanya memilih bungkam satu sama lain. Aku dan kakak pertamaku juga saling diam dalam satu rumah. Aku yang cenderung selalu di kamar dan dia yang sibuk dengan pekerjaannya, sampai pada akhirnya dia menghampiriku.

Tokk… Tokk… Tokk….

“Dila, boleh kakak masuk?” ucapnya dari luar kamar.

“Iya, kak. Masuk aja, pintunya nggak dikunci.”

Dia masuk dan membawa makanan, menaruhnya di meja belajar, lalu duduk di kasur. Tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya ada rasa canggung di antara kita berdua. Dia yang mulai bosan dengan suasana ini akhirnya memulai pembicaraan.

“Masih marah…?” tanyanya kepadaku.

“Maaf ya, dek,” ucapnya lagi.

Aku hanya diam, tidak tahu ingin mengatakan apa.

“Maaf kalau kakak belum bisa jadi kakak yang baik buat kalian. Padahal di sini kakak yang paling tua, tapi kakak aja nggak bisa jadi contoh yang baik buat kalian,” ucapnya dengan suara serak.

“Kenapa ya, kak? Semenjak ibu sama bapak nggak ada, kita jadi gini. Aku nggak kuat, kak, setiap kali kalian harus ribut. Hal kecil aja kalian ribut. Apa nggak bisa dibicarakan baik-baik?” ucapku mulai menangis.

“Kakak juga bingung, dek, kenapa semuanya jadi gini,” ucapnya sembari menangis.

“Setelah ini, apa pun yang terjadi kamu harus hidup lebih baik dari kita, dek. Kamu satu-satunya harapan keluarga ini. Abaikan apa pun yang membuatmu sakit hati. Kakak tidak bisa bantu banyak. Semoga ke depannya hidupmu lebih baik.”

“Kakak pamit pulang ya. Kasian abangmu udah nunggu di rumah. Kamu baik-baik,” ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Dan pada akhirnya aku sadar, ternyata aku cuma punya diriku sendiri untuk bertahan di tengah ricuhnya keluargaku. Aku juga sadar, terkadang luka yang tertoreh itu tidak datang dari orang luar, melainkan dari orang terdekat kita sendiri. Oleh sebab itu, kita harus bisa mengandalkan diri kita sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.

Berita Terkait

Yori And His Curiosity
Harapan Yang Tersimpan Di Kotak Abu
Detak Yang Menyelamatkan
Bangka Tempatku Bercerita
Perjalanan Risa Di Dunia Perkuliahan 
Tawa Di Balik Bangku
Hutan Yang Berbicara
Kenangan Yang Tak Dipilih

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:01 WIB

Dukung Pemulihan Warga Binaan, Tim Binadik Lapas Narkotika Samarinda Ikuti Pelatihan Konselor Adiksi

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:55 WIB

Tingkatkan Kesadaran Kesehatan, Dokter Lapas Narkotika Samarinda Sosialisasikan Tata Cara Minum Obat yang Benar

Kamis, 29 Januari 2026 - 09:40 WIB

Dukung Pemulihan Warga Binaan, Tim Binadik Lapas Narkotika Samarinda Ikuti Pelatihan Konselor Adiksi

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:57 WIB

Implementasikan Arahan Presiden & 15 Program Aksi Menteri Imipas Kalapas Narkotika Samarinda Jalin Kerja Sama Dapur Sehat MBG

Senin, 26 Januari 2026 - 14:38 WIB

Cegah Pelanggaran Disiplin, Kalapas Narkotika Samarinda Sampaikan Larangan Judi Online Beserta Sanksinya

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:35 WIB

Bangun Soliditas Dan Hidup Sehat, Lapas Narkotika Samarinda Laksanakan Jalan Santai Bersama

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:58 WIB

Dukung Konservasi Sumber Air, Kalapas Narkotika Samarinda Bersama Jajaran Bersihkan Area Sekitar Lapas

Rabu, 21 Januari 2026 - 20:51 WIB

Dorong Pembinaan Berbasis Vokasi, Kalapas Narkotika Samarinda Jalin Koordinasi dengan BPVP Samarinda

Berita Terbaru

Pemerintahan

Petugas Haji Aceh Dibekali Diklat, Wagub: Layani Jamaah dengan Hati

Selasa, 3 Feb 2026 - 00:27 WIB