( foto istimewa sang penulis Leri Aryanti)
Penulis: Leri Aryanti mahasiswa PBI Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Kenalkan kami: Bella, Endang, Dina, dan Intan.“Empat sahabat sehidup semati,” begitu kata salah satu teman sekelas. Banyak juga yang bilang kami kumpulan cewek-cewek cantik itu sih kata cermin dan adik kelas yang tak mau kena semprot.Cerita kami bermula kira-kira tiga tahun lalu. Saat itu, kami bertiga mendaftar ke sekolah yang sama. Entah takdir atau sekadar kebetulan, sejak perkenalan pertama hingga akhirnya diterima di sekolah baru, kami berempat seolah tak terpisahkan. Bahkan kelas dan tempat duduk pun selalu berdekatan. Meski begitu, di awal kelas satu, hubungan kami belum seerat sekarang.
Sejak pertemuan pertama itu, rasanya kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Hampir setiap momen kami lalui dengan tawa. Tahun-tahun awal persahabatan berjalan begitu cepat masa ketika kepolosan perlahan berganti dengan sedikit kedewasaan. Persahabatan kami sudah seperti hubungan kakak dan adik, nyaris tanpa rahasia. Namun soal sifat dan kesukaan, kami justru sangat bertolak belakang.
Ada memang beberapa hal yang disukai tiga dari kami, tapi kalau bicara soal sifat, jangan berharap kami bisa benar-benar cocok. Bella, misalnya. Sifatnya agak keras maklum, orang Bangka tapi di antara kami berempat, dialah yang paling pintar. Biasanya, kalau ulangan, kami sering “minta bantuan” darinya (jangan ditiru, ya). Endang berbeda lagi. Sifatnya masih seperti anak TK, tapi justru itulah yang membuatnya terlihat paling imut. Karena dia anak bontot, ia sering jadi bahan candaan kami.
Intan, dengan tampang dan postur yang sudah seperti anak SMA, justru punya tingkah yang agak nyeleneh. Ia sering tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas. Terakhir, Dina. Di antara kami semua, dialah yang paling cantik, paling manja, dan juga yang paling sering membuat cowok patah hati. Namun di situlah keindahan persahabatan kami di tengah segala perbedaan, kami tetap bisa menyatukannya menjadi kisah persahabatan penuh warna.
Kelas VII berlalu begitu saja, dan persahabatan kami semakin erat.
Saat duduk di kelas VIII, kebersamaan kami tak lagi terbatas di lingkungan sekolah. Kami mulai sering jalan-jalan bersama, bahkan menginap bergiliran di rumah masing-masing. Orang tua kami pun mulai memberi sedikit kelonggaran.
Seiring waktu, hubungan kami makin lengket. Meski begitu, namanya juga persahabatan ngambek, marah, dan galau pasti ada. Bella dan Dina yang paling sering mengalami hal itu. Alasannya bermacam-macam, tapi tak pernah berlangsung lama. Beberapa hari kemudian, kami selalu saling menyadari kesalahan dan kembali berbaikan.
Di kelas VIII pula kami mulai mengenal yang namanya cinta-cintaan ala anak sekolah. Pacar-pacaran, patah hati, dan mematahkan hati lagi-lagi Bella dan Dina yang paling sering mengalaminya. Kami biasanya menghabiskan waktu dengan bercanda, tertawa, dan mengobrol ke mana-mana di deretan bangku paling belakang saat jam istirahat atau jam kosong, ditemani hiruk-pikuk kelas yang riuh seperti pasar pagi.
Bagi kami, kelas VIII adalah masa paling bebas masa untuk tertawa, bermain, dan melakukan segalanya bersama.
Tanpa terasa, kami naik ke kelas IX. Kelas yang menuntut kami mulai serius menentukan arah masa depan. Meski begitu, cerita persahabatan kami tak berhenti. Kami bahkan sepakat membentuk sebuah geng bernama “DIBEL.”
Di sinilah kami benar-benar memahami arti persahabatan. Kami menghadapi berbagai peristiwa sedih, senang, dan susah bersama-sama, karena kami percaya persahabatan sejati tak meninggalkan siapa pun.
Kelas IX membuat kami sibuk dengan persiapan Ujian Nasional. Waktu bersama memang semakin sedikit, tapi kami selalu mencuri kesempatan di sela kesibukan itu. Sekadar bermain, tertawa, dan tentu saja selfie kebiasaan lama kami sejak dulu untuk mengabadikan setiap momen kebersamaan.
Di tengah canda dan tawa itu, kami harus menerima kenyataan pahit. Salah satu dari kami memutuskan melanjutkan sekolah ke luar kota.
“Aku mau sekolah di luar kota,” kata Endang.
Kalimat itu seperti menghentikan dunia kami. Kami sedih, terpukul, karena kami tahu kebersamaan ini tak akan lagi utuh. Beberapa hari kami saling diam, hingga akhirnya kami bertiga mencoba membujuk Endang agar mengurungkan niatnya. Kami berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap sama. Ia tetap pada keputusannya. Akhirnya, dengan berat hati, kami memilih mengikhlaskannya.
Menjelang UN, kami berusaha lebih dekat dengannya. Kami tak ingin menyia-nyiakan satu detik pun kebersamaan yang tersisa. Karena kami tahu, setelah ini, cerita kami akan tamat. Tak akan ada lagi tawa di balik bangku, tak ada lagi canda lengkap seperti dulu. Kami tak lagi utuh. Yang tersisa hanyalah kenangan dan luka perpisahan yang abadi di hati.
Hari demi hari berlalu, hingga UN pun usai. Itu menjadi tanda bahwa kisah kebersamaan kami hampir benar-benar berakhir. Untuk menutupnya, kami sepakat membuat sebuah film berisi foto-foto kebersamaan kami foto konyol, lucu, sedih semuanya dirangkai menjadi satu film kenangan berjudul “DIBEL.”
Kami berjanji tak akan memutuskan tali persahabatan yang telah kami rajut begitu lama, meski akhirnya harus terpisah. Hari perpisahan pun tiba. Kami berpelukan erat, menangis terisak, mengenang semua cerita persahabatan penuh warna yang pernah kami lalui bersama.
Keesokan harinya, kami bertiga menemui Endang untuk berpamitan, sambil menyerahkan salinan film kenangan itu. Kami berpesan agar ia tak melupakan cerita di balik bangku sekolah, tak melupakan kami, dan tak memutuskan komunikasi. Kami juga mengatakan betapa kami akan merindukan tingkah kekanak-kanakannya yang selama ini menjadi bahan candaan.
Beberapa bulan kemudian, kami mendengar ia bersekolah di salah satu sekolah terbaik di kotanya begitu pula kami. Kami tetap saling berhubungan. Meski tak lagi bersama seperti dulu, setidaknya kami masih bisa mengobati rindu satu sama lain. Persahabatan itu tetap ada, walau bentuknya tak lagi sama.


































