MAKRIFAT CINTA MEMBARA DI DADA
Cak Haba – Penyair Sufistik
Sejak awal 1980, saya membuat pengakuan yang cukup menggelitik rasa penasaran pembaca melalui Twitter dan FB saya.
Saya mengaku seorang “Sufi.”
Muncul pertanyaan dari para pembaca:
“Mana ada seorang sufi mengaku dirinya seorang sufi?”
Argumen saya:
Pertama, seorang spionase tidak akan pernah mengaku dirinya seorang spionase karena ia menjaga kerahasiaannya.
Namun, ada pula yang mengaku terang-terangan bahwa dirinya seorang spionase agar orang-orang tidak percaya dan justru mencibir:
“Mana ada seorang spionase mengaku dirinya spionase.”
Semakin banyak orang tidak percaya bahwa dirinya seorang sufi, maka dia akan lebih aman menyimpan kerahasiaannya.
Kedua, saya mengaku seorang sufi karena merasa bersalah. Karenanya, di setiap pertemuan dengan teman, sahabat, dan handai taulan, saya selalu memiliki banyak kesempatan untuk meminta maaf.
Sufisme mengajarkan kita adanya pengakuan bersalah serta permohonan maaf kepada sesama makhluk, dan memohon ampunan kepada Sang Khalik. Saya mengaku sufi demi mengikatkan diri saya sendiri secara erat kepada prinsip rendah hati.
Ketiga, saya mengaku sufi untuk mendekonstruksi pemahaman para pembaca bahwa sufi adalah makhluk langitan yang sepasang kakinya tidak menginjak bumi, yang jari-jemarinya sibuk memutar butiran tasbih, serta mengasingkan diri dari peradaban dan keramaian gonjang-ganjing manusia modern.
Seorang sufi ialah orang yang sangat manusiawi. Artinya, ia tidak melepaskan lezatnya duniawi semata. Sufi itu bisa saja kita temui di pasar atau di jalanan: berambut gondrong, dekil, berpakaian tidak seperti kebanyakan orang, mencibir, menghina, bahkan memperolok sepuas hatinya.
Saya nukilkan syair lama yang ditulis oleh penyair kawakan Hamzah Fansuri dengan pesan yang sangat dalam.
Syair Perahu Versi I
Kayu itulah terlalu tinggi
Sungguhpun besar asalnya biji
Buahnya lengkap tiada tersembunyi
Sungguhpun lengkap tiada terdinding
Perahumu itu bernama Bentara
Awalnya tumbuh di padang belantara.
(Braginsky, 1998)
Sebagai referensi untuk memperkaya khazanah sastra sufistik, saya hamparkan kepada para pembaca beberapa penyair sufistik.
1. Rabi’ah Al-Adawiyah
Seorang sufi perempuan yang menuangkan rasa cintanya yang begitu bergelora kepada satu-satunya Kekasih.
ALLAH
Ya Allah,
jika aku menyembah-Mu
karena takut pada neraka,
bakarlah aku di dalamnya.
Dan jika aku menyembah-Mu
karena mengharap surga,
campakkanlah aku darinya.
Tetapi jika aku menyembah-Mu
demi cinta pada-Mu semata,
jangan Engkau enggan memperlihatkan
keindahan wajah-Mu yang abadi padaku.
2. Al-Hallaj
TUHAN
Aku adalah Dia yang kucintai,
dan Dia yang kucintai adalah aku.
Kami adalah dua roh
yang bertempat dalam satu tubuh.
Jika Engkau melihat aku, engkau melihat-Nya.
Jika engkau melihat-Nya, engkau melihat kami.
“Dulu tasawuf (spiritualitas Islam) sempat disunyi-senyapkan, didiamkan, dianaktirikan, bahkan dianggap irasional. Kini…?”
H. Hasan Basri Mansur, Alc.
Penyair Sufistik Banten
Lahir di Dusun Prenduan, Madura
Alumni perdana Al-Amien Prenduan (1977)
Kaperwil Banten TLii
Kabiro Kabupaten Tangerang TLii



























