AI dalam Pendidikan Peluang, Tantangan, Dan Strategi Pemanfaatannya di Era Kurikulum Merdeka

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Selasa, 30 Juni 2026 - 20:16 WIB

5069 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto istimewa sang penulis Syahlu Barokah)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Syahlu Barokah
Nim: 250141171 Prodi PGSD

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang saat ini menjadi perhatian adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. AI merupakan teknologi yang memungkinkan sistem komputer melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti memahami bahasa, menganalisis data, membuat prediksi, hingga menghasilkan teks dan gambar.

Kehadiran AI dalam pendidikan semakin relevan seiring dengan tuntutan abad ke-21 yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.Di Indonesia, penerapan Kurikulum Merdeka memberikan ruang yang lebih luas bagi pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Guru didorong untuk menciptakan proses belajar yang berpusat pada peserta didik, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan individu. Dalam konteks ini, AI memiliki potensi besar untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif dan personal. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, terdapat pula tantangan yang perlu diperhatikan, seperti etika penggunaan, ketergantungan teknologi, kesenjangan akses digital, dan penurunan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara kritis bagaimana AI dapat dimanfaatkan dalam pendidikan serta bagaimana pendidik dan peserta didik dapat menggunakannya secara bijaksana agar tujuan pendidikan tetap tercapai.
AI sebagai Inovasi dalam Dunia Pendidikan AI telah memberikan berbagai kemudahan dalam proses pembelajaran. Salah satu manfaat utamanya adalah kemampuan memberikan pembelajaran yang dipersonalisasi (personalized learning).

Melalui analisis data belajar peserta didik, sistem AI dapat menyesuaikan materi, tingkat kesulitan, dan metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.Menurut Holmes et al. (2022), AI dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif sehingga peserta didik memperoleh materi sesuai kemampuan dan kecepatan belajarnya. Hal ini sangat relevan dengan prinsip diferensiasi pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka yang menekankan pelayanan terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik.Selain itu, AI juga dapat membantu guru dalam berbagai tugas administratif.

Pembuatan soal, analisis hasil belajar, penyusunan materi pembelajaran, hingga pemberian umpan balik dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan teknologi AI. Dengan berkurangnya beban administratif, guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pengembangan strategi pembelajaran dan pendampingan peserta didik.

Dalam pembelajaran sehari-hari, berbagai aplikasi berbasis AI seperti chatbot pendidikan, platform pembelajaran adaptif, dan generator materi pembelajaran telah digunakan secara luas. Teknologi ini memungkinkan peserta didik memperoleh bantuan belajar kapan saja dan di mana saja. Kemudahan akses tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar dan mendorong pembelajaran mandiri.

Apakah AI Selalu Menguntungkan?
Meskipun menawarkan banyak manfaat, penggunaan AI dalam pendidikan tidak dapat dipandang secara sepihak sebagai solusi atas seluruh permasalahan pembelajaran. Terdapat beberapa aspek kritis yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, munculnya risiko ketergantungan terhadap teknologi. Saat ini banyak peserta didik menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas sekolah maupun kuliah. Jika tidak disertai pengawasan dan pemahaman yang tepat, peserta didik dapat menjadi terlalu bergantung pada AI sehingga kemampuan berpikir kritis, analisis, dan pemecahan masalah menjadi berkurang.

Sebagai contoh, ketika mahasiswa menggunakan AI untuk membuat esai secara otomatis tanpa memahami isi yang dihasilkan, maka proses belajar yang seharusnya melatih kemampuan berpikir justru tidak terjadi. Pendidikan bukan hanya tentang menghasilkan jawaban yang benar, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memperoleh dan mengembangkan pengetahuan.

Kedua, terdapat masalah akurasi informasi. AI bekerja berdasarkan data yang tersedia dan tidak selalu menghasilkan informasi yang benar. Dalam beberapa kasus, AI dapat memberikan jawaban yang keliru, tidak lengkap, atau bahkan mengandung informasi yang tidak memiliki sumber yang jelas. Oleh karena itu, peserta didik perlu memiliki kemampuan literasi digital untuk memverifikasi informasi yang diperoleh.

Ketiga, isu etika dan integritas akademik juga menjadi perhatian serius. Kemudahan penggunaan AI berpotensi meningkatkan praktik plagiarisme apabila peserta didik hanya menyalin hasil yang diberikan tanpa melakukan pengolahan lebih lanjut. Kondisi ini dapat mengurangi nilai kejujuran akademik yang merupakan salah satu tujuan penting pendidikan.

Keempat, kesenjangan akses teknologi masih menjadi tantangan di Indonesia. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas internet yang memadai. Berdasarkan laporan UNESCO (2023), kesenjangan digital masih menjadi hambatan dalam implementasi teknologi pendidikan di berbagai negara berkembang. Akibatnya, manfaat AI belum dapat dirasakan secara merata oleh seluruh peserta didik.

AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Guru
Dalam berbagai diskusi mengenai masa depan pendidikan, muncul kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran guru. Namun, pandangan tersebut perlu dikaji secara kritis. AI memang mampu membantu berbagai aspek pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan peran manusia secara utuh.

Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran. Guru juga berperan sebagai pendidik, pembimbing, motivator, dan teladan bagi peserta didik. Kemampuan membangun hubungan emosional, memahami kondisi psikologis peserta didik, serta menanamkan nilai-nilai karakter merupakan aspek yang tidak dapat dilakukan secara optimal oleh teknologis.Menurut Luckin et al. (2016), AI seharusnya dipandang sebagai alat pendukung yang memperkuat kapasitas guru, bukan sebagai pengganti guru. Dengan bantuan AI, guru dapat memperoleh data yang lebih akurat mengenai perkembangan peserta didik sehingga dapat memberikan intervensi pembelajaran yang lebih tepat.

Selain itu, pendidikan karakter yang menjadi salah satu fokus pendidikan nasional memerlukan interaksi manusia secara langsung. Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian sosial tidak dapat diajarkan hanya melalui algoritma komputer. Oleh karena itu, keberadaan guru tetap menjadi elemen utama dalam proses pendidikan.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka, penggunaan AI seharusnya diarahkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih bermakna. Guru dapat memanfaatkan AI untuk merancang pembelajaran yang kreatif, sedangkan peserta didik menggunakan AI sebagai sarana eksplorasi pengetahuan, bukan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.

Rekomendasi Agar pemanfaatan AI dalam pendidikan memberikan dampak positif, beberapa langkah perlu dilakukan.

Pertama, pemerintah perlu memperkuat literasi digital bagi guru dan peserta didik. Pemahaman mengenai cara kerja AI, kelebihan, keterbatasan, serta etika penggunaannya harus menjadi bagian dari proses pendidikan.

Kedua, sekolah dan perguruan tinggi perlu menyusun pedoman penggunaan AI yang jelas. Pedoman tersebut harus mengatur batasan penggunaan AI dalam tugas akademik serta menekankan pentingnya integritas dan kejujuran.

Ketiga, guru perlu mengembangkan model pembelajaran yang mendorong berpikir kritis. Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir peserta didik sehingga penggunaan AI tidak mengurangi kualitas pembelajaran.

Keempat, pemerintah perlu meningkatkan pemerataan akses teknologi dan internet agar seluruh peserta didik memiliki kesempatan yang sama dalam memanfaatkan inovasi pendidikan berbasis AI.

Kelima, penggunaan AI harus selalu dikombinasikan dengan pendekatan humanis dalam pendidikan. Teknologi harus membantu manusia menjadi lebih baik, bukan menggantikan peran kemanusiaan dalam proses belajar.

Kesimpulan
Artificial Intelligence merupakan inovasi yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Teknologi ini dapat mendukung pembelajaran yang lebih personal, efisien, dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era Kurikulum Merdeka. Namun, penggunaan AI juga menghadirkan berbagai tantangan, seperti ketergantungan teknologi, masalah akurasi informasi, integritas akademik, dan kesenjangan akses digital.

Oleh karena itu, AI tidak boleh dipandang sebagai pengganti guru, melainkan sebagai alat yang membantu meningkatkan kualitas pembelajaran. Keberhasilan implementasi AI dalam pendidikan sangat bergantung pada kemampuan guru, peserta didik, dan lembaga pendidikan dalam memanfaatkannya secara bijaksana, kritis, dan bertanggung jawab. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi sarana yang mendukung terciptanya pendidikan yang lebih inovatif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.

DAFTAR PUSTAKA
1. UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. UNESCO Publishing. UNESCO menekankan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan harus berpusat pada manusia (human-centered), memperhatikan etika, keamanan data, dan kualitas pembelajaran.

2. Olaf Zawacki-Richter, Marín, V. I., Bond, M., & Gouverneur, F. (2019). Systematic Review of Research on Artificial Intelligence Applications in Higher Education. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 16(39). Penelitian ini merupakan salah satu kajian sistematis paling banyak dikutip mengenai penerapan AI dalam pendidikan tinggi.

3. Holmes, W., Bialik, M., & Fadel, C. (2019). Artificial Intelligence in Education: Promises and Implications for Teaching and Learning. Boston: Center for Curriculum Redesign.

4. Luckin, R., Holmes, W., Griffiths, M., & Forcier, L. B. (2016). Intelligence Unleashed: An Argument for AI in Education. London: Pearson Education.

5. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek. Panduan ini menjelaskan prinsip pembelajaran dan asesmen yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka.

6. Łodzikowski, K., Foltz, P. W., & Behrens, J. T. (2023). Generative AI and Its Educational Implications. arXiv. Penelitian ini membahas peluang AI generatif dalam personalisasi pembelajaran serta tantangan terkait bias data dan verifikasi informasi.

7. Alfredo, R., Echeverria, V., Jin, Y., Yan, L., Swiecki, Z., Gašević, D., & Martinez-Maldonado, R. (2023). Human-Centred Learning Analytics and AI in Education: A Systematic Literature Review. arXiv. Kajian ini menekankan pentingnya keterlibatan guru dan siswa dalam pengembangan teknologi AI pendidikan yang aman dan terpercaya.

Berita Terkait

Hubungan Parasosial di Era Digital
Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA
Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Lebih Bermanfaat atau Berbahaya?
Pernikahan Dini Langgar Hak Anak
Etika di Ruang Digital: Mengapa Sopan Santun di Media Sosial adalah Fondasi Karakter Bangsa
Lulus Tanpa Skripsi, Siapkah Mahasiswa? Pentingnya Bersikap Jeli Terhadap Kebijakan Baru 

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:19 WIB

Dukung Transformasi, Lapas Tebing Tinggi Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Secara Virtual

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:47 WIB

Rutan Tanjung Pura Serahkan Alat Kebersihan kepada 26 Warga Binaan Tamping untuk Wujudkan Lingkungan Bersih

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:40 WIB

Sidang TPP Integrasi Rutan Tanjung Pura Bahas Usulan Integrasi 10 Narapidana dan Tamping Luar Tembok

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:23 WIB

Komitmen Zero HALINAR, Lapas Narkotika Langkat Pastikan Perangkat Jammer Berfungsi Optimal

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:13 WIB

Dukung Reintegrasi Sosial, Rutan Labuhan Deli Buka Ruang Kolaborasi dengan Universitas Sari Mutiara Indonesia

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:44 WIB

Bapas Palangka Raya Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Secara Virtual

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:20 WIB

Audiensi Hangat Bapas Palangka Raya dengan Panglima Kodam XXII/Tambun Bungai

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:38 WIB

Lebih Dekat & Efektif: Pos Bapas Kapuas Mudahkan Klien Wajib Lapor & Konsultasi

Berita Terbaru

NASIONAL

Vavada online casino w Polsce – wypłaty

Kamis, 16 Jul 2026 - 05:03 WIB