Hubungan Parasosial di Era Digital

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:52 WIB

5013 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto ilustrasi istock)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Fayza Fitra Mumtaza Mahasiswa PBI Unmuh Babel Nim 250441003

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di zaman sekarang, dengan perkembangan teknologi yang canggih, orang-orang memiliki akses yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan melihat konten lebih mudah dan sesuka hati mereka. Tidak hanya antar sesama teman atau kerabat, tetapi juga terhadap public figure seperti selebriti atau influencer. Yang dimana pada zaman dulu, interaksi dengan public figure itu bisa disebut sangat rumit. Orang-orang pada zaman itu hanya bisa berinteraksi dengan idola favorit mereka melalui surat penggemar atau bertemu secara langsung. Itu pun jika mereka ditanggapi.

Setiap hari, jutaan orang membuka sosial media untuk melihat postingan terbaru dari influencer, penyanyi, aktor, kreator konten, atau streamer favorit mereka. Tidak sedikit penggemar yang merasa ikut berbahagia ketika idola favorit mereka mendapat sebuah penghargaan, merasa sedih atau tersinggung ketika idola mereka mendapat kritik, bahkan rela menghabiskan waktu dan uang mereka hanya untuk mendukung karier seseorang yang belum pernah mereka temui secara langsung.

Jika kalian pernah melihat hal-hal seperti ini di sosial media, pasti kalian berpikir dan bertanya ke diri sendiri… kira-kira ini fenomena apa sih? Kenapa seseorang bisa meluangkan waktu dan pikiran mereka ke seorang public figure yang bahkan tidak tahu keberadaan mereka, seakan-akan mereka ini adalah teman dekat?

Fenomena ini dalam kajian psikologi disebut sebagai hubungan parasosial (parasocial relationship). Menurut Theraphy Group of DC, hubungan parasosial adalah fenomena hubungan sepihak di mana seseorang merasa memiliki ikatan yang sangat kuat terhadap public figure, seperti selebriti atau influencer, tanpa adanya interaksi secara langsung.

Fenomena hubungan parasosial ini kemudian mendorong terbentuknya komunitas-komunitas penggemar yang biasa disebut sebagai ‘Fandom’. Menurut Wikipedia, fandom adalah sebuah subkultur yang terdiri dari para penggemar yang disatukan oleh rasa kebersamaan dengan sesama individu yang memiliki minat yang sama. Para penggemar biasanya tertarik bahkan pada detail-detail sekecil apa pun terkait dengan objek fandom mereka, serta meluangkan sebagian besar waktu dan energi mereka untuk memenuhkan minat tersebut.

Lalu, bagaimana hubungan seperti ini bisa terbentuk? Salah satu penyebabnya adalah perkembangan media dan teknologi yang membuat public figure terasa lebih dekat dengan para penggemarnya. Melalui sosial media, seorang influencer dapat membagikan aktivitas sehari-hari, pemikiran pribadi, hingga momen-momen emosional mereka sendiri yang membuat pengikutnya merasa mengenal mereka secara lebih intim. Meskipun interaksi tersebut umumnya tidak bersifat timbal balik, paparan yang terus-menerus dapat menciptakan ilusi kedekatan dan pertemanan.

Pengalaman hubungan sosial yang dialami seseorang saat masa kecil (seperti interaksi dengan anggota keluarga dan teman) juga memiliki peran penting dalam bagaimana cara seseorang bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan orang lain di sekelilingnya. Cara seseorang membangun kepercayaan, mencari rasa kenyamanan, dan memenuhi kebutuhan emosional sering kali dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman tersebut.

Selain itu, pandemi Covid 19 yang terjadi beberapa tahun yang lalu menjadi salah satu faktor yang memperkuat fenomena hubungan parasosial. Ketika pembatasan sosial diberlakukan dan interaksi tatap muka menjadi terbatas, banyak orang terpaksa harus melakukan semua aktifitas mereka di rumah dan menghabiskan lebih banyak waktu di internet dan media sosial. Streamer, influencer, dan konten kreator sedang naik dalam populeritas dan mereka menjadi salah satu sumber utama hiburan bagi banyak orang pada masa ini.

Oleh karena itu, hubungan parasosial tidak selalu muncul semata-mata karena pengaruh media atau teknologi, tetapi juga dapat berkaitan dengan kebutuhan emosional, pengalaman sosial, serta kondisi yang sedang dialami oleh setiap individu.

Hubungan parasosial ini tidak sepenuhnya negatif atau positif, karena dalam batas tertentu fenomena ini dapat memberikan hiburan, sumber inspirasi, dan rasa kenyamanan bagi seseorang. Fandom juga dapat menjadi tempat nyaman bagi seseorang yang berminat sama untuk membangun pertemanan baru. Tetapi, hubungan ini juga dapat berpotensi menimbulkan dampak buruk apabila berkembang secara tidak sehat, seperti mengabaikan kebutuhan diri sendiri, merasa tersakiti ketika idola mereka dikritik, dan mulai mengabaikan lingkungan sosial di sekitar mereka.

Ada satu hal yang menarik dengan topik ini, hubungan parasosial tidak hanya dapat terjadi terhadap public figure yang benar-benar ada di dunia nyata. Banyak orang juga dapat membangun ikatan emosional yang kuat dengan karakter-karakter fiksi dalam sebuah film, novel, video game, maupun anime. Seseorang dapat merasa sedih ketika karakter favoritnya meninggal, atau menjadikan karakter tersebut sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian penggemar bahkan membayangkan dirinya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan karakter favoritnya. Bagi banyak orang, hal tersebut merupakan bentuk hiburan dan ekspresi kreatif yang tidak berbahaya. Namun, dalam beberapa kasus, keterikatan terhadap karakter fiksi yang terlalu kuat dapat menyebabkan seseorang mengalami reaksi emosional yang sangat intens ketika alur sebuah cerita tidak sesuai dengan harapan ekspektasi mereka, misalnya ketika karakter favorit mereka dipasangkan dengan tokoh lain. Seakan-akan mereka memiliki karakter tersebut.

Kesimpulannya, memiliki keterikatan emosional pada public figure atau karakter fiksi tertentu itu wajar. Namun, kita juga perlu ingat bahwa ketertarikan yang berlebihan itu tidak sehat. Kita harus sadar batas antara hiburan dan realitas, karena ketertarikan yang berkembang secara berlebihan dapat memberikan dampak yang kurang sehat bagi diri sendiri maupun hubungan sosial kita di dunia nyata.

Source:Parasocial Relationships: What They Are and When They’re a Problem https://share.google/tJ9n4AwEJGTlyHN96Fandom Wikipedia https://share.google/X9uE8W6l3txsgfXQrInteraksi parasosial – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Interaksi parasosial

Full article: The Dark Side of Fandom: Exploring the Association between Parasocial Relationships with Celebrities and Aggression https://share.google/nYG0MpFYmaM3aoId6

Berita Terkait

Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA
Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Lebih Bermanfaat atau Berbahaya?
Pernikahan Dini Langgar Hak Anak
Etika di Ruang Digital: Mengapa Sopan Santun di Media Sosial adalah Fondasi Karakter Bangsa
Lulus Tanpa Skripsi, Siapkah Mahasiswa? Pentingnya Bersikap Jeli Terhadap Kebijakan Baru 
Stop Kekerasan Terhadap Anak

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:19 WIB

Dukung Transformasi, Lapas Tebing Tinggi Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Secara Virtual

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:47 WIB

Rutan Tanjung Pura Serahkan Alat Kebersihan kepada 26 Warga Binaan Tamping untuk Wujudkan Lingkungan Bersih

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:23 WIB

Komitmen Zero HALINAR, Lapas Narkotika Langkat Pastikan Perangkat Jammer Berfungsi Optimal

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:13 WIB

Dukung Reintegrasi Sosial, Rutan Labuhan Deli Buka Ruang Kolaborasi dengan Universitas Sari Mutiara Indonesia

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:05 WIB

Lapas Perempuan Kelas IIA Medan Ikuti Virtual Pelantikan Inspektur Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:53 WIB

Bangun Pemimpin Tangguh, Pelindo Regional 1 Gelar Business Fundamental Session Batch I untuk GM

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:51 WIB

Sempat Kabur ke Riau, Pengedar Sabu yang Dibebaskan Paksa Warga di Medan Akhirnya Ditangkap

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:30 WIB

Perkuat Sinergi Penegakan Hukum, Kapolda Sumut Silaturahmi ke Kejati Sumut

Berita Terbaru

ARTIKEL

Hubungan Parasosial di Era Digital

Rabu, 15 Jul 2026 - 23:52 WIB

ARTIKEL

Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?

Rabu, 15 Jul 2026 - 23:43 WIB