Kurikulum Merdeka Berjalan, Mengapa Masalah Pendidikan Masih Terasa?

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:39 WIB

5082 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto istimewa sang penulis Alya Syafana)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Oleh:’ALYA SYAFANAA

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

PENDAHULUAN

Kurikulum merdeka telah diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia dengan harapan dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih fleksibel, berpusat pada peserta didik, dan relevan dengan tantangan abad ke-21. Namun, di tengah pelaksanaanya, berbagai persoalan pendidikan masih sering dirasakan.

Sebagian guru mengaku masih beradaptasi dengan sistem baru, sementara kesenjangan fasilitas antar sekolah membuat manfaat perubahan tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh peserta didik. Hal ini menyebabkan masyarakat mempertanyakan apakah perubahan Kurikulum Merdeka benar-benar membawa dampak nyata. Kondisi tersebut kemudian memunculkan sebuah pertanyaan: jika Kurikulum Merdeka telah berjalan, tapi mengapa masalah pendidikan masih terasa?

ISI

Kurikulum Merdeka lahir bukan tanpa alasan, kebijakan ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan yang terjadi di Indonesia. Salah satu latar belakang lahirnya Kurikulum Merdeka adalah upaya mengatasi dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan learning loss, sekaligus mendorong transformasi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Melalui Kurikulum Merdeka yang memiliki pendekatan lebih fleksibel, guru diberikan keluasan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan peserta didik. Selain itu, kurikulum ini juga menekankan penguatan karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) serta pengembangan kompetensi yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Dengan harapan tersebut, tidak mengherankan jika masyarakat menaruh harapan yang besar terhadap Kurikulum Merdeka.

Besarnya harapan masyarakat terhadap Kurikulum Merdeka membuat kebikan ini dibebani ekspetasi yang tinggi untuk menghadirkan perubahan nyata dalam dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, ketika berbagai persoalan pendidikan yang terjadi di Indonesia, seperti kesiapan guru, belum meratanya kualitas pembelajaran, maupun kesenjangan fasilitas antarsekolah masih sering ditemukan, hal ini menyebabkan berbagai pihak mempertanyakan efektivitas dalam kebijakan Kurikulum Merdeka.

Jika berbagai persoalan tersebut masih terus dirasakan setelah Kurikulum merdeka diterapkan, wajar jika muncul anggapan bahwa Kurikulum Merdeka gagal dalam mencapai tujuannya? Pertanyaan tersebut memang terdengar masuk akal, namun apakah benar masalahnya sesederhana itu?
Menyimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka gagal mungkin penilaian yang diambil sebelum memahami situasi secara menyeluruh.

Data menunjukan bahwa perubahan positif dari Kurikulum Merdeka tetap berlangsung meskipun belum dirasakan secara merata. Berdasarkan analisis PSKP (2025) terdapat peningkatan pada beberapa indikator pendidikan, seperti peningkatan capaian literasi dan numerasi dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Temuan tersebut menunjukan bahwa menyebut Kurikulum Merdeka sebagai kebijakan yang gagal mungkin merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana. Perbaikan memang terjadi, meskipun belum sepenuhnya menjawab berbagai tantangan di dunia pendidikan. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya terletak pada ada atau tidaknya perubahan, melainkan pada sejauh mana perubahan tersebut mampu menjangkau berbagai kondisi pendidikan yang beragam di berbagai wilayah Indonesia.

Salah satu faktor yang membuat manfaat Kurikulum Merdeka belum dirasakan secara merata adalah kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian guru masih berupaya untuk terus beradaptasi dengan perubahan yang ada. Berbagai kesulitan juga dirasakan guru, kesulitan tersebut meliputi pemahaman terhadap assesmen, penyusunan modul ajar, penerapan pembelajaran berdifrensiasi, hingga perancangan penerapan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Guru merupakan kunci penting dalam keberhasilan kebijakan kurikulum merdeka, karena guru adalah pelaksana utama di lapangan yang langsung berinteraksi dengan para peserta didik.

Tanpa pendampinga dan dukungan yang memadai, perubahan kebijakan yang baik sekalipun akan sulit diwujudkan menjadi pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berdampak bagi peserta didik.Selain kesiapan guru, kesenjangan fasilitas dan kondisi sekolah juga menjadi tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Sulit mengharapkan hasil yang sama dari sekolah dengan akses internet yang memadai, sumber belajar yang lengkap, , dan dukungan sarana yang baik dengan sekolah yang masih memiliki berbagai keterbatasan tersebut. Padahal, seyogyanya kedua pihak diwajibkan untuk melaksanakan kenijakan yang sama. Akibatnya, manfaat Kurikulum Merdeka belum bisa dirasakan secara merata oleh seluruh peserta didik di Indonesia. Kondisi ini menunjukan bahwa persoalan pendidikan bukan semata-mata terletak pada kurikulumnya, tetapi juga pada kesiapan lingkungan untuk menunjang implementasinya.

Oleh karena itu, menilai keberhasilan Kurikulum Merdeka hanya berdasarkan adanya berbagai persoalan pendidikan merupakan cara pandang yang terlalu sederhana. Perubahan kurikulum memang dapat menjadi langkah awal perbaikan, tetapi jika menginkan sebuah kebijakan kurikulum berhasil, berkerja sendiri tana kesiaan guru, fasilitas yang memadai, serta dukungan lingkungan pendidikan yang merata tentunya belum bisa menciptakan sebuah kurikulum berhasil secara optimal. Dengan demikian, persoalan yang masih terjadi sekarang tidak selalu menunjukan kegagalan Kurikulum Merdeka, melainkan menunjukan bahwa transformasi pendidikan membutuhkan proses yang lebih panjang dan melibatkan banyak aspek di luar kurikulum itu sendiri.

Berdasarkan berbagai tantangan yang telah dibahas, upaya perbaikan pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada perubahan kebijakan, melainkan juga pada kualitas implementasinya yang berada di lapangan. Pelatihan dan pendampingan guru juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar guru mampu menerapkan Kurikulum Merdeka secara optimal.

Selain itu, pemerataan fasilitas pendidikan juga perlu menjadi perhatian sehingga seluruh sekolah memiliki kesempatan yang lebih setara dalam melaksanakan kebijakan tersebut. Evaluasi kebijakan secara transparan dan berkala perlu juga perlu terus dilakukan guna mengidentifikasi serta memperbaiki berbagai kendala yang muncul selama proses implementasi. Melalui langkah-langkah tersebut, manfaat Kurikulum Merdeka diharapkan dapat dirasakan secara lebih luas dan merata bagi seluruh peserta didik di Indonesia.

PENUTUP

Pada akhirnya, pertanyaan mengenai mengapa masalah pendidikan masih terasa setelah Kurikulum Merdeka diterapkan tidak dapat dijawab hanya dengan berasumsi bahwa ia gagal atau berhasil. Berbagai tantangan yang masih muncul menunjukan bahwa perubahan pendidikan bukanlah sekedar persoalan mengganti kurikulum, melainkan memastikan kesiapan guru, fasilitas, dan lingkungan yang mendukung. Kurikulum Merdeka mungkin telah membuka jalan menuju perubahan, tetapi keberhasilan pendidikan tetap tergantung pada komitmen bersama untuk memastikan bahwa perubahan tersebut dapat dirasakan secara merata oleh seluruh peserta didik di Indonesia.

REFRENSI

Arwiyanti, Fathurohman, A., & Safitri, M. L. O. (2022). Kesiapan guru sekolah dasar terhadap implementasi Kurikulum Merdeka. Jurnal Basicedu, 6(6), 10383–10392.

Westiana, S. (2025). Mendikdasmen berharap rapor pendidikan jadi acuan pengembangan pendidikan nasional (D. Anugrahmawaty, Ed.). Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
https://ditsd.kemendikdasmen.go.id/artikel/detail/mendikdasmen-berharap-rapor-pendidikan-jadi-acuan-pengembangan-pendidikan-nasional

Jeong, M., Junaidi, R., Muthahhari, T., & Johnson, D. (2024). Tinjauan bukti: Implementasi Kurikulum Merdeka. IDinsight & Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Mendikdasmen berharap Rapor Pendidikan jadi acuan pengembangan pendidikan nasional. Direktorat Sekolah Dasar.

Pratami, W., Charolina, A. D., Nirwana, E. S., Maharani, W. I., Heriyani, R., & Dewi, R. M. (2025). Tantangan dan strategi implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar: Studi literatur kualitatif. Jurnal Basicedu, 9(6), 1739–1747.

Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan. (2024). Rapor Pendidikan: Identifikasi, refleksi, benahi. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan. (2025). Analisis kebijakan pendidikan (Artikel No. 560). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Rizki, R. A., & Fahkrunisa, L. (2022). Evaluation of implementation of Independent Curriculum. Journal of Curriculum and Pedagogic Studies (JCPS), 1(4), 32–41. https://e-journal.lp2m.uinjambi.ac.id/ojp/index.php/jcps

Setyadi, T. E., Rakhmah, D. N., Utama, B., Hijriani, I., Pratiwi, I., Argeswara, B. A., Aulia, J., & Solihin, L. (2025). Menakar implementasi Kurikulum Merdeka: Kendala, potensi, dan evaluasi untuk perbaikan. Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. https://pskp.kemendikdasmen.go.id/

Berita Terkait

Hubungan Parasosial di Era Digital
Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA
Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Lebih Bermanfaat atau Berbahaya?
Pernikahan Dini Langgar Hak Anak
Etika di Ruang Digital: Mengapa Sopan Santun di Media Sosial adalah Fondasi Karakter Bangsa
Lulus Tanpa Skripsi, Siapkah Mahasiswa? Pentingnya Bersikap Jeli Terhadap Kebijakan Baru 

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:19 WIB

Dukung Transformasi, Lapas Tebing Tinggi Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Secara Virtual

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:47 WIB

Rutan Tanjung Pura Serahkan Alat Kebersihan kepada 26 Warga Binaan Tamping untuk Wujudkan Lingkungan Bersih

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:40 WIB

Sidang TPP Integrasi Rutan Tanjung Pura Bahas Usulan Integrasi 10 Narapidana dan Tamping Luar Tembok

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:23 WIB

Komitmen Zero HALINAR, Lapas Narkotika Langkat Pastikan Perangkat Jammer Berfungsi Optimal

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:13 WIB

Dukung Reintegrasi Sosial, Rutan Labuhan Deli Buka Ruang Kolaborasi dengan Universitas Sari Mutiara Indonesia

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:44 WIB

Bapas Palangka Raya Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Secara Virtual

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:20 WIB

Audiensi Hangat Bapas Palangka Raya dengan Panglima Kodam XXII/Tambun Bungai

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:38 WIB

Lebih Dekat & Efektif: Pos Bapas Kapuas Mudahkan Klien Wajib Lapor & Konsultasi

Berita Terbaru

NASIONAL

Vavada online casino w Polsce – wypłaty

Kamis, 16 Jul 2026 - 05:03 WIB