(Foto istimewa Kegiatan)
TIMELINES INEWS INFESTIGASI
Kawasan legendaris Malioboro yang selalu padat oleh wisatawan ternyata menyimpan cerita pilu dari para pelaku UMKM. Di tengah ketidakstabilan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah, para pedagang kecil di Malioboro kini berada dalam bayang-bayang ancaman kemiskinan akibat lonjakan harga bahan baku dan merosotnya daya beli masyarakat.
Guna mengulik lebih dalam realitas tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta melakukan studi observasi lapangan berbasis SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) di Kawasan Malioboro pada 23 Mei 2026.
Observasi ini dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta yang beranggotakan Devi Yulia Rizky, Nanda Nur Hafidzah, Arofat Alan Sauri Alfajar, Naira Afra Fadilah, Tiara Afni Nur Kamila.
Dari hasil wawancara mendalam terhadap lima pedagang informal di Malioboro (angkringan, minuman es, dan bakso), tim menemukan bahwa ketahanan ekonomi masyarakat bawah sedang berada di titik yang sangat rentan.
Secara umum, kelima pedagang yang diwawancarai menyuarakan keluhan yang senada: omset menurun tajam dan biaya modal membengkak.
Hampir seluruh pedagang mengaku kondisi usaha mereka memburuk dibanding waktu-waktu sebelumnya. Contoh ekstrem dialami oleh Pedagang bakso yang menceritakan bahwa pendapatannya merosot hingga separuh dari biasanya.
“Pembeli menurun drastis. Walaupun banyak wisatawan, yang beli dagangan sedikit. Pendapatan yang awalnya bisa sekitar Rp5 juta, sekarang cari Rp2-3 juta saja susah sekali,” keluhnya.
Keluhan paling krusial datang dari keterkaitan makroekonomi dengan operasional harian pedagang. Pedagang menjabarkan bagaimana pelemahan rupiah berimbas langsung pada harga barang non-pangan seperti plastik yang naik dua kali lipat (dari Rp7.000 menjadi Rp14.000). Selain itu, fenomena kenaikan harga pangan disinyalir dipicu oleh tingginya permintaan bahan pokok di pasar untuk program-program besar (seperti komoditas ayam dan cabai yang melonjak tinggi dan belum turun hingga saat ini).
Pedagang Angkringan, Pedagang Minuman Es, dan Pedagang Bakso kompak menyatakan bahwa kenaikan harga bahan baku memaksa mereka berada di posisi buah simalakama. Untuk bertahan, mereka terpaksa menaikkan harga jual ke konsumen demi menutup modal. Namun, dampaknya daya beli masyarakat justru semakin berkurang, yang berujung pada laba atau keuntungan bersih yang kian menipis.
Dari hasil investigasi kelompok, para pedagang tidak hanya mengeluh tetapi juga menitipkan harapan dan solusi konkret yang mereka butuhkan agar bisa bertahan:
Pedagang angkringan, minuman es, dan bakso sangat berharap pemerintah dapat menstabilkan atau menurunkan kembali harga bahan pangan pokok agar modal usaha mereka kembali rasional dan terjangkau.
Pedagang minuman es memberikan saran teknis terkait pariwisata daerah. Ia berharap akses bus-bus pariwisata besar dapat diizinkan masuk kembali ke wilayah dekat Malioboro guna memicu volume wisatawan dan meningkatkan potensi penjualan langsung di area tersebut.
Pedagang bakso menyarankan agar pemerintah secara masif menggalakkan imbauan kepada masyarakat dan wisatawan untuk membeli produk-produk dari pedagang kecil atau UMKM lokal, mencontoh beberapa program serupa yang terbukti berhasil meningkatkan omset pedagang kecil pada periode pemerintahan sebelumnya.
Kisah para pedagang di Malioboro menjadi gambaran nyata bahwa ketika masalah ekonomi terjadi, masyarakat kecil sering kali menjadi pihak yang paling terdampak.
Mereka sebenarnya hanya berharap harga kebutuhan pokok tetap stabil, jumlah wisatawan meningkat, dan adanya dukungan dari masyarakat sekitar.
Dukungan tersebut bisa dimulai dari hal sederhana. Saat berkunjung ke Malioboro, sempatkan untuk membeli dagangan para pedagang kecil di sana. Bagi kita mungkin terlihat biasa saja, tetapi bagi mereka, satu pembelian bisa sangat berarti.
Karena itu, mari mulai lebih peduli dan mendukung UMKM lokal dari sekarang.

























