(foto istimewa kegiatan)
TIMELINES INEWS INFESTIGASI
Penulis: Nova
Kalau dengar kata literasi, bawaannya pasti langsung mikir soal tumpukan buku tebal yang berdebu atau suasana perpustakaan yang sepi dan ngebosenin banget. Jujur saja, awalnya aku juga punya pikiran yang sama. Tapi persepsi itu langsung patah total waktu aku ikutan kelas di Kampung Literasi Kaliurang hari ini, Rabu 8 Juli 2026. Kampung keren yang berlokasi di Kelurahan Tegalgede Jember ini ternyata hasil kolaborasi antara Unej sama The Jannah Institute. Fokus kegiatan mereka seru-seru banget, salah satunya lewat kelas Public Speaking for Youth yang aku ikutin hari ini.
Yang bikin pengalaman hari ini makin spesial karena pematerinya langsung Kak Prita, sosok hebat di balik berdirinya komunitas ini. Di awal sesi, ada satu kalimat dari beliau yang ngena banget di hati aku. Beliau bilang kalau grogi itu sebenarnya manusiawi, jadi normal-normal aja kalau kita merasakannya sebelum mulai bicara. Asli, ini langsung bikin aku ngerasa plong! Titik baliknya adalah kesadaran kalau kita nggak perlu memusuhi rasa gugup itu. Alih-alih dipaksa hilang, kuncinya justru ada di bagaimana cara kita mengendalikannya dan berdamai dengan situasi. Kak Prita juga membagikan tips praktis yang seru buat dicoba di tempat, mulai dari sesimpel mengatur napas biar tenang, sampai pentingnya benar-benar menguasai materi sebelum kita maju ke depan.
Nggak cuma bahas soal mental, kelasnya dikemas asyik banget waktu kita semua diajarin trik teknis biar pembawaan kita makin oke waktu dilihat orang. Mulai dari mengolah vokal atau auditori biar pesan kita tersampaikan jelas, sampai memaksimalkan gestur tubuh atau visual biar kita nggak kaku kayak patung di panggung. Nah, ada satu ilmu baru yang menarik banget buatku yaitu teknik bridging. Ini bukan sekadar transisi biasa, tapi seni menjembatani obrolan dari satu poin ke poin lain biar materi yang kita sampaikan tetap selaras dan mengalir tanpa terkesan patah-patah. Dari kelas ini aku baru paham kalau kekuatan utama dari public speaking itu bukan cuma soal kehebatan satu arah dari si pembicara saja, tapi tentang bagaimana kita menciptakan koneksi dan ngebangun interaksi dua arah yang hidup sama audiens.
Selain dapat ilmu daging, bagian paling luar biasa hari ini adalah momen waktu berkenalan dengan orang-orang baru dari berbagai kalangan. Di kelas ini, kita semua melepaskan atribut latar belakang masing-masing. Nggak ada yang peduli siapa dari mana atau apa statusnya, karena di sini kita semua berdiri di posisi yang sama: sama-sama mau belajar dan berproses dari nol. Nyali dan semangat semua orang di ruangan tadi buat keluar dari zona nyaman dan melatih kepercayaan diri di depan umum bener-bener bikin aku salut sekaligus terinspirasi banget.
Pulang dari pelatihan hari ini rasanya membawa energi yang benar-benar baru. Ruang belajar inklusif berbasis komunitas kayak Kampung Literasi Kaliurang ini menyadarkan aku kalau untuk bertumbuh, kita gak harus menunggu sampai menjadi sempurna dulu. Tempat ini menjadi bukti nyata kalau anak muda cuma butuh wadah yang aman dan bebas dari penghakiman untuk bisa saling merangkul kelemahan masing-masing, lalu berproses bareng jadi versi yang lebih baik. Keluar dari ruangan tadi, rasanya bukan cuma sekadar membawa pulang ilmu public speaking baru, tapi juga membawa keberanian untuk mulai bersuara dan menciptakan koneksi yang lebih bermakna di kehidupan sehari-hari.




























