PENDIDIKAN KARAKTER PADA ANAK SEKOLAH DASAR SEBAGAI FONDASI PEMBENTUKAN GENERASI BERINTEGRITAS DI ERA DIGITAL

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:18 WIB

50102 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto istimewa sang penulis  Hilda Pebriani)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Hilda pebriani Astuti Mahasiswa Unmuh Babel Prodi: PGSD

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu proses yang fundamental dalam membentuk kualitas sumber daya manusia, karena tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter, moral, dan kepribadian peserta didik. Hakikat pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian kemampuan akademik, melainkan juga diarahkan untuk membentuk individu yang memiliki nilai-nilai luhur, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, kepedulian sosial, toleransi, serta sikap religius.

Pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif tanpa diimbangi dengan pembentukan karakter berpotensi menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam aspek moral dan etika. Pendidikan karakter menjadi salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan pendidikan nasional, terutama pada jenjang Sekolah Dasar (SD), yang merupakan fase awal pembentukan kepribadian anak (Ananda, 2021).

Masa sekolah dasar merupakan periode yang sangat menentukan dalam perkembangan karakter anak. Peserta didik berada pada tahap perkembangan kognitif, emosional, sosial, dan moral yang sangat pesat. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak usia dini cenderung akan menjadi kebiasaan dan membentuk karakter yang menetap hingga mereka dewasa. Dalam perspektif psikologi perkembangan, usia sekolah dasar sering disebut sebagai masa pembentukan kebiasaan (habit formation), di mana anak memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap nilai, norma, dan budaya yang diperoleh dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat (Lestari & Hidayat, 2022).

Urgensi pendidikan karakter pada jenjang sekolah dasar semakin meningkat seiring dengan perkembangan era globalisasi dan digitalisasi yang berlangsung sangat cepat. Kemajuan teknologi informasi telah memberikan dampak positif terhadap dunia pendidikan, seperti kemudahan akses informasi, berkembangnya media pembelajaran digital, serta meningkatnya kesempatan peserta didik untuk memperoleh berbagai sumber belajar.

Akan tetapi, perkembangan tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan yang tidak dapat diabaikan. Anak-anak sekolah dasar kini lebih mudah mengakses internet, media sosial, permainan daring, maupun berbagai konten digital yang belum tentu sesuai dengan tingkat perkembangan usia mereka (Sari et al., 2023).

Tantangan pendidikan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan peningkatan kualitas akademik peserta didik, tetapi juga menyangkut bagaimana membangun karakter yang kuat agar mereka mampu menggunakan kemajuan teknologi secara bijaksana. Karakter yang baik akan menjadi benteng bagi anak dalam menyaring berbagai informasi dan pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan digital.
Berbagai permasalahan yang terjadi di lingkungan pendidikan saat ini semakin memperlihatkan pentingnya implementasi pendidikan karakter secara optimal.

Masih dijumpai berbagai perilaku yang mencerminkan rendahnya karakter peserta didik, seperti tindakan tidak jujur ketika mengerjakan tugas atau ujian, kurangnya rasa tanggung jawab terhadap kewajiban belajar, rendahnya disiplin dalam mematuhi tata tertib sekolah, perilaku tidak sopan kepada guru maupun teman sebaya, serta meningkatnya kasus perundungan di lingkungan sekolah. Permasalahan tersebut tidak hanya berdampak terhadap proses pembelajaran, tetapi juga memengaruhi perkembangan psikologis peserta didik serta iklim pendidikan secara keseluruhan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter belum sepenuhnya berjalan secara efektif dan memerlukan perhatian yang lebih serius dari seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan (Rahman & Wibowo, 2022).

Pendidikan karakter sesungguhnya tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah sebagai lembaga formal. Pembentukan karakter merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tiga pusat pendidikan. Keluarga menjadi lingkungan pertama yang memperkenalkan nilai-nilai moral kepada anak melalui pembiasaan, keteladanan, serta pola pengasuhan yang diterapkan setiap hari. Selanjutnya, sekolah memiliki peran untuk memperkuat nilai-nilai tersebut melalui proses pembelajaran, budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, maupun interaksi antara guru dan peserta didik.

Di sisi lain, masyarakat juga berkontribusi dalam membentuk karakter anak melalui norma sosial, budaya, dan lingkungan tempat mereka berinteraksi. Ketidaksinambungan antara ketiga lingkungan tersebut akan menyebabkan proses internalisasi nilai karakter menjadi kurang optimal sehingga anak mengalami kebingungan dalam menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari (Nugraha & Fitriani, 2021).

Sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat karakter generasi muda, pendidikan karakter telah menjadi salah satu fokus utama dalam kebijakan pendidikan nasional. Implementasi Kurikulum Merdeka menempatkan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Profil Pelajar Pancasila mengembangkan enam dimensi utama, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; berkebinekaan global; bergotong royong; mandiri; bernalar kritis; serta kreatif.

Keenam dimensi tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kompetensi akademik peserta didik, tetapi juga membentuk karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara (Prasetyo & Kurniawan, 2023).

Analisis Kritis
Pendidikan karakter pada hakikatnya merupakan proses penanaman nilai moral yang dilakukan secara sadar dan terencana agar peserta didik mampu memahami, menghayati, serta mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat berbagai kendala yang menyebabkan tujuan pendidikan karakter belum tercapai secara optimal.

Kecenderungan sekolah yang masih lebih berorientasi pada pencapaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Keberhasilan peserta didik sering kali diukur melalui nilai ujian, prestasi akademik, dan kemampuan kognitif. Aspek afektif dan pembentukan sikap kurang memperoleh perhatian yang seimbang. Padahal keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kecerdasan emosional, moral, dan sosial.
Perkembangan teknologi digital memberikan tantangan baru bagi pendidikan karakter. Anak-anak sekolah dasar memiliki akses yang semakin mudah terhadap internet dan media sosial. Tanpa pengawasan yang memadai, mereka dapat terpapar berbagai konten yang mengandung kekerasan, ujaran kebencian, maupun perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral. Paparan tersebut berpotensi memengaruhi pola pikir dan perilaku anak sehingga mereka cenderung meniru apa yang dilihat tanpa mampu menyaring informasi secara kritis.

Kurangnya konsistensi antara pendidikan di sekolah dan pendidikan dalam keluarga. Sekolah mungkin telah mengajarkan nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab, tetapi apabila lingkungan keluarga tidak memberikan teladan yang sama, maka peserta didik akan mengalami kebingungan dalam menerapkan nilai tersebut. Anak belajar bukan hanya melalui nasihat, melainkan juga melalui contoh nyata dari orang-orang di sekitarnya.

Masih terdapat guru yang memahami pendidikan karakter sebatas penyampaian teori tanpa memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik. Padahal karakter tidak dapat dibentuk hanya melalui ceramah atau hafalan mengenai nilai-nilai moral. Pendidikan karakter harus diwujudkan melalui pembiasaan, keteladanan, pengalaman langsung, budaya sekolah, serta interaksi positif antara guru dan peserta didik.
Permasalahan lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah pengaruh lingkungan sosial. Lingkungan pergaulan yang kurang kondusif dapat memengaruhi perilaku anak sehingga mereka lebih mudah melakukan tindakan negatif seperti berkata kasar, tidak menghargai orang lain, bahkan melakukan tindakan perundungan.

Argumentasi
Pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar karena karakter merupakan fondasi bagi perkembangan seluruh aspek kehidupan peserta didik. Anak yang memiliki karakter baik akan lebih mudah mengembangkan kemampuan akademik, membangun hubungan sosial yang sehat, serta mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Nilai kejujuran merupakan salah satu karakter yang harus ditanamkan sejak dini. Anak yang terbiasa bersikap jujur akan tumbuh menjadi pribadi yang dipercaya oleh orang lain.

Sebaliknya, apabila perilaku tidak jujur dibiarkan sejak kecil, maka kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi perilaku yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat pada masa dewasa. Sekolah perlu membangun budaya kejujuran melalui berbagai kegiatan seperti mengerjakan tugas secara mandiri, tidak menyontek saat ujian, dan berani mengakui kesalahan.

Kedisiplinan juga merupakan karakter yang sangat penting. Disiplin tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan sekolah, tetapi juga kemampuan mengatur waktu, menyelesaikan tugas tepat waktu, serta bertanggung jawab terhadap kewajiban yang dimiliki. Anak yang memiliki disiplin tinggi akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan karena terbiasa bekerja secara teratur dan konsisten.

Karakter peduli terhadap sesama juga perlu dikembangkan melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang bersifat kolaboratif. Guru dapat membiasakan peserta didik bekerja dalam kelompok, saling membantu teman yang mengalami kesulitan, serta melaksanakan kegiatan sosial di lingkungan sekolah.

Pendidikan karakter juga harus diintegrasikan dengan pendidikan literasi digital. Anak perlu dibimbing agar mampu menggunakan teknologi secara bijaksana, menghargai privasi orang lain, menghindari penyebaran informasi palsu, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Literasi digital yang disertai karakter yang kuat akan membantu peserta didik menjadi pengguna teknologi yang cerdas sekaligus bermoral.

Keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat diukur hanya melalui nilai rapor, tetapi lebih terlihat dari perubahan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang terbiasa mengucapkan salam, menghormati guru, menjaga kebersihan kelas, menaati peraturan sekolah, serta membantu teman tanpa diminta merupakan indikator bahwa pendidikan karakter telah berjalan dengan baik.

REKOMENDASI
Agar pendidikan karakter pada anak sekolah dasar berjalan secara optimal, diperlukan berbagai upaya yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.Sekolah perlu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam seluruh mata pelajaran sehingga tidak hanya menjadi tanggung jawab guru Pendidikan Agama atau Pendidikan Pancasila.

Guru harus menjadi teladan bagi peserta didik. Sikap disiplin, jujur, bertanggung jawab, sopan santun, dan menghargai orang lain yang ditunjukkan guru setiap hari akan menjadi contoh nyata yang mudah ditiru oleh anak-anak.
Orang tua perlu menjalin komunikasi yang baik dengan pihak sekolah agar pembentukan karakter dapat berlangsung secara konsisten baik di rumah maupun di sekolah.

Sekolah perlu menciptakan budaya sekolah yang mendukung pembentukan karakter melalui berbagai kegiatan seperti program literasi, kegiatan keagamaan, gotong royong, upacara bendera, bakti sosial, pembiasaan antre, menjaga kebersihan lingkungan, serta pemberian penghargaan kepada peserta didik yang menunjukkan perilaku positif.

Pemerintah perlu terus meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan mengenai strategi implementasi pendidikan karakter yang sesuai dengan perkembangan zaman.

KESIMPULAN
Pendidikan karakter pada anak sekolah dasar merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang berintegritas, bertanggung jawab, serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era digital. Pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan memerlukan proses pembiasaan yang berlangsung secara terus-menerus melalui kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Berita Terkait

Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang Laksanakan Program Kerja Bak Sampah di SDK Idalolong
Lulus Tanpa Skripsi : Terdengar Menggiurkan Tapi Sebenarnya Jebakan?
Quiet Quitting: Malas Bekerja atau Bentuk Kesadaran akan Work-Life Balance?
Lulus Kuliah, Lalu Menganggur: Apakah Jurusan yang Dipilih Masih Relavan dengan Dunia Kerja?
Perlukah Media Sosial Dibatasi Untuk Anak di Bawah 16 Tahun?
Hubungan Parasosial di Era Digital
Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 18:04 WIB

Zero Narkoba”, Lapas Perempuan Pekanbaru Pastikan Pegawai dan WBP Bersih Lewat Tes Urine

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Apresiasi Prestasi WBP”, Lapas Perempuan Pekanbaru Tutup PORSENAP dengan Pembagian Hadiah

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:12 WIB

Dukung Program Akselerasi, Lapas Perempuan Pekanbaru Bekali WBP Keterampilan Pertanian

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:54 WIB

Maulid Nabi di Lapas Perempuan Pekanbaru: Momentum Perbaiki Diri dan Perkuat Iman WBP

Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Panen Hasil Kerja Keras, Warga Binaan Lapas Perempuan Pekanbaru Buktikan Semangat Kemandirian

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:03 WIB

Rumah Gizi Lapas Perempuan Pekanbaru Jadi Ruang Edukasi dan Perlindungan Anak Warga Binaan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 01:28 WIB

Melalui Panen Kangkung, Lapas Perempuan Pekanbaru Bekali WBP Keterampilan dan Kemandirian

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Lapas Perempuan Pekanbaru Rutin Periksa Kesehatan Warga Binaan

Berita Terbaru

BMA Sebut Muzaki Terbesar di Aceh

ACEH

Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp11,94 Miliar

Rabu, 2 Sep 2026 - 00:58 WIB