Perlukah Media Sosial Dibatasi Untuk Anak di Bawah 16 Tahun?

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:36 WIB

5020 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

( foto ilustrasi AI)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Alfi Zahrin Qhardiani Mahasiswa PBI Unmuh Babel

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak-anak dan remaja. Mudahnya dalam mengakses media sosial dapat membuat anak-anak dengan cepat berkomunikasi, mencari informasi, dan mengekspresikan diri. Namun, penggunaan media sosial pada anak usia dini juga dapat menyebabkan kecanduan dan gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, pembatasan penggunaan media sosial pada anak di bawah umur sangat diperlukan.

Alasan perlunya pembatasan media sosial telah diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permen Komdigi) Nomor 9 tahun 2026, yaitu anak dibawah usia 16 tahun dilarang memiliki akun media sosial. Ini merupakan upaya pemerintah untuk melindungi anak dari dampak negatif, seperti konten-konten yang berisiko, perundungan siber, kecanduan media sosial, hingga eksploitasi daring. Meskipun aturan ini belum bisa sepenuhnya menghilangkan risiko karena masih ada celah seperti pemalsuan usia. Tetapi, dengan ditetapkannya aturan ini, negara mengakui adanya ancaman nyata dari ekosistem digital terhadap perkembangan anak-anak di Indonesia. Aturan tersebut tidak dibuat tanpa alasan, melainkan karena adanya berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan media sosial pada anak usia dini.

Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, karena media sosial dirancang untuk memberikan kepuasan instan yang meningkatkan dopamin di otak anak dan membuatnya merasa senang, sehingga anak menjadi sulit dalam mengatur waktu dan mengabaikan aktivitas lainnya seperti belajar. Anak yang terlalu sering menggunakan media sosial cenderung kehilangan fokus saat belajar dan menjadi kurang disiplin dalam mengerjakan tugas. Mereka lebih tertarik untuk membuka media sosial dibandingkan membaca buku atau mengulang pelajaran. Jika hal ini terus berlangsung, maka dapat mempengaruhi hasil belajar anak di sekolah. Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat mengurangi kemampuan bersosialisasi secara langsung.

Anak menjadi lebih nyaman berinteraksi melalui layar dibandingkan dengan berkomunikasi secara tatap muka. Akibatnya, kemampuan komunikasi dan empati anak dapat menurun. Padahal, interaksi sosial secara langsung sangat penting dalam proses perkembangan kepribadian anak. Selain dampak kecanduan dan dampak sosial, penggunaan media sosial juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak. Anak-anak yang terlalu sering menggunakan media sosial cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri, kecemasan, bahkan stres. Jika tidak diawasi, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Selain itu, anak-anak rentan terpapar konten kekerasan, ujaran kebencian, pornografi, dan informasi yang tidak sesuai dengan usia. Anak di bawah usia 16 tahun pada umumnya belum memiliki kemampuan berpikir kritis yang matang untuk menyaring informasi yang mereka terima. Mereka cenderung menerima informasi secara langsung tanpa mempertimbangkan kebenarannya. Akibatnya, anak mudah terpengaruh oleh tren negatif, berita hoax, maupun perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Penggunaan media sosial pada anak usia dini juga sering dipicu oleh kebiasaan orang tua yang sengaja memberikan gadget agar anak tetap diam dan tidak rewel. Meskipun terlihat sepele, hal ini justru dapat membuat anak menjadi terbiasa dan selalu bergantung pada media sosial.

Oleh karena itu, diperlukan peran orang tua yang bijak dalam memberikan akses media sosial kepada anak, seperti membatasi waktu penggunaan, memberikan pengawasan yang cukup, memperbanyak aktivitas fisik dan sosial, serta orang tua juga harus mengurangi penggunaan media sosial saat bersama anak, karena anak cenderung meniru perilaku orang tuanya. Penting juga bagi orang tua untuk menjalin komunikasi yang terbuka dengan anak mengenai penggunaan media sosial, sehingga anak merasa nyaman untuk bercerita apabila menemukan hal yang tidak menyenangkan di dunia digital. Pendekatan yang tidak hanya melarang, tetapi juga membimbing, akan membuat anak lebih memahami batasan dalam menggunakan media sosial. Selain itu, sekolah juga dapat berperan dengan memberikan edukasi mengenai penggunaan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab. Tidak hanya orang tua dan sekolah, lingkungan sekitar juga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak dalam menggunakan media sosial. Teman sebaya seringkali menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat penggunaan media sosial, karena anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh lingkungannya. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penggunaan media sosial secara bijak. Pemerintah pun perlu terus memperketat regulasi serta meningkatkan literasi digital agar anak-anak dapat lebih terlindungi dari dampak negatif media sosial. Dengan adanya kerja sama antara orang tua, sekolah, dan pemerintah, diharapkan anak-anak dapat menggunakan media sosial secara lebih bijak dan tidak berlebihan. Edukasi sejak dini menjadi kunci agar anak mampu memahami dampak positif dan negatif dari media sosial.

Selain itu, penting juga untuk memanfaatkan teknologi secara positif, seperti menggunakan media sosial untuk belajar, mencari informasi yang bermanfaat, serta mengembangkan keterampilan. Dengan pemanfaatan yang tepat, media sosial tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana yang mendukung perkembangan anak. Hal ini penting agar anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan bijak dalam menggunakan teknologi.

Dengan demikian, pembatasan penggunaan media sosial pada anak di bawah umur merupakan langkah yang sangat penting untuk melindungi perkembangan mereka. Meskipun masih terdapat berbagai kendala dalam penerapannya, upaya ini tetap diperlukan agar anak-anak dapat tumbuh dengan lebih sehat, baik secara mental maupun sosial. Oleh karena itu, kerja sama antara orang tua, sekolah, dan pemerintah sangat dibutuhkan agar penggunaan media sosial dapat lebih terkontrol dan memberikan manfaat yang positif.

Berita Terkait

Lulus Kuliah, Lalu Menganggur: Apakah Jurusan yang Dipilih Masih Relavan dengan Dunia Kerja?
Hubungan Parasosial di Era Digital
Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA
Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Lebih Bermanfaat atau Berbahaya?
Pernikahan Dini Langgar Hak Anak
Etika di Ruang Digital: Mengapa Sopan Santun di Media Sosial adalah Fondasi Karakter Bangsa

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:37 WIB

Dukung Penguatan Tata Kelola, Rutan Tanjung Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Kemenimipas

Rabu, 15 Juli 2026 - 02:39 WIB

Perkuat Disiplin & Integritas, Rutan Kelas IIB Tanjung Komitmen Tindaklanjuti Arahan Kakanwil

Rabu, 15 Juli 2026 - 02:17 WIB

Perkuat Tata Kelola, Kakanwil Ditjenpas Kalsel Monev Rutan Kelas IIB Tanjung

Senin, 13 Juli 2026 - 13:32 WIB

Tanamkan Nilai Pancasila, Rutan Kelas IIB Tanjung Gelar Upacara Kesadaran Berbangsa

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:31 WIB

Deteksi Dini Gangguan Kamtib, Ka. KPR Rutan Tanjung Pimpin Kontrol Area Hunian hingga SAE

Kamis, 9 Juli 2026 - 22:05 WIB

Rutan Tanjung Komitmen Wujudkan Tata Kelola SDM Objektif & Berbasis Kompetensi

Rabu, 8 Juli 2026 - 22:13 WIB

Ustadzah Erni Muliati: Jadikan Masa Pembinaan Momentum Perbaiki Diri & Dekat dengan Allah

Rabu, 8 Juli 2026 - 21:51 WIB

Sinergi Rutan Tanjung & Kemenag Tabalong Optimalkan Pembinaan Kepribadian Warga Binaan Nasrani

Berita Terbaru

ARTIKEL

Perlukah Media Sosial Dibatasi Untuk Anak di Bawah 16 Tahun?

Kamis, 16 Jul 2026 - 10:36 WIB