Quiet Quitting: Malas Bekerja atau Bentuk Kesadaran akan Work-Life Balance?

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:29 WIB

5011 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(sumber foto ilustrasi : pexels.com)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Nabila Carolina Mahasiswa PBI Unmuh Babel Nim 250441002

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting semakin sering muncul di media sosial maupun berbagai diskusi tentang dunia kerja. Meski namanya mengandung kata quitting atau “berhenti”, istilah ini sebenarnya tidak berarti seseorang mengundurkan diri dari pekerjaannya. Sebaliknya, quiet quitting menggambarkan kondisi ketika karyawan tetap menjalankan tugas sesuai dengan deskripsi pekerjaannya, tetapi tidak lagi memberikan usaha ekstra di luar kewajibannya, seperti lembur tanpa bayaran atau selalu siap membalas pesan pekerjaan di luar jam kerja. Fenomena ini juga dikenal dengan istilah acting your wage, yaitu bekerja sesuai dengan upah yang diterima.

Kemunculan tren ini memicu perdebatan yang cukup tajam, terutama antar generasi. Sebagian orang menganggap Gen Z menjadi kurang memiliki semangat kerja dan enggan berusaha lebih. Di sisi lain, banyak anak muda berpendapat bahwa mereka hanya ingin menjaga kesehatan mental dan menciptakan batas yang sehat antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Lalu, apakah quiet quitting benar-benar menunjukkan kemerosotan etos kerja, atau justru merupakan bentuk kesadaran baru terhadap pentingnya work-life balance?

Fenomena quiet quitting mulai menjadi perhatian dunia setelah pandemi COVID-19. Selama masa pandemi, banyak orang bekerja dari rumah sehingga batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi semakin kabur. Tidak sedikit pekerja yang harus menghadiri rapat saat waktu makan bersama keluarga, menerima pesan pekerjaan hingga larut malam, bahkan merasa dituntut untuk selalu tersedia selama 24 jam. Kondisi tersebut membuat banyak orang mulai mempertanyakan kembali hubungan mereka dengan pekerjaan. Sebuah survei Gallup bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di dunia berada pada kategori “tidak terlibat” (not engaged), yang menjadi salah satu indikator munculnya fenomena quiet quitting.

Jika dilihat dari sudut pandang ini, quiet quitting sebenarnya dapat dipahami sebagai respons yang wajar. Selama bertahun-tahun, banyak pekerja diajarkan bahwa bekerja lebih keras, mengambil lembur, dan selalu memberikan usaha ekstra merupakan jalan menuju promosi dan penghargaan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa budaya kerja berlebihan justru meningkatkan risiko stres berkepanjangan, kecemasan, hingga burnout, terutama pada generasi muda. Karena itu, ketika Gen Z menetapkan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, mereka bukan sedang menolak untuk bekerja. Mereka hanya menolak bekerja melebihi kewajibannya tanpa adanya penghargaan atau kompensasi yang sepadan.

Meski demikian, kritik terhadap quiet quitting tetap bermunculan. Sebagian kalangan berpendapat bahwa kesuksesan karier membutuhkan inisiatif, pengorbanan, dan kemauan untuk melakukan lebih dari sekadar memenuhi tugas pokok. Menurut pandangan ini, bekerja hanya sesuai deskripsi pekerjaan dianggap menunjukkan minimnya ambisi dan semangat berkembang. Generasi sebelumnya pun mengaku pernah mengalami tekanan dan kelelahan, tetapi tetap bertahan karena percaya bahwa kerja keras akan membuka lebih banyak kesempatan.

Namun, jika dicermati lebih dalam, kondisi dunia kerja saat ini tidak lagi sama seperti beberapa dekade lalu. Biaya hidup terus meningkat, sementara kenaikan upah di banyak sektor tidak selalu sejalan. Selain itu, loyalitas kepada perusahaan juga tidak lagi menjamin keamanan pekerjaan. Banyak anak muda menyaksikan orang tua mereka kehilangan pekerjaan meskipun telah mengabdi selama puluhan tahun. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika generasi sekarang mulai mempertanyakan budaya kerja yang mengharuskan mereka terus memberikan pengorbanan tanpa kepastian imbal balik. Bahkan, beberapa ahli berpendapat bahwa akar masalah quiet quitting sering kali bukan terletak pada karyawan, melainkan pada lingkungan kerja dan kepemimpinan yang kurang mampu memberikan dukungan, apresiasi, maupun motivasi kepada para pekerjanya.

Menurut saya, quiet quitting bukanlah bentuk kemalasan, tetapi juga bukan sesuatu yang sepenuhnya benar. Fenomena ini lebih tepat dipandang sebagai sinyal bahwa cara pandang terhadap dunia kerja sedang mengalami perubahan. Perusahaan perlu mengevaluasi apakah beban kerja yang diberikan sudah seimbang dengan kompensasi dan penghargaan yang diterima karyawan. Di sisi lain, para pekerja muda juga perlu menyadari bahwa perkembangan diri tetap membutuhkan kemauan untuk belajar, mengambil tantangan, dan terus meningkatkan kemampuan. Menjaga keseimbangan hidup bukan berarti menghindari setiap bentuk tanggung jawab.

Pada akhirnya, quiet quitting mencerminkan perubahan cara generasi muda memaknai kesuksesan dan kesejahteraan hidup. Daripada melihatnya sebagai pertentangan antara generasi yang “malas” dan generasi yang “rajin”, fenomena ini seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun budaya kerja yang lebih sehat. Lingkungan kerja yang baik bukanlah lingkungan yang menuntut seseorang bekerja tanpa batas, melainkan tempat di mana setiap orang dapat bekerja secara profesional tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadinya.

Berita Terkait

Lulus Kuliah, Lalu Menganggur: Apakah Jurusan yang Dipilih Masih Relavan dengan Dunia Kerja?
Perlukah Media Sosial Dibatasi Untuk Anak di Bawah 16 Tahun?
Hubungan Parasosial di Era Digital
Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA
Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Lebih Bermanfaat atau Berbahaya?
Pernikahan Dini Langgar Hak Anak

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:29 WIB

Quiet Quitting: Malas Bekerja atau Bentuk Kesadaran akan Work-Life Balance?

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:41 WIB

Lulus Kuliah, Lalu Menganggur: Apakah Jurusan yang Dipilih Masih Relavan dengan Dunia Kerja?

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:52 WIB

Hubungan Parasosial di Era Digital

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:43 WIB

Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:22 WIB

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:14 WIB

DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:05 WIB

Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Lebih Bermanfaat atau Berbahaya?

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:56 WIB

Pernikahan Dini Langgar Hak Anak

Berita Terbaru