
Kutacane| Timelines iNews Investigasi | Setelah selesainya Ujian Semester Ganjil akhir Tahun 2025, Pondok Pesantren Thawalib menggelar Panggung Gembira Pentas Seni sebagai sarana penyegaran dan ekspresi bakat santri. Kegiatan ini dilaksanakan di kompleks Pondok Pesantren Thawalib pada Minggu, 31 Januari 2026.
Acara tersebut digelar berdasarkan undangan resmi dari pihak sekolah kepada para wali santri, dengan tujuan mempererat silaturahmi antara tenaga pendidik dan wali santri, sekaligus menampilkan berbagai kemampuan ekstrakurikuler santri yang telah dibina selama ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Thawalib, Jonifar Angara, SE., M.Ak, dalam sambutannya menjelaskan bahwa akar kata Thawalib berasal dari bahasa Arab thalaba–yatlubu yang berarti menuntut.
“Sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini, kita wajib menuntut ilmu. Ada pepatah yang mengatakan, tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan memiliki tiga jalur, yakni formal, informal, dan nonformal. Pendidikan formal ditempuh melalui jenjang sekolah, pendidikan informal melalui keluarga, dan pendidikan nonformal melalui masyarakat.
Jonifar juga menyampaikan bahwa Pondok Pesantren Thawalib merupakan salah satu pondok pesantren yang berada di tengah kota. Pesantren ini menjadi tempat pembinaan akhlakul karimah, penguasaan bahasa Arab dan Inggris, serta pengembangan berbagai kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan visi Pondok Pesantren Thawalib, yaitu:
Membentuk pribadi yang unggul, beriman, berakhlak, menguasai IPTEK, disiplin, berprestasi, berkarakter Islami, dan berjiwa pemimpin.
Sedangkan misi Pondok Pesantren Thawalib meliputi:
1. Melahirkan generasi Islami yang berkualitas.
2. Mencetak generasi Islami yang mandiri, beriman, berakhlak, dan bertakwa.
3. Menciptakan generasi Islami yang mampu mentransformasikan ilmu dalam berbagai kondisi masyarakat.
4. Mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung aktivitas peserta didik.
5. Menjalankan pendidikan dakwah, sosial, dan ekonomi secara proporsional.
Adapun motto Pondok Pesantren Thawalib adalah:
“Berdiri di atas dan untuk semua golongan.”
Pada Panggung Gembira tahun ajaran 2026/2027 ini, terdapat sepuluh penampilan santriwan dan santriwati. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan pidato tiga bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia), Tari Saman, Tari Delapan Etnis, pertunjukan silat, karate, Tari Kutiding, drama “Ayah Aku Sudah Mondok”, dance Semapure, drama “Sekaratul Maut”, puisi berantai, hingga penampilan lagu pop.
Seluruh rangkaian acara berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Setelah kegiatan Panggung Gembira selesai, acara dilanjutkan dengan pembagian rapor santri, sekaligus menjadi penutup kegiatan.
Salah seorang wali santri asal Kabupaten Gayo Lues, Husen, yang merupakan tenaga pendidik di SDN 5 Putri Betung, mengungkapkan rasa haru dan kepuasannya. Ia mengaku berangkat menuju Kutacane sejak selesai salat Subuh menggunakan kendaraan roda dua, meski harus menempuh medan jalan yang cukup berat akibat dampak banjir dan longsor.
“Perjalanan memang melelahkan, tetapi semua terbayar setelah saya menyaksikan langsung penampilan dan kreativitas anak-anak di Pondok Pesantren Thawalib. Saya merasa bangga, puas, dan terharu melihat hasil pembinaan ekstrakurikuler yang diberikan para tenaga pendidik,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah daerah, khususnya dinas yang membidangi dayah dan pesantren, dapat memberikan perhatian lebih serta dukungan moral maupun kebijakan terhadap Pondok Pesantren Thawalib.
“Banyak santri di sini berasal dari Gayo Lues. Apa yang ditampilkan hari ini membuktikan bahwa anak-anak kita memiliki potensi besar setelah mondok di Thawalib,” pungkasnya. (Madiansyah)

































