MAKRIFAT CINTA MEMBARA DI DADA Cak Haba – Penyair Sufistik

REDAKSI 1

- Redaksi

Rabu, 4 Maret 2026 - 20:16 WIB

50197 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKRIFAT CINTA MEMBARA DI DADA

Cak Haba – Penyair Sufistik

Sejak awal 1980, saya membuat pengakuan yang cukup menggelitik rasa penasaran pembaca melalui Twitter dan FB saya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya mengaku seorang “Sufi.”

Muncul pertanyaan dari para pembaca:

“Mana ada seorang sufi mengaku dirinya seorang sufi?”

 

Argumen saya:

Pertama, seorang spionase tidak akan pernah mengaku dirinya seorang spionase karena ia menjaga kerahasiaannya.

Namun, ada pula yang mengaku terang-terangan bahwa dirinya seorang spionase agar orang-orang tidak percaya dan justru mencibir:

“Mana ada seorang spionase mengaku dirinya spionase.”

Semakin banyak orang tidak percaya bahwa dirinya seorang sufi, maka dia akan lebih aman menyimpan kerahasiaannya.

Kedua, saya mengaku seorang sufi karena merasa bersalah. Karenanya, di setiap pertemuan dengan teman, sahabat, dan handai taulan, saya selalu memiliki banyak kesempatan untuk meminta maaf.

Sufisme mengajarkan kita adanya pengakuan bersalah serta permohonan maaf kepada sesama makhluk, dan memohon ampunan kepada Sang Khalik. Saya mengaku sufi demi mengikatkan diri saya sendiri secara erat kepada prinsip rendah hati.

Ketiga, saya mengaku sufi untuk mendekonstruksi pemahaman para pembaca bahwa sufi adalah makhluk langitan yang sepasang kakinya tidak menginjak bumi, yang jari-jemarinya sibuk memutar butiran tasbih, serta mengasingkan diri dari peradaban dan keramaian gonjang-ganjing manusia modern.

Seorang sufi ialah orang yang sangat manusiawi. Artinya, ia tidak melepaskan lezatnya duniawi semata. Sufi itu bisa saja kita temui di pasar atau di jalanan: berambut gondrong, dekil, berpakaian tidak seperti kebanyakan orang, mencibir, menghina, bahkan memperolok sepuas hatinya.

Saya nukilkan syair lama yang ditulis oleh penyair kawakan Hamzah Fansuri dengan pesan yang sangat dalam.

 

Syair Perahu Versi I

Kayu itulah terlalu tinggi

Sungguhpun besar asalnya biji

Buahnya lengkap tiada tersembunyi

Sungguhpun lengkap tiada terdinding

Perahumu itu bernama Bentara

Awalnya tumbuh di padang belantara.

(Braginsky, 1998)

Sebagai referensi untuk memperkaya khazanah sastra sufistik, saya hamparkan kepada para pembaca beberapa penyair sufistik.

 

1. Rabi’ah Al-Adawiyah

Seorang sufi perempuan yang menuangkan rasa cintanya yang begitu bergelora kepada satu-satunya Kekasih.

ALLAH

Ya Allah,

jika aku menyembah-Mu

karena takut pada neraka,

bakarlah aku di dalamnya.

Dan jika aku menyembah-Mu

karena mengharap surga,

campakkanlah aku darinya.

Tetapi jika aku menyembah-Mu

demi cinta pada-Mu semata,

jangan Engkau enggan memperlihatkan

keindahan wajah-Mu yang abadi padaku.

 

2. Al-Hallaj

TUHAN

Aku adalah Dia yang kucintai,

dan Dia yang kucintai adalah aku.

Kami adalah dua roh

yang bertempat dalam satu tubuh.

Jika Engkau melihat aku, engkau melihat-Nya.

Jika engkau melihat-Nya, engkau melihat kami.

 

“Dulu tasawuf (spiritualitas Islam) sempat disunyi-senyapkan, didiamkan, dianaktirikan, bahkan dianggap irasional. Kini…?”

 

H. Hasan Basri Mansur, Alc.

Penyair Sufistik Banten

Lahir di Dusun Prenduan, Madura

Alumni perdana Al-Amien Prenduan (1977)

Kaperwil Banten TLii

Kabiro Kabupaten Tangerang TLii

Berita Terkait

Ribuan Warga Tumpah Ruah, Semarak Muharram 1448 H Gema Syiar Islam dan Kepedulian Sosial di Aceh Utara
Tiga Remaja Utusan Gampong Kiran Dayah Raih Prestasi di Festival Islami HUT Pidie Jaya ke-19
Ayah Wa Matangkan Perayaan 1 Muharram 1448 H, Pawai Akbar dan 48 Stan Bazaar Siap Semarakkan Aceh Utara
SBC Ajak Masyarakat Ramaikan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Al-Istiqamah Hanura
Uqubat Cambuk di Lhokseumawe Kembali Menggema, Satu Terpidana Gagal Dieksekusi Karena Sakit
Pengajian Tilawah Al-Quran Masjid Hubbul Mukmin: Ciptakan Generasi Muda yang Qur’ani
183 Jamaah Haji Pidie Jaya Dipeusijuk, Bupati Serahkan Bingkisan
Ziarah Kubur Membludak di Hari Kedua Lebaran di Tanoh Anoe

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:05 WIB

Jalu Yuswa Panjang: Ucapkan 1 Muharram 1448 H Momentum Introspeksi & Perkuat Pengabdian Pemasyarakatan

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:18 WIB

Bapas Kls I Medan Kriston Napitulu Ucapkan 1 Muharram 1448 H Jadi Momentum Refleksi & Perkuat Pelayanan Humanis

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:08 WIB

Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, Karutan Tanjung Pura Ajak Tingkatkan Keimanan Dan Pererat Silaturahmi

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:52 WIB

14.967 Penumpang Dilayani KAI Divre I Sumut Saat 1 Muharram 1448 H, KA Sribilah Fakultatif Kembali Beroperasi

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:12 WIB

Semester I 2026, Polres Simalungun Ringkus 69 Tersangka Kejahatan 3C dan Bongkar Perdagangan Satwa Dilindungi

Selasa, 16 Juni 2026 - 16:29 WIB

Dari Masjid Jamik ke Stadion PJKA, Pelindo Regional 1 Rayakan 1 Muharram 1448 H Bersama Masyarakat Medan Utara

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:45 WIB

Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polda Sumut Gelar Bakti Kesehatan Donor Darah untuk Kemanusiaan

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:37 WIB

“Pengamanan Humanis Warnai Aksi Penyampaian Aspirasi Mahasiswa di Gedung DPRD Sumut”

Berita Terbaru

ACEH

SMKN 2 Kutacane Cetak Generasi untuk dunia usaha

Rabu, 17 Jun 2026 - 12:23 WIB