PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA DIGITAL : TANTANGAN DAN STRATEGI MEMBENTUK GENERASI BERAKHLAK MULIA

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:21 WIB

5059 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto ilustrasi Mts negeri 8 Sleman )

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Hesti Lawanti Mahasiswa Unmuh Babel Nim (250141151)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Kehadiran internet, media sosial, dan berbagai perangkat digital memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi serta mendukung proses pembelajaran.

Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, perkembangan teknologi juga menimbulkan tantangan baru, terutama dalam pembentukan karakter generasi muda. Fenomena seperti kecanduan gawai, penyebaran hoaks, cyberbullying, menurunnya etika berkomunikasi, dan rendahnya kepedulian sosial menjadi permasalahan yang semakin sering dijumpai di kalangan peserta didik.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga harus mampu membentuk karakter yang baik. Pendidikan karakter menjadi aspek penting dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang menekankan pengembangan manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.

Menurut Imam Gunawan, karakter mencakup sikap, perilaku, motivasi, dan keterampilan yang menjadi landasan seseorang dalam bertindak. Karakter bukanlah sesuatu yang diwariskan sejak lahir, melainkan harus dibangun dan dikembangkan melalui proses yang panjang dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu diterapkan secara konsisten baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat agar mampu membentuk generasi yang berintegritas dan siap menghadapi tantangan zaman.

Menurut Rasyid dkk. (2024), menjelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan proses pembentukan nilai-nilai moral dan perilaku positif yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik. Pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan konsep tentang baik dan buruk, tetapi juga membiasakan peserta didik untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, toleransi, dan kepedulian sosial menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter seseorang. Pendidikan karakter memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas. Pendidikan karakter membantu peserta didik mengembangkan kepribadian yang baik, mencegah berbagai masalah sosial, serta mendukung keberhasilan akademik. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah.

Imam Gunawan menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk teori atau pengetahuan. Pendidikan karakter harus diwujudkan melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep karakter tidak boleh hanya menjadi bagian dari silabus atau rencana pembelajaran, tetapi harus diterapkan secara nyata melalui perilaku seluruh warga sekolah. Kunci keberhasilan pendidikan karakter terletak pada disiplin, komitmen, dan penerapan yang berkelanjutan.

Menurut Anni Annisa dkk. (2025), Pendidikan karakter membantu peserta didik mengembangkan kepribadian yang baik, mencegah berbagai masalah sosial, serta mendukung keberhasilan akademik. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah.

pentingnya pendidikan karakter bagi anak usia dini di tengah perkembangan teknologi digital. Era digital memberikan dampak positif sekaligus negatif terhadap perkembangan karakter anak. Di satu sisi, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang efektif. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perilaku anak secara negatif.

Melalui kegiatan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya orang tua, penelitian tersebut menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak. Orang tua tidak hanya bertugas mengawasi penggunaan teknologi, tetapi juga menjadi teladan dalam penerapan nilai-nilai moral di lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak sebelum mereka memasuki lingkungan sekolah dan masyarakat. Menurut penulis, tantangan pendidikan karakter pada era digital jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya.

Anak-anak dan remaja saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi. Mereka dapat mengakses berbagai informasi kapan saja dan di mana saja tanpa adanya batasan yang jelas. Kondisi ini membuat pendidikan karakter menjadi semakin penting karena teknologi yang tidak digunakan secara bijak dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan moral dan perilaku peserta didik.

Oleh karena itu, pendidikan karakter harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Salah satu bentuk penyesuaian tersebut adalah melalui penguatan literasi digital. Peserta didik perlu diajarkan bagaimana menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, menghargai privasi orang lain, menghindari penyebaran informasi palsu, serta menjaga etika dalam berkomunikasi di dunia maya. Literasi digital yang didukung oleh pendidikan karakter akan membantu peserta didik menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan bertanggung jawab.

Selain itu, keteladanan dari guru dan orang tua menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan karakter. Anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari. Oleh karena itu, guru dan orang tua harus mampu menjadi contoh dalam menunjukkan sikap disiplin, jujur, sopan, dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter tidak akan berhasil apabila hanya diajarkan melalui teori tanpa adanya contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter.

Ketiga lingkungan tersebut harus memiliki tujuan yang sama dalam membentuk karakter peserta didik. Ketika nilai-nilai yang diajarkan di sekolah diperkuat oleh keluarga dan masyarakat, maka proses pembentukan karakter akan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Selain penguatan literasi digital, sekolah memiliki peran strategis dalam mengimplementasikan pendidikan karakter secara nyata.

Sekolah bukan hanya tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi lingkungan yang membentuk kebiasaan dan perilaku peserta didik. Melalui berbagai program pembiasaan, seperti budaya antre, kegiatan gotong royong, upacara bendera, kegiatan keagamaan, dan program peduli lingkungan, sekolah dapat menanamkan nilai-nilai karakter secara berkelanjutan. Ketika peserta didik terbiasa melakukan tindakan positif setiap hari, nilai-nilai tersebut akan tertanam dan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Pendidikan karakter juga dapat diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran. Guru tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga mengaitkan materi tersebut dengan nilai-nilai moral yang relevan. Misalnya, dalam pembelajaran sejarah, peserta didik dapat mempelajari nilai nasionalisme dan semangat perjuangan para pahlawan.

Dalam pembelajaran sains, peserta didik dapat diajarkan pentingnya kejujuran dalam melakukan penelitian dan pengamatan. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak berdiri sendiri sebagai materi tambahan, melainkan menjadi bagian yang menyatu dalam seluruh proses pendidikan. Tantangan lain yang dihadapi dalam pendidikan karakter adalah pengaruh media sosial yang sangat kuat terhadap kehidupan generasi muda.

Saat ini, media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi sumber informasi, hiburan, dan pembentukan identitas diri. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar di media sosial memiliki nilai positif. Banyak peserta didik yang terpapar konten kekerasan, ujaran kebencian, perilaku konsumtif, hingga budaya instan yang dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak mereka. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar mampu menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.

Menurut penulis, salah satu indikator keberhasilan pendidikan karakter adalah kemampuan peserta didik dalam menerapkan nilai-nilai moral ketika menghadapi situasi nyata. Karakter yang baik tidak hanya terlihat dari kemampuan seseorang memahami teori tentang kebaikan, tetapi juga dari kesediaannya untuk berbuat jujur, bertanggung jawab, dan menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, evaluasi pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui tes tertulis, melainkan perlu melihat perubahan sikap dan perilaku peserta didik secara langsung. Pada akhirnya, pendidikan karakter harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan memang sangat penting, tetapi tanpa karakter yang kuat, kemajuan tersebut dapat disalahgunakan dan menimbulkan berbagai permasalahan sosial.

Sebaliknya, apabila pendidikan karakter berhasil diterapkan secara konsisten, maka Indonesia akan memiliki generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan tanggung jawab yang tinggi terhadap bangsa dan negara. Pendidikan karakter juga memberikan berbagai manfaat bagi individu maupun masyarakat. Pendidikan karakter mampu meningkatkan kesadaran moral, mengurangi kenakalan remaja, menumbuhkan rasa toleransi, serta membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap ilmu dan keterampilan yang dimilikinya. Dengan karakter yang kuat, seseorang akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Pendidikan karakter merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang berkualitas di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Tantangan seperti penyalahgunaan media sosial, cyberbullying, penyebaran hoaks, dan menurunnya etika komunikasi menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menghadapi dinamika zaman. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus menjadi prioritas dalam sistem pendidikan.

Keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga memerlukan dukungan keluarga dan masyarakat. Penguatan literasi digital, keteladanan, pembiasaan nilai-nilai moral, serta kerja sama berbagai pihak perlu dilakukan secara konsisten agar peserta didik mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, moral yang baik, dan karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Annisa, A., Puniman, A., Yudiati, R., & Rizqi, H. (2025). Pendidikan Karakter Anak di Era Digital. RAMPA’ NAONG (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat), 3(1).

Gunawan, Imam. 2015. Pendidikan Karakter. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Muslich, M. (2022). Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Najili, H., Juhana, H., Hasanah, A., & Arifin, B. S. (2022). Landasan Teori Pendidikan Karakter. JIIP- Jurnal llmiah IIlmu Pendidikan,5(7)

Rasyid, R., Fajri, M. N., Wihda, K., Ihwan, M. Z. M., & Agus, M. F. (2024). Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Dunia Pendidikan. Jurnal Basicedu, 8(2), 1278–1285.

Samani, M., & Hariyanto. (2020). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Berita Terkait

Hubungan Parasosial di Era Digital
Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA
Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Lebih Bermanfaat atau Berbahaya?
Pernikahan Dini Langgar Hak Anak
Etika di Ruang Digital: Mengapa Sopan Santun di Media Sosial adalah Fondasi Karakter Bangsa
Lulus Tanpa Skripsi, Siapkah Mahasiswa? Pentingnya Bersikap Jeli Terhadap Kebijakan Baru 

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:19 WIB

Dukung Transformasi, Lapas Tebing Tinggi Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Secara Virtual

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:47 WIB

Rutan Tanjung Pura Serahkan Alat Kebersihan kepada 26 Warga Binaan Tamping untuk Wujudkan Lingkungan Bersih

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:40 WIB

Sidang TPP Integrasi Rutan Tanjung Pura Bahas Usulan Integrasi 10 Narapidana dan Tamping Luar Tembok

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:23 WIB

Komitmen Zero HALINAR, Lapas Narkotika Langkat Pastikan Perangkat Jammer Berfungsi Optimal

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:13 WIB

Dukung Reintegrasi Sosial, Rutan Labuhan Deli Buka Ruang Kolaborasi dengan Universitas Sari Mutiara Indonesia

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:44 WIB

Bapas Palangka Raya Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Secara Virtual

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:20 WIB

Audiensi Hangat Bapas Palangka Raya dengan Panglima Kodam XXII/Tambun Bungai

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:38 WIB

Lebih Dekat & Efektif: Pos Bapas Kapuas Mudahkan Klien Wajib Lapor & Konsultasi

Berita Terbaru

NASIONAL

Vavada online casino w Polsce – wypłaty

Kamis, 16 Jul 2026 - 05:03 WIB