(foto ilustrasi pusat perpustakaan UIN siber syekh Nurjati Cirebon)
TIMELINES INEWS INFESTIGASI
Penulis: Siti Nur Aisyah Sutari Mahasiswa Unmuh Babel Nim (250141088)
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang saat ini menjadi perhatian adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kehadiran AI menawarkan berbagai kemudahan dalam proses belajar, mulai dari membantu mencari informasi, menyusun materi pembelajaran, memberikan umpan balik terhadap tugas, hingga membantu guru dalam melakukan evaluasi hasil belajar.
Di tengah perkembangan tersebut, AI menjadi salah satu simbol transformasi pendidikan menuju sistem pembelajaran yang lebih modern, efektif, dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Namun, di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, muncul pertanyaan penting mengenai bagaimana menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar tidak tergeser oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat. Pada dasarnya, teknologi diciptakan untuk membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan lebih efisien.
Dalam dunia pendidikan, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat yang mendukung proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti guru maupun peserta didik. AI mampu memberikan akses informasi dalam waktu singkat, membantu menyusun contoh soal, memberikan penjelasan terhadap konsep-konsep tertentu, hingga membantu peserta didik menemukan referensi belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kemampuan tersebut menjadikan AI sebagai salah satu inovasi yang berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran apabila digunakan secara tepat. Kemudahan yang diberikan AI juga sangat dirasakan oleh guru. Pekerjaan administratif seperti menyusun soal, membuat perangkat pembelajaran, merancang aktivitas belajar, hingga melakukan analisis hasil evaluasi dapat dilakukan dengan lebih cepat.
Waktu yang sebelumnya banyak digunakan untuk pekerjaan administratif dapat dialihkan menjadi kesempatan bagi guru untuk lebih fokus membimbing peserta didik, memahami karakter belajar mereka, serta membangun komunikasi yang lebih baik di dalam kelas. Dengan demikian, teknologi bukan hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga memberikan ruang yang lebih luas bagi guru untuk menjalankan perannya sebagai pendidik.
Bagi peserta didik, AI mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih fleksibel. Mereka dapat mempelajari materi kapan saja, memperoleh penjelasan tambahan ketika mengalami kesulitan, bahkan mendapatkan latihan soal yang disesuaikan dengan kemampuan masing masing. Meskipun demikian, penggunaan AI juga menghadirkan berbagai tantangan yang tidak dapat diabaikan.
Kemudahan memperoleh jawaban secara instan sering kali membuat sebagian peserta didik menjadi kurang terdorong untuk berpikir secara mandiri. Tidak sedikit yang hanya menyalin hasil dari AI tanpa memahami isi maupun melakukan pengecekan terhadap kebenaran informasi yang diperoleh. Kebiasaan tersebut dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta keterampilan menulis yang seharusnya berkembang melalui proses belajar yang aktif.
Jika kondisi ini terus berlangsung, peserta didik akan lebih terbiasa menerima jawaban daripada membangun pemahaman melalui proses berpikir. Selain itu, penggunaan AI yang tidak disertai tanggung jawab juga dapat meningkatkan risiko pelanggaran etika akademik. Tugas yang sepenuhnya dibuat oleh AI tanpa adanya proses pengolahan kembali oleh peserta didik berpotensi mengurangi nilai kejujuran dalam pembelajaran.
Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan jawaban yang benar, tetapi juga membentuk karakter, tanggung jawab, integritas, dan kemampuan memecahkan masalah. Oleh karena itu, keberhasilan belajar tidak dapat diukur hanya dari hasil akhir, melainkan juga dari proses yang dilalui peserta didik untuk memperoleh pengetahuan tersebut. Di sinilah konsep Human in the Loop AI menjadi sangat penting untuk diterapkan dalam dunia pendidikan.
Konsep ini menempatkan manusia sebagai pengendali utama dalam penggunaan AI. Teknologi digunakan untuk membantu proses belajar, sedangkan guru tetap memiliki peran dalam memberikan arahan, melakukan evaluasi, mengoreksi informasi, serta memastikan bahwa hasil yang diperoleh benar-benar dipahami oleh peserta didik. Dengan kata lain, AI tidak bekerja sendiri, melainkan selalu berada di bawah pengawasan manusia sehingga keputusan akhir tetap berada pada guru dan peserta didik.
Pendekatan tersebut mampu menciptakan keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. AI dapat memberikan rekomendasi atau masukan berdasarkan data yang dimiliki, tetapi kemampuan memahami kondisi emosional peserta didik, memberikan motivasi, menanamkan karakter, serta membangun hubungan sosial tetap menjadi tanggung jawab manusia. Guru memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh mesin, yaitu empati, kepedulian, intuisi, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai inilah yang menjadi inti dari proses pendidikan sehingga tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Humanisasi AI dalam pendidikan juga berarti menjadikan teknologi sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir, bukan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas. Peserta didik perlu dibiasakan menggunakan AI sebagai teman berdiskusi, sumber inspirasi, atau alat untuk memperoleh referensi awal. Setelah itu, mereka tetap harus membaca berbagai sumber lain, membandingkan informasi, melakukan analisis, menyusun pendapat sendiri, dan menghasilkan karya yang mencerminkan pemikiran pribadi. Dengan cara tersebut, AI justru dapat menjadi media yang mendorong peningkatan literasi, kreativitas, kemampuan komunikasi, dan keterampilan berpikir kritis.
Di sisi lain, guru juga memiliki tanggung jawab untuk membangun literasi digital peserta didik. Kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup hanya sebatas mengetahui cara mengoperasikan aplikasi AI. Peserta didik perlu memahami bagaimana memanfaatkan AI secara etis, bertanggung jawab, serta mampu mengevaluasi keakuratan informasi yang diperoleh.
Literasi digital menjadi bekal penting agar peserta didik tidak mudah menerima informasi tanpa proses verifikasi. Kemampuan tersebut akan sangat dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan teknologi yang terus berubah di masa depan. Pendidikan yang humanis pada akhirnya tidak menolak perkembangan AI, tetapi mengarahkan penggunaannya agar tetap berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh.
AI dapat membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran, mempercepat akses informasi, serta mendukung inovasi dalam proses belajar mengajar. Namun, teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai dasar pendidikan seperti kejujuran, tanggung jawab, kreativitas, kerja sama, kepedulian, dan penghargaan terhadap proses belajar. Justru melalui perpaduan antara kecanggihan teknologi dan sentuhan manusia, pendidikan dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat serta mampu menggunakan teknologi secara bijaksana.
Dengan demikian, masa depan pendidikan tidak terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan pada bagaimana manusia mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Artificial Intelligence seharusnya diposisikan sebagai mitra yang memperkuat proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti guru ataupun pengganti kemampuan berpikir peserta didik. Ketika nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi landasan utama dalam penggunaan teknologi, AI akan menjadi sarana yang mampu mendorong lahirnya pendidikan yang lebih berkualitas, inklusif, inovatif, dan tetap menjunjung tinggi martabat manusia di tengah era transformasi digital.
SUMBER
Setiawan, Adi, and Ulfah Khairiyah Luthfiyani. “Penggunaan ChatGPT Untuk Pendidikan di Era Education 4.0.” Jurnal Petisi 4.01 (2023).
Yudianto, Arif, and Novi Andri Nurcahyono. “Lebih bijak dan pintar menggunakan kecerdasan buatan.” SEMNASFIP (2024).
Zahara, Sofi Liza, Zahira Ula Azkia, and Muhammad Minan Chusni. “Implementasi Teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam Bidang Pendidikan.” Jurnal Penelitian Sains Dan Pendidikan (JPSP) 3.1 (2023): 15-20.
Zakiyah, Nisa Ul, et al. “Penggunaan AI dalam dunia pendidikan.” Mahira 4.1 (2024): 1-16.
Saputra, Ade Bayu. Peran AI dalam dunia pendidikan. CV Brimedia Global, 2023.
Saputra, Ade Bayu. Peran AI dalam dunia pendidikan. CV Brimedia Global, 2023.
Fauziddin, Mohammad, and Mallevi Agustin Ningrum. “Symantic literature review: Manfaat Artificial Intelligence (AI) pada pendidikan anak usia dini di Indonesia.” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 8.6 (2024): 1475-1488.























