(foto istimewa sang penulis Nazipau Nisah)
TIMELINES INEWS INFESTIGASI
Penulis: Nazipau Nisah Mahasiswa PBI Unmuh Babel Nim 250441023
Di era saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Data terbaru Hootsuite dan We Are Social tahun 2026 mencatat ada lebih dari 190 juta pengguna aktif di negeri ini, yang rata‑ratanya menghabiskan waktu hampir enam jam setiap hari untuk menjelajahi dunia maya. Alat yang dulunya hanya berfungsi untuk saling mengirim pesan kini berubah menjadi ruang pertemuan, perpustakaan, pasar dagang, hingga panggung berpendapat.
Namun pertanyaan besar tetap mengemuka: apakah media sosial membawa lebih banyak kebaikan atau kerusakan bagi kita? Jawabannya tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar “ya” atau “tidak”, karena dampaknya sangat bergantung pada cara kita menggunakannya.
Tidak dapat dipungkiri manfaat besar yang dibawanya. Pertama, media sosial meruntuhkan batas jarak: keluarga yang merantau, teman yang terpisah pulau, bahkan orang yang memiliki hobi serupa namun belum pernah bertemu dapat saling menjalin hubungan dengan mudah. Kedua, ia membuka akses ilmu dan informasi yang sangat luas. Siapa saja bisa mempelajari keterampilan baru, memantau kejadian terkini di berbagai penjuru dunia, tanpa perlu biaya besar. Bagi pelaku usaha kecil dan menengah, media sosial adalah sarana pemasaran termurah namun paling luas jangkauannya untuk memajukan perekonomian sendiri. Selain itu, suara kaum yang kurang didengar kini dapat tersampaikan dengan cepat, memicu kepedulian bersama terhadap masalah sosial maupun bencana alam.
Namun di balik kemudahan itu tersimpan berbagai bahaya yang tak kalah nyata. Banyak penelitian mencatat hubungan erat antara pemakaian berlebih dengan gangguan kesehatan jiwa: perasaan rendah diri karena terus membandingkan kehidupan sendiri dengan keindahan yang ditampilkan orang lain, kecemasan, kesedihan, hingga gangguan tidur. Pemakaian lebih dari tiga jam sehari terbukti menaikkan risiko gangguan jiwa secara signifikan. Belum lagi berita bohong yang menyebar jauh lebih cepat daripada fakta, kerap memicu kesalahpahaman dan perpecahan antarmasyarakat. Ancaman lain meliputi perundungan siber, pencurian data pribadi, ujaran kebencian, serta menurunnya kemampuan berinteraksi secara langsung karena terlalu asyik menatap layar.
Kunci perbedaannya terletak pada pola pemakaian. Jika digunakan secara aktif seperti berkomunikasi bermakna, menciptakan karya, berdiskusi dengan santun media sosial cenderung mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, kebiasaan pasif seperti hanya menggulir layar tanpa tujuan yang jelas berjam‑jam lamanya adalah yang paling sering menimbulkan dampak buruk. Jadi bukan aplikasinya yang baik atau buruk mutlak, melainkan niat dan kendali diri penggunanya.
Agar kita dapat memetik manfaat sebesar‑besarnya sekaligus menjauhi bahayanya, diperlukan usaha bersama. Setiap individu perlu menetapkan batas waktu pemakaian, memilah konten yang diikuti, serta membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya. Peran keluarga, sekolah, penyedia layanan, dan pemerintah pun sangat dibutuhkan untuk membimbing dan menjaga ruang digital tetap aman.
Sebagai kesimpulan, media sosial adalah alat yang sangat ampuh. Ia mampu membawa kemajuan luar biasa jika dipegang dengan bijak, namun bisa mencelakakan jika dibiarkan menguasai diri kita. Tantangan terbesar kita bukanlah menolak kehadirannya, melainkan terus belajar menjadi warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab.























