Menara Air Kota Rangkasbitung, Cagar Budaya Peninggalan Hindia Belanda

REDAKSI

- Redaksi

Sabtu, 20 April 2024 - 19:43 WIB

50328 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menara air Rangkasbitung merupakan salah satu bangunan peninggalan Hindia Belanda di Lebak yang masih terawat hingga saat ini. (Foto : TIMESLINES INEWS/Heru Nurhadiyansyah)

Menara air Rangkasbitung merupakan salah satu bangunan peninggalan Hindia Belanda di Lebak yang masih terawat hingga saat ini. (Foto : TIMESLINES INEWS/Heru Nurhadiyansyah)

TIMESLINES INEWS >> Lebak – Bangunan water toren atau menara air yang berada di Kampung Pasir Tariti, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, merupakan Bangunan Cagar Budaya (BCB) peninggalan kolonial Belanda yang memiliki nilai sejarah. Menara air yang berdiri di atas lahan seluas 200 meter persegi itu, tepatnya di dekat makam Pahlawan tersebut, merupakan salah satu saksi sejarah Rangkasbitung. ​

Bangunan yang menjulang setinggi 9 meter tersebut, berfungsi sebagai penampungan air bersih untuk kebutuhan pemenuhan air bersih bagi masyarakat Rangkasbitung, pada tahun 1931 hingga sekitar tahun 1980 silam. Namun, menurut sejarah sejak tahun 1970-an bangunan tersebut sudah tidak berfungsi lagi sebagai penampungan dan pasokan air bersih.

Menara air itu dibangun pada tahun 1931 pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dan itu merupakan bangunan paling penting di Rangkasbitung. Terutama bagi pemerintahan dan pendatang Belanda mengandalkan bangunan ini untuk mencukupi kebutuhan air bersih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bangunan menara ini memiliki keunikan dari segi karakter dan bentuk bangunannya yang tidak dapat disamai oleh bangunan masa kini. Sebab bangunan yang berbentuk silindris dan bagian atasnya berbentuk oktagon persegi delapan.

Menurut Kepala Museum Multatuli, Ubaidilah Muchtar, pada masanya, menara itu berfungsi untuk menampung dan menyuplai air bersih kepada warga Rangkasbitung yang merupakan warga negara eropa.

Water toren ini dulu dibangun bersamaan dengan dibangunnya Kota Rangkasbitung, pada 1931, untuk memenuhi kebutuhan air warga Eropa yang ada di Rangkasbitung. Kalau saya tidak salah ada 19 KK warga Eropa di Rangkasbitung pada masa itu yang menggunakan air bersih dari water toren ini,” ujarnya, Sabtu (21/4/2024).

Pemerintahan Hindia Belanda pada zaman dulu sengaja membangun water toren sebagai sarana penampungan air, untuk sistem pendistribusian kebutuhan air bersih bagi masyarakat zaman dulu. Sumber air yang ditampung pada water toren tersebut diambil dari wilayah Kabupaten Pandeglang, tepatnya dari sumber mata air Gunung Karang, Pandeglang.

Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, water toren dikelola oleh perusahaan air minum, yang pada saat ini namanya Waterleideng Nedrijf. Melalui pengelolaan itu kebutuhan air bersih bagi masyarakat terakomodir dengan optimal. Namun, sempat diambil alih oleh Jepang dan pengelolanya berubah nama menjadi Suido Syo.

Setelah beberapa tahun Jepang mengelola sarana water toren itu, pengelolaannya diambil alih oleh bangsa Indonesia setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Setelah diambil dari Jepang, pengelolaan air water toren tersebut berubah lagi namanya dari Suido Syo menjadi Air Minum Rangkasbitung, bukan lagi di water toren.

Di Kabupaten Lebak terdapat dua bangunan menara air yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Satu lagi berada di Kecamatan Gunung Kencana. Ubai mengatakan, kedua menara air itu saling terhubung dengan menara air lainnya yang ada di Kabupaten Pandeglang.

Ia menjelaskan, menara air yang ada di Rangkasbitung berfungsi sebagai bak penyalur air bersih yang nantinya akan diairi ke setiap rumah warga dan kantor Pemerintahan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan, menara air di Warunggunung berfungsi sebagai pengontrol jika terjadi air macet atau masalah bisa dikontrol di water toren tersebut.

Namun karena yang di Warung Gunung belum direvitalisasi, maka kata Ubaidilah, hingga kini menara air itu belum dimanfaatkan sebagai objek Wisata. Lantaran bangunannya yang memiliki nilai sejarah tinggi, maka pada tahun 2022, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lebak mengalihfungsikan menara air itu menjadi salah satu objek wisata di kota Rangkasbitung.

Sayangnya dari menara air yang ada yakni di Kota rangkasbitung dan di Kecamatan Warung Gunung, baru yang di Kota Rangkasbitung saja yang dapat direvitalisasi fungsinya. Sementara yang di Warung Gunung, hingga kini belum dialihfungsikan.

“Padahal letaknya berada persis dipinggir jalan raya, tapi belum direvitalisasi, semoga kesepn dapat diubah fungsi sehingga dapat dimanfaatkan msyarakat,” ujarnya.

Sejak ditetapkan menjadi cagar budaya dan objek wisata, menurut Sekertaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Luli Agustina, menara air Rangkasbitung banyak dikunjungi wisatawan, dan juga menjadi objek wisata edukasi bagi pelajar di Kota Rangkasbitung.

“Tingkat kunjungan dan animo masyarakat itu tinggi, karena ini kan termasuk cagar budaya, dan kebanyakan yang kesini itu adalah anak–anak sekolah, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA,” kata dia.

Kini menara air Rangkasbitung menjadi salah salu objek wsiata yang masuk dalam city tour bersama Museum Multatuli. Keberadaan water toren ini telah menjadi bukti tentang kemajuan teknologi yang digunakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada zamannya. Diharapkan, keberadaan menara air ini dapat menjadi destinasi unggulan yang menarik banyak minat wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Lebak.

Berita Terkait

Praktik Kepemimpinan Berbasis Kinerja Terukur – 4 Sasaran 8 Indikator, Pohon Kinerja, Tindaklanjut 7 Rekomendasi AKIP & SAKIP Predikat A Nilai 87,15 Tahun 2024
Kakanwil Ditjen Passumut Yudi Suseno: Transformasi Humanis Butuh Sinergi Pemda, APH, dan Mitra Kerja di Sumut
Lurah Bencongan Bangun Kolaborasi Warga, Sambut Ramadhan dengan Pawai Akbar
Imigrasi Bongkar Sindikat Love Scamming Internasional Di Tangerang, 27 WNA Diamankan
IPPAFest Kembali Digelar, Menimipas Agus Andrianto Bangga Dengan Karya Warga Binaan
Hadir Langsung Kegiatan IPPA Fest 2025, Kalapas Pancur Batu Beri Dukungan Dan Apresiasi Karya Warga Binaan
DPRD Kota Serang Komitmen Porses Hukum Kasus Pelecehan
Optimalisasi Kemandirian Ibu Hamil Cegah Stunting Melalui Inovasi Kukis Ikan Kembung

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:47 WIB

Hadiri Maulid di Empat Gampong, Wali Kota Langsa Serukan Penguatan Iman dan Ukhuwah Islamiyah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Dapat Apresiasi Wali Murid, Kepala SMAN 1 Badar Agara Perkuat Strategi Sukseskan TKA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:12 WIB

Duo Nur Beruntung, Dua IRT Bawa Pulang Sepeda Listrik di Jalan Sehat KNPI Langsa

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:04 WIB

Tujuh Rumah Terbakar di Permata Punie, Dinsos Aceh Besar Salurkan Bantuan Masa Panik

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:47 WIB

Kakanwil Imigrasi Sumut Hadiri Pelantikan DPP Horas Bangso Batak, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria di Kutapanjang, Sabu 0,07 Gram Disita

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Danlanud El Tari Bangun Generasi Tangguh NTT, Perkuat Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045

Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:06 WIB

Dana Rutin Pengajian Orang Tua Desa Kutabaru Aceh Tenggara Tahun 2024 Disorot, Pj Pengulu Diminta Jelaskan Dugaan Gaji Belum Dibayarkan

Berita Terbaru