TLii | Aceh – Kutacane, 12 September 2025 – Pernyataan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Zulfadli alias Abang Samalanga saat menemui mahasiswa dan rakyat dalam aksi unjuk rasa di depan gedung DPRA pada 2 September lalu mendapat dukungan penuh dari berbagai kalangan. Salah satu dukungan paling lantang datang dari Ketua FORKAB Aceh Tenggara, Rasidin atau yang akrab disapa Win Cane.
Dalam keterangannya kepada media, Jumat (12/9/2025), Win Cane menegaskan bahwa ucapan Ketua DPRA bukanlah provokasi atau makar, melainkan jeritan hati rakyat Aceh yang sudah lama merasakan ketidakadilan.
> “Kami sangat mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya pernyataan Abang Samalanga. Itu bukan hasutan, melainkan suara rakyat Aceh yang selama ini digilas ketidakadilan. Daripada butir-butir MoU Helsinki jalan di tempat, lebih baik Aceh berdiri sendiri dan jadi sahabat Indonesia untuk selamanya,” tegas Win Cane.
Lebih jauh, Ketua FORKAB Aceh Tenggara itu bahkan menyerukan kepada seluruh masyarakat, baik di Aceh maupun di luar Aceh, hingga diaspora di luar negeri, untuk bersama-sama mendukung wacana perpisahan Aceh dari NKRI.
> “Kami mengajak seluruh masyarakat se-Indonesia bahkan yang di luar negeri untuk ikut mendukung perjuangan rakyat Aceh ini. Abang Samalanga telah memberi semangat baru dengan pernyataannya,” lanjutnya.
Win Cane juga menyinggung pihak-pihak yang mencoba melemahkan langkah Ketua DPRA, termasuk sikap Pembela Tanah Air (PETA) Aceh yang meminta Mualem memecat Zulfadli. Menurutnya, hal itu justru berpotensi mengganggu cita-cita perjuangan rakyat Aceh.
> “Kelompok seperti PETA jangan coba-coba memancing di air keruh. Jangan mengusik harimau tidur. Kami tidak ingin ada pihak yang merusak cita-cita para syuhada,” ujarnya dengan nada keras.
Dukungan Win Cane mempertegas posisi FORKAB sebagai salah satu organisasi yang paling vokal menyuarakan ketidakpuasan terhadap implementasi MoU Helsinki. Pernyataan itu juga menambah panjang daftar dukungan dari berbagai pengurus FORKAB di daerah, termasuk dari Ketua Umum DPP FORKAB Muhammad Nasir Lado dan Korwil FORKAB Aceh Timur, Sarnidam Patra.
Kontroversi ini masih terus bergulir. Di satu sisi, pernyataan Abang Samalanga dianggap berani menyuarakan aspirasi rakyat. Namun di sisi lain, ia memicu perdebatan tajam tentang masa depan hubungan Aceh dengan Pemerintah Pusat.



























