TLii..Bener Meriah.Sudah 12 hari pascabencana melanda Kabupaten Bener Meriah, kondisi wilayah tersebut masih sangat memprihatinkan. Informasi terbaru yang dihimpun dari lapangan menyebutkan bahwa jaringan listrik dan sejumlah jembatan vital masih 90 persen terputus total, tanpa ada kepastian waktu perbaikan dari pihak terkait.
Akibat terputusnya pasokan energi, gas elpiji juga tidak lagi masuk ke Bener Meriah, memaksa warga kembali menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Di sisi lain, bahan bakar minyak (BBM) juga habis, menjadikan jalanan utama di wilayah itu semakin lengang.
Sejumlah warga berupaya memasok BBM dari arah Lhokseumawe dengan berjalan kaki. Harga BBM yang berhasil dibawa masuk pun melonjak tajam, mencapai Rp50.000 hingga Rp70.000 per liter.
Ironisnya, hingga kini belum ada informasi, imbauan, maupun penyampaian resmi dari Pemerintah Kabupaten Bener Meriah kepada masyarakat di pusat-pusat permukiman seperti Simpang Tiga dan Pondok Baru.
“Yang masyarakat butuhkan hanya dua: jaringan listrik dan pasokan bahan bakar. Itu saja sudah cukup untuk bertahan,” ujar seorang warga.
Di tengah keterbatasan komunikasi, informasi kondisi terkini hanya dapat dipancarkan dari titik-titik tertentu di kawasan perbukitan. Akses jaringan telepon seluler diperoleh dari lokasi dengan ketinggian sekitar 1.700 mdpl di kawasan lindung Kecamatan Permata, berjarak sekitar 10 km dari Pondok Baru.
Informasi lanjutan dari lapangan dijadwalkan akan diperbarui kembali pada 09 Desember 2025 pukul 10.00 WIB.
(Erwin Gayo — Kontributor Lapangan)


































