Detak Yang Menyelamatkan

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:30 WIB

20146 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto istimewa sang penulis Zahwa)

Penulis: Zahwa, Mahasiswa semester 3 PBI Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Ratusan ribu tahun silam, di Kerajaan Gartha, terjadi sebuah peristiwa besar: kudeta.Malam itu, lonceng istana berdentang keras lima kali; tanda bahaya yang membangunkan seluruh penghuni kerajaan. Obor-obor dinyalakan dengan tergesa-gesa, bayangan para prajurit menari liar di dinding batu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik lorong rahasia Istana Gartha, Ratu Naeswaru menggenggam erat kedua tangan putranya. Napas Pangeran Arza dan Pangeran Arfi terengah, bukan karena berlari, melainkan karena ketakutan yang belum pernah mereka kenal.

“Kalian harus tenang,” bisik sang ratu, meski dadanya sendiri berdegup keras.

“Dengarkan detak jantungmu. Selama ia masih berdetak, kau masih hidup.”

Kudeta pecah sebelum fajar. Dewan bangsawan berkhianat; raja telah gugur, dan para pewaris takhta kini diburu.Lorong rahasia itu berakhir di sebuah pintu besi tua. Ratu Naeswaru membuka kain selendangnya, lalu mengikatkannya ke lengan Arfi.

“Ini lambang darah kita. Jangan pernah lepaskan.”

Ia kemudian menoleh ke Arza, mengusap wajah putranya yang membeku oleh ketakutan. Dari dadanya, ia melepaskan sebuah bros lambang kerajaan lalu mengaitkannya di pakaian Arza.

“Apa pun yang terjadi, tetaplah bersama,” ucapnya tegas. “Jaga adikmu.”

Pintu terbuka.

Sebuah anak panah melesat cepat. Ratu Naeswaru berbalik, memeluk kedua putranya. Suara besi menembus daging terdengar lirih, namun cukup untuk menghentikan waktu.Darah menetes di lantai lorong batu Istana Gartha. Ratu Naeswaru menatap kedua putranya; darah mengalir di sudut bibirnya. Sebuah obor jatuh dan padam, menyisakan cahaya bulan yang samar sebagai saksi bisu.

Pangeran Arfi dan Pangeran Arza terpaku. Mata mereka membulat; jantung mereka seakan ikut berhenti berdetak.Ratu Naeswaru mendorong keduanya hingga tersadar.

“Pergi!” serunya, menahan rasa sakit yang menusuk.

“Ibu…!” teriak mereka serentak.

“Jangan kembali!” Pangeran Arfi hendak menolong, tetapi Pangeran Arza menarik tangannya, menahannya.

“Jangan menoleh!” bentak Ratu Naeswaru, menahan luka di punggungnya. Suaranya tetap tegas meski wajahnya pucat.

“Jika kalian menoleh sekali saja, semua pengorbanan ini akan sia-sia!”

Langkah para prajurit semakin dekat. Pangeran Arfi menggigit bibirnya hingga berdarah. Pangeran Arza menariknya, memaksa kakaknya berlari.

Dengan air mata yang tak sempat jatuh, mereka berlari menuju hutan. Malam menelan langkah mereka menelan istana, mahkota, dan suara terakhir sang ibu.Malam itu adalah malam terdingin bagi kedua pangeran.Bertahun-tahun kemudian, Pangeran Arfi dan Pangeran Arza tumbuh di negeri asing. Mereka belajar menahan amarah, memimpin tanpa nama, dan bertarung tanpa bendera. Selendang dan bros ibunya tetap mereka simpan; menjadi bukti bahwa mereka pernah dicintai tanpa syarat.

Ketika rakyat Gartha bangkit melawan tirani, Arfi dan Arza kembali.Pedang beradu. Darah kembali mengalir dan membasahi tanah Gartha. Pada malam penobatan, langit bergemuruh, seolah mengingat sumpah lama yang pernah terucap.

Saat genderang kemenangan dikumandangkan, Arfi berdiri sebagai raja dan Arza sebagai pendampingnya. Tanah Gartha berguncang oleh sorak kemenangan.Namun, tepat ketika mahkota hendak diletakkan, aula istana membeku dalam keheningan.Seorang wanita tua melangkah masuk. Langkahnya lambat; pakaiannya sederhana dan tampak telah berkali-kali digunakan. Namun matanya tidak berbohong mata itu adalah mata yang sama yang pernah menatap dua anak lelaki di lorong gelap.Arfi dan Arza membeku. Mereka lupa bagaimana caranya bernapas.

“Ibu…?” suara mereka bergetar, hampir tak terdengar.

Wanita itu adalah Ratu Naeswaru.Ia berlutut, namun dengan sigap Arfi dan Arza merengkuh tubuhnya. Tangis pecah di aula istana.

“Ampuni ibu, Nak,” ucapnya lirih. “Ibu tidak mati. Ibu hanya menjaga doa tetap hidup.”

Semua orang percaya ratu wafat malam itu. Jenazahnya tak pernah ditemukan, dan istana dibakar. Kudeta dinyatakan berhasil; namun sejarah hanya mencatat setengah kebenaran.Malam itu, mahkota tidak diletakkan di kepala seorang penakluk, melainkan dipersembahkan sebagai penghormatan kepada seorang ibu.Sejarah Kerajaan Gartha pun ditulis ulang.

Pangkalpinang, 10 Januari 2026

Berita Terkait

Yori And His Curiosity
Harapan Yang Tersimpan Di Kotak Abu
Rapuh Di Tengah Keluarga Yang Ricuh
Bangka Tempatku Bercerita
Perjalanan Risa Di Dunia Perkuliahan 
Tawa Di Balik Bangku
Hutan Yang Berbicara
Kenangan Yang Tak Dipilih

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:55 WIB

SatReskrim Polres Pematangsiantar Ungkap Pelaku Penggelapan Sepeda Motor

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:01 WIB

Ahli Pidana: Kasus Pancur Batu Berbeda Jauh dengan Sleman, Penganiayaan Terencana & Bukan Spontanitas

Selasa, 3 Februari 2026 - 08:49 WIB

Polres Pelabuhan Belawan Siap Laksanakan Operasi Keselamatan Toba 2026

Senin, 2 Februari 2026 - 23:10 WIB

Lapas Kelas I Medan Perkuat Pembinaan Keagamaan Dengan Perayaan Thaipusam Dan MoU

Senin, 2 Februari 2026 - 22:33 WIB

Integritas Jadi Fokus Utama, Kalapas Narkotika Langkat Pimpin Apel Awal Bulan

Senin, 2 Februari 2026 - 22:21 WIB

Lapas Narkotika Langkat Intensifkan Kontrol Keliling untuk Cegah Gangguan Kamtib

Senin, 2 Februari 2026 - 22:01 WIB

Lapas Kelas IIA Binjai Teken Komitmen Bersama dan Pakta Integritas Tahun 2026

Senin, 2 Februari 2026 - 21:51 WIB

Satukan Tekad Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani Rutan Tanjung Pura Tandatangani Pakta Integritas dan Komitmen Bersama Pembangunan Zona Integritas WBK–WBBM

Berita Terbaru