(foto istimewa sang penulis Peni Valentia)
Penulis: Peni Valentia, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Pagi itu, tepat pukul 07.25, parkiran kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Mahasiswa berdatangan silih berganti, bergegas memasuki gedung perkuliahan. Beragam pakaian dikenakan ada yang mengenakan pakaian olahraga, almamater, hingga pakaian kelas masing-masing.
Risa bersama teman-temannya memasuki ruang kelas dan bersiap mengikuti UAS mata kuliah Morphology. Jarum jam tepat menunjukkan pukul 07.30 ketika dosen memasuki ruangan dan membagikan lembar soal serta lembar jawaban. Seketika, suasana kelas berubah sunyi. Tak ada suara selain gesekan pena di atas kertas. Semua mahasiswa sibuk mengerjakan ujian mereka.
Namun, berbeda dengan Risa. Ia masih terpaku membaca soal demi soal tanpa menuliskan satu pun jawaban. Bukan karena ia berhati-hati, melainkan karena ia tidak belajar.Akhirnya, waktu ujian pun berakhir. Satu per satu mahasiswa mulai meninggalkan ruang kelas. Dela menghampiri Risa dan mengajaknya keluar bersama.
“Risa, ayo keluar,” ujar Dela.
Risa menggeleng pelan. “Duluan aja, Del. Aku belum selesai ngerjainnya.”
Merasa heran, Dela mendekat dan melihat lembar jawaban Risa. Ia terkejut.
“Loh, kok cuma satu soal yang kamu jawab? Soalnya kan ada sepuluh,” ucap Dela.
Risa hanya menunduk, diam tanpa kata.
“Kamu nggak belajar, ya, Sa?” tanya Dela pelan.
Belum sempat Risa menjawab, suara dosen terdengar dari depan kelas.
“Anak-anak, silakan kumpulkan lembar jawabannya. Waktunya sudah habis,” ujar Miss Wika, dosen mata kuliah Morphology.
Dengan berat hati, Risa mengumpulkan kertas jawabannya. Ia kembali ke tempat duduk dengan wajah muram. Dela menghampirinya dan memeluknya pelan.
“Kamu kenapa, Sa? Ada masalah? Kamu nggak biasanya kayak gini. Cerita ke aku kalau kamu lagi kenapa-kenapa,” ucap Dela lembut.
Risa menarik napas panjang sebelum akhirnya bercerita.
“Sebenernya aku nggak punya masalah apa-apa, Del. Soalnya aja susah, makanya aku nggak bisa jawab,” katanya, berusaha meyakinkan.
Dela menatapnya ragu. “Kalau nggak ada masalah, kenapa kamu nggak bisa jawab? Kisi-kisinya kan udah dikasih sebelum UAS. Harusnya kita bisa.”
Risa terdiam sesaat, lalu akhirnya berkata jujur, “Aku ketiduran, Del. Keasyikan nonton TikTok sama main game. Jadi aku nggak belajar semalam.”
Dela terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka Risa.teman dekatnya yang dulu berprestasi bisa sampai tidak belajar.
“Kenapa kamu nggak belajar, Sa? Bukannya dulu kamu termasuk siswa berprestasi waktu SMA?” tanya Dela.
“Itu dulu, Del. Sekarang nggak lagi,” jawab Risa lirih.
Ia melanjutkan dengan suara bergetar
“Semangat belajarku udah berkurang. Rasanya habis selama SMA. Awalnya aku pikir kuliah itu sama kayak sekolah, ternyata beda.”
“Tentu beda, Sa,” sahut Dela.
“Di perkuliahan kita dituntut mandiri, nggak bisa bergantung sama orang lain. Apalagi kita anak rantau. Suasana SMA juga beda dulu bisa main bareng di kelas, sekarang habis kuliah orang-orang langsung pulang ke kos masing-masing. Makanya banyak yang bilang masa SMA itu masa paling indah.”
Risa mengangguk pelan. “Iya, Del. SMA memang masa yang paling indah. Kita nggak perlu jauh dari orang tua.”
“Tapi kamu jangan nyerah, Sa,” ujar Dela meyakinkan. “Ini baru awal. Kamu masih punya banyak waktu buat bangkit dan meraih cita-cita. Nanti kita belajar bareng, ya. Kamu nggak sendirian.”
Risa tersenyum kecil.
“Makasih ya, Del. Aku janji bakal semangat lagi. Bukan cuma semester ini, tapi juga semester-semester selanjutnya.”
“Aku yakin kamu bisa,” balas Dela mantap.
Hari itu, Dela mengajak Risa ke perpustakaan tempat favoritnya untuk belajar. Suasana di sana tenang dan damai, sangat cocok untuk menenangkan pikiran.
“Kamu sering ke sini, Del?” tanya Risa.
“Iya. Hampir setiap selesai kuliah aku ke sini. Biasanya aku pinjam buku buat dibaca di rumah. Buku dan novel di sini bagus-bagus banget, kamu wajib baca,” jawab Dela antusias.
Keesokan harinya, Dela kembali ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Kali ini, ia tidak sendiri. Risa datang dan duduk di sampingnya. Sejak saat itu, banyak perubahan terjadi pada Risa. Jika dulu Dela yang selalu mengajaknya belajar, kini Risa yang lebih dulu mengajak Dela ke perpustakaan.
Beberapa bulan berlalu. Nilai Risa perlahan membaik. Ia kembali aktif berorganisasi sesuatu yang sempat ia tinggalkan karena kehilangan semangat. Dela merasa bangga melihat perubahan itu.Akhirnya, Risa kembali menjadi sosok yang aktif, penuh semangat, dan memiliki tujuan jelas untuk masa depannya.


































