Timelineinews.com [] Pidie Jaya – Pemandangan yang sempat terjadi saat bencana banjir melanda akhir tahun lalu kini kembali terulang di Kabupaten Pidie Jaya. Antrean panjang kendaraan dan kosongnya stok bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU membuat masyarakat kembali dilanda kekhawatiran, padahal daerah ini masih berada dalam masa pemulihan pascabencana.
Amatan jurnalis Timelinesinews.com pada Jum’at sore, 6 Maret 2026, di SPBU Simpang Empat Meurah Dua, Pidie Jaya, memperlihatkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Area pengisian BBM tampak sepi dari aktivitas pengisian, sementara pintu masuk SPBU justru terpampang garis polisi yang menandakan operasional sementara dihentikan.
Tidak terlihat antrean kendaraan seperti biasanya. Yang ada hanya suasana lengang di dalam kawasan SPBU. Dari kejauhan, seorang petugas tampak santai menyiram tanaman di sekitar area tersebut.
Ketika ditanyai oleh jurnalis media ini mengenai alasan penutupan SPBU, petugas tersebut menjelaskan bahwa seluruh stok BBM telah habis sejak siang hari akibat membludaknya masyarakat yang datang untuk mengisi bahan bakar.
“Stok sudah habis dari tadi siang. Masyarakat yang antre sangat banyak, jadi semuanya cepat habis,” ujarnya singkat.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada lagi BBM yang tersisa, baik jenis subsidi maupun non-subsidi.
“Semua kosong, baik yang subsidi maupun non subsidi,” tambahnya.
Salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya kepada media ini mengaku merasa kecewa dengan kondisi tersebut. Ia mengatakan sudah berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lain untuk mencari BBM.
“Kami dari Gampong Rhieng Kreung, Meureudu. Awalnya kami ke SPBU Teupin Pukat, tapi antreannya sangat ramai sampai keluar area SPBU. Karena terlalu ramai, kami mencoba ke SPBU Simpang Empat ini, tapi sampai di sini malah kosong,” ujarnya dengan nada kecewa.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup menyulitkan masyarakat yang membutuhkan BBM untuk aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat. Jika pada masa banjir lalu kelangkaan BBM masih bisa dimaklumi karena terganggunya distribusi, namun kini peristiwa serupa kembali terjadi di saat masyarakat sedang berusaha bangkit dari dampak bencana.
Bagi sebagian warga, kelangkaan BBM bukan sekadar persoalan bahan bakar, tetapi juga menyangkut aktivitas ekonomi sehari-hari. Banyak warga yang mengandalkan kendaraan untuk bekerja, berdagang, hingga mengangkut hasil usaha mereka.
Situasi ini membuat masyarakat berharap adanya langkah cepat dari pihak terkait untuk memastikan distribusi BBM kembali normal, agar roda kehidupan di Pidie Jaya dapat terus bergerak tanpa hambatan di tengah proses pemulihan daerah.
Jika dibiarkan berlarut-larut, kekosongan BBM dikhawatirkan dapat memicu kepanikan baru di tengah masyarakat yang saat ini sedang berusaha bangkit dari masa sulit. ((**)

































