Surplus Beras atau Ilusi Data? Suhardiansyah Tantang Klaim Data Surplus Dinas Pertanian Gayo Lues

REDAKSI 1

- Redaksi

Selasa, 10 Juni 2025 - 22:12 WIB

50105 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii | ACEH | GAYO LUES – Pernyataan Kepala Dinas Pertanian Gayo Lues, Juanda Syahputra, SH., MH., yang menyebut daerah ini mengalami surplus padi, memicu respons keras dari Ketua DPC APDESI Gayo Lues sekaligus pengusaha kilang padi UD Netral, Suhardiansyah.

Kontroversi mencuat usai Juanda menyampaikan data tersebut dalam wawancara bersama tim Diskominfo Gayo Lues pada Selasa, 3 Juni 2025, seusai Rapat Koordinasi Percepatan Swasembada Pangan Menghadapi Musim Kemarau 2025 yang digelar di Makodim 0113 Gayo Lues.

Dalam pernyataannya, Juanda menyebutkan bahwa Gayo Lues memiliki lebih dari 4.200 hektare lahan sawah, dengan produksi padi tahunan mencapai 32 ribu ton. Ia mengklaim bahwa kebutuhan konsumsi masyarakat hanya sekitar 25 ribu ton per tahun. “Jika melihat data ini, maka Gayo Lues mengalami surplus padi,” ujarnya optimistis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, realita di lapangan jauh dari pernyataan tersebut. Dalam diskusi santai bersama reporter Seputar Gayo Lues, Kang Juna, dan wartawan Lintas Aceh, Ishak Daud, yang berlangsung di Blower Coffee House pada Selasa, 10 Juni 2025, Suhardiansyah menyatakan keprihatinannya terhadap ketimpangan antara data dan fakta di lapangan.

> “Kalau memang surplus, mestinya pasar kita penuh beras lokal. Tapi kenyataannya, beras yang beredar mayoritas berasal dari luar Gayo Lues. Kemasan-kemasannya jelas mencantumkan merek luar daerah, sedangkan beras lokal kita bahkan belum punya brand yang kuat,” tegasnya.Sebagai pelaku usaha penggilingan padi, Suhardiansyah menyebut bahwa hasil panen riil petani di Gayo Lues hanya sekitar 2,9 ton per hektare, bukan 4,8 ton seperti yang diklaim Dinas Pertanian. Jika dikalikan dengan total luas lahan 4.246 hektare, maka produksi gabah hanya mencapai sekitar 12.313 ton per tahun—jauh dari angka 32 ribu ton yang disebutkan pejabat dinas.

Selain itu, proses konversi gabah menjadi beras juga disebut mengalami susut signifikan. Dari 11 kg gabah basah, hanya dihasilkan sekitar 6,7 kg beras siap konsumsi. Sisanya menjadi sekam, dedak, dan menir (beras pecah).

Data dari Mana? Kami yang Beli Langsung dari Petani

“Lahan 4.246 hektare itu perlu dicek kembali validitasnya. Jangan-jangan datanya hanya di atas kertas,” tegasnya.

Di tempat lain Dermawan Gayo, dalam pesan Facebook-nya menguatkan kritik Suhardiansyah. Ia menyebut data yang diklaim dinas pertanian tidak sesuai kenyataan.> “Kami ini langsung beli dari petani. Kami lebih tahu kondisi di lapangan. Data dari mana itu diambil? Turun ke lapangan pun tak pernah kulihat,” tulis Dermawan.

Ia juga mengungkap kondisi menyedihkan petani di beberapa wilayah seperti daerah Badak. Menurutnya, banyak petani terpaksa berutang bibit, pupuk, bahkan kebutuhan sehari-hari kepada lintah darat. Begitu panen tiba, harga padi mereka ditekan hingga hanya dibayar separuh dari harga pasar.

> “Banyak petani harus ngutang beras ke istri saya sebelum panen. Panennya masih tiga bulan lagi, tapi sudah nggak cukup makan,” curhat Dermawan.

Dermawan juga menambahkan bahwa sekitar 70% lahan sawah “Sinen”, kini telah berpindah tangan ke pejabat dan orang kaya, karena petani terpaksa menjualnya demi kebutuhan harian dan biaya pendidikan anak.

Melihat ketimpangan antara laporan resmi dan kondisi riil, Suhardiansyah mendesak Bupati Gayo Lues untuk segera memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap data pertanian, termasuk pemetaan ulang lahan sawah dan produktivitas panen.

> “Kalau kebijakan dibangun dari data yang tidak akurat, maka dampaknya bukan sekadar angka. Ini menyangkut hidup mati petani kita,” pungkasnya.

 

Reporter: Kang Juna Seputar Gayo Lues

Berita Terkait

AKBP Tendri Wardi Resmi Jabat Kapolres Pidie Jaya, Gantikan AKBP Ahmad Faisal Pasaribu
*Sat Samapta Polres Pidie Jaya Gelar Patroli Perintis Presisi, Ciptakan Situasi Kamtibmas yang Aman dan Kondusif*
Dukung Penguatan Tata Kelola, Rutan Tanjung Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Madya Kemenimipas
Rutan Kelas IIB Tanjung Raih Apresiasi Kanwil Ditjenpas Kalsel atas Kinerja Pemutakhiran Data
Tanamkan Nilai Integritas: Karutan Labuhan Deli Beri Pembekalan ke Generasi Penerus Pemasyarakatan
Казино Yard – безопасность аккаунта и защита персональных данных
Kasyno online Vulkan Vegas – Jak się zarejestrować i grać
Casino Lab w Polsce – Dostępne metody płatności i realizacja transakcji

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:29 WIB

Quiet Quitting: Malas Bekerja atau Bentuk Kesadaran akan Work-Life Balance?

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:41 WIB

Lulus Kuliah, Lalu Menganggur: Apakah Jurusan yang Dipilih Masih Relavan dengan Dunia Kerja?

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:52 WIB

Hubungan Parasosial di Era Digital

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:43 WIB

Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:22 WIB

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:14 WIB

DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:05 WIB

Dua Sisi Mata Uang Media Sosial: Lebih Bermanfaat atau Berbahaya?

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:56 WIB

Pernikahan Dini Langgar Hak Anak

Berita Terbaru