TLii..GAZA – Dampak perang yang terus berlangsung di Jalur Gaza semakin memperparah kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, terutama bagi perempuan. Data dari Biro Pusat Statistik Palestina mencatat lebih dari 22.000 perempuan kehilangan suami sejak konflik berkepanjangan terjadi.
Akibatnya, jumlah rumah tangga yang dipimpin perempuan meningkat signifikan, dari sekitar 12 persen menjadi 18 persen. Kondisi ini membuat banyak perempuan harus mengambil peran sebagai kepala keluarga di tengah situasi ekonomi yang sangat sulit.
Di sektor ekonomi, tingkat pengangguran perempuan di Gaza mencapai angka yang sangat tinggi. Tercatat sekitar 92 persen perempuan di Gaza tidak memiliki pekerjaan, lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran laki-laki yang mencapai 81 persen. Sementara itu, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja hanya sekitar 17 persen.
Ketimpangan kesempatan kerja juga terlihat di wilayah Tepi Barat, di mana keterlibatan perempuan dalam dunia kerja masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Selain itu, kondisi layanan kesehatan di Gaza juga mengalami kerusakan parah akibat konflik. Sekitar 94 persen fasilitas kesehatan rusak atau hancur, sehingga pelayanan medis bagi masyarakat menjadi sangat terbatas.
Dampaknya, sekitar 37 ribu perempuan hamil dan menyusui mengalami malnutrisi akut. Situasi ini turut menyebabkan lonjakan angka kematian ibu yang meningkat tajam menjadi 145 per 100 ribu kelahiran pada tahun 2024, dari sebelumnya 17,4 pada tahun 2022.
Kondisi ini menunjukkan krisis kemanusiaan yang semakin mendalam di Gaza, terutama bagi perempuan yang kini harus menghadapi beban ganda sebagai kepala keluarga sekaligus bertahan di tengah keterbatasan ekonomi dan layanan kesehatan.
Reporter: Zulkarnaini


































