TLii>> Pidie Jaya, Sabtu malam (1/11) — Langit di atas Cot Trieng malam itu tak sekadar bertabur bintang. Ia menyala oleh ribuan cahaya, berpadu dengan gema ayat suci yang menembus langit Aceh. Di bawah sinar lampu megah dan kibaran bendera 23 kabupaten/kota, Kabupaten Pidie Jaya berubah menjadi samudra keimanan — lautan manusia yang hanyut dalam lantunan kalam Ilahi.
Puluhan ribu jiwa dari seantero Tanah Rencong berhimpun di Komplek Perkantoran Bupati. Mereka datang bukan sekadar menonton, melainkan bersaksi: menyaksikan lahirnya kembali semangat Qur’ani di jantung Aceh, saat Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Aceh ke-37 resmi dibuka dengan penuh khidmat.
Ketika suara qari nasional menggetarkan udara, seluruh pandangan tertunduk. Hati-hati bergetar, mata berkaca. Gema tilawah itu seakan membuka gerbang langit, menandai dimulainya perhelatan suci yang meneguhkan jati diri Aceh sebagai negeri berperadaban Islam yang agung.
Di antara lautan cahaya, tampak Gubernur Aceh Muzakkir Manaf, berdiri tegap di samping Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud, Kapolda Aceh, Anggota DPD RI Azhari Cagei , serta jajaran pejabat dan ulama. Dari pihak tuan rumah, Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi dan Wakil Bupati Hasan Basri berdiri di barisan depan, wajah mereka bersinar di bawah pancaran lampu panggung, menyambut para tamu kehormatan dan kafilah dengan tangan terbuka dan hati lapang.
Dalam sambutannya yang penuh makna, Gubernur Muzakkir Manaf menyeru dengan suara bergetar,
“Momentum Musabaqah Tilawatil Qur’an di Pidie Jaya — di Tanah Japakeh yang mulia ini — hendaknya menjadi cermin bagi seluruh daerah. Di sinilah ukhuwah kita diperteguh, di sinilah nilai Al-Qur’an kita bumikan dalam kehidupan.”
Ia mengajak seluruh rakyat Aceh untuk terus menyalakan cahaya Al-Qur’an di rumah, di sekolah, di pemerintahan — di setiap denyut kehidupan. Karena dari sinilah, katanya, lahir masyarakat yang beradab, bermartabat, dan dicintai Allah.
Sementara itu, Bupati Sibral Malasyi tak kuasa menyembunyikan haru. Suaranya lirih namun tegas saat berkata,
“Pidie Jaya malam ini menjadi saksi kebesaran kalam Allah. Di sini, hati-hati yang mencintai Al-Qur’an menyatu dalam satu irama — irama iman dan persaudaraan.”
Lalu, kemeriahan memuncak. Pawai kafilah dari 23 kabupaten/kota melintasi panggung utama — membawa panji daerah, dalam langkah penuh semangat. Dentuman drum marching band menggema, berpadu dengan sorak takbir ribuan penonton. Baju-baju islami berwarna warni menari di bawah cahaya lampu, menjelma lukisan hidup yang menuturkan cerita persaudaraan Aceh dalam bingkai Al-Qur’an.
Dan ketika malam kian larut, lantunan hafalan Al-Qur’an dari para juara nasional mengalun lembut, membelah keheningan langit Cot Trieng. Setiap huruf yang terucap seolah jatuh di dada para hadirin sebagai cahaya — menandai bahwa MTQ Aceh ke-37 bukan sekadar perlombaan, melainkan sebuah perjalanan spiritual.
Perjalanan menuju generasi muda Aceh yang berilmu, berprestasi, dan berakhlak mulia — generasi yang menjadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tapi pedoman hidup, nur bagi masa depan Aceh yang kaffah di bawah lindungan Allah. (JN)



























