TIMELINES iNews Investigasi | Aceh Utara —
Dinas Kesehatan Aceh kembali menunjukkan komitmennya dalam penanggulangan dampak banjir melalui kegiatan larvasidasi dan pengendalian vektor penyakit di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya tanggap darurat pascabencana. Selain menurunkan Tim Emergency Medical Team (EMT), melaksanakan vaksinasi, serta trauma healing, Dinas Kesehatan Aceh juga memperkuat langkah pencegahan potensi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria di wilayah terdampak banjir.
Pada 14 Januari 2026, Tim Pengendalian Vektor Dinkes Aceh menjangkau Dusun Cot Calang, Gampong Riseh Tunong, Kecamatan Sawang.
Wilayah tersebut dihuni 226 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 927 jiwa. Dusun Cot Calang ditetapkan sebagai lokus kegiatan larvasidasi karena dinilai berisiko tinggi terhadap berkembangbiaknya vektor penyakit pascabanjir.
Sementara itu, dampak banjir juga dirasakan warga Dusun Lambayoeng di gampong yang sama. Sebanyak 32 rumah di sepanjang aliran Sungai Krueng Sawang dilaporkan terdampak banjir. Meski tidak menjadi titik pelaksanaan langsung larvasidasi, wilayah tersebut tetap masuk dalam pemantauan kondisi kesehatan lingkungan.
Akses menuju Dusun Cot Calang tergolong sulit. Dua jembatan penghubung menuju lokasi dilaporkan rusak sehingga akses jalan terputus total. Dari pusat Kecamatan Sawang, tim menggunakan kendaraan roda empat menuju Puskesmas Sawang untuk berkoordinasi, kemudian melapor kepada keuchik setempat. Selanjutnya, tim berjalan kaki menyusuri tepian Sungai Krueng Sawang dan menyeberang menggunakan getek atau rakit sederhana yang ditarik dengan tali tambang.
Larvasidasi dilakukan menggunakan Abate 1% G dengan metode penaburan ke dalam tempat penampungan air. Dosis yang digunakan yakni 8 gram per 100 liter air atau setara satu sendok makan peres. Aplikasi juga dilakukan pada kubangan, genangan sawah, serta genangan air di sekitar permukiman dengan radius 500 meter hingga 1 kilometer.
Dalam perjalanan sejauh sekitar satu kilometer, tim menemukan sejumlah genangan air di area persawahan yang rusak akibat banjir dan langsung melakukan pencidukan jentik. Pada pencidukan ketiga, ditemukan jentik Anopheles sp instar 1 dan 2 serta Culex sp instar 2 sebanyak tiga hingga empat ekor. Selanjutnya, dilakukan penaburan bubuk Abate di lokasi tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah preventif penting untuk mencegah munculnya wabah penyakit pascabencana.
“Banjir berpotensi meningkatkan tempat perindukan nyamuk. Karena itu, pengendalian vektor harus dilakukan sedini mungkin agar tidak terjadi lonjakan kasus DBD maupun malaria, terutama di wilayah dengan akses yang sulit,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya larvasidasi juga dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat agar aktif menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat genangan air di sekitar rumah.
“Keberhasilan eliminasi malaria yang diraih Aceh Utara pada 2020 harus terus kita jaga. Partisipasi masyarakat menjadi kunci agar penyakit yang pernah endemis ini tidak kembali muncul,” tambahnya.
Kegiatan ini menegaskan komitmen Dinas Kesehatan Aceh dalam melindungi masyarakat dari ancaman penyakit menular pascabencana, sekaligus memastikan layanan kesehatan tetap menjangkau wilayah terpencil dan terdampak parah.*[]
//Emje – Tim Dinkes Aceh*


























