Foto:Kegiatan Outing Class Terpadu Siswa-Siswi SRMA 1 Aceh Besar DiKawasan Wisata Kaki Bukit Pemandian Glee Tarum, Mata Ie, Desa Lei Ue, Kecamatan Darul Imarah, Kamis (14/5/2026)
TIMELINES iNEWS Investigasi | Kota Jantho,Aceh Besar — Dinas Sosial Kabupaten Aceh Besar mengerahkan armada truk operasional Taruna Siaga Bencana (Tagana) guna mendukung kelancaran kegiatan outing class terpadu siswa-siswi SRMA 1 Aceh Besar di kawasan wisata pemandian kaki bukit Glee Taroen, Mata Ie, Desa Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Kamis (14/5/2026).
Dukungan armada tersebut dilakukan untuk memastikan mobilisasi peserta berlangsung aman, tertib, dan terorganisir, khususnya bagi peserta perempuan yang diberangkatkan dari titik kumpul menuju lokasi utama di area masjid kaki bukit.
Wali asuh sekaligus instruktur kegiatan, Syahrurrazi, mengatakan keselamatan siswa menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan pembelajaran luar kelas tersebut.
Ia mengapresiasi dukungan penuh dari Dinas Sosial Aceh Besar melalui armada truk operasional Tagana.
“Keselamatan siswa adalah prioritas utama kami.
Kami sangat mengapresiasi dukungan armada operasional truk reo Dinsos Aceh Besar yang membantu mobilisasi peserta perempuan dengan aman sampai ke lokasi pendukung,” ujarnya.
Kegiatan pembelajaran terbuka yang dimulai sekitar pukul 10.10 WIB itu menggabungkan pendidikan karakter dengan pendekatan berbasis alam.
Sebelum memulai aktivitas, para siswa laki-laki terlebih dahulu mendapatkan edukasi lapangan terkait pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan saat beraktivitas di alam terbuka.
Pemilihan lokasi wisata pemandian Mata Ie juga bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam mengenal ekosistem hutan dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Para peserta diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan serta menghormati kelestarian alam di kawasan tersebut.
Program Sekolah Rakyat di Sentra Darussa’adah Aceh sendiri menerapkan sistem berasrama penuh (boarding school) yang dirancang oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik.
Melalui konsep intervensi selama 24 jam, negara hadir mengelola lingkungan belajar dan tempat tinggal siswa secara menyeluruh guna memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Program ini didasari data nasional yang menunjukkan lebih dari 64 persen anak dari keluarga miskin berisiko tetap hidup dalam kemiskinan saat dewasa apabila tidak mendapatkan intervensi komprehensif.
Sinergi antara Kementerian Sosial melalui Sentra Darussa’adah Aceh dan Dinas Sosial Aceh Besar diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya menyegarkan secara fisik, tetapi juga membangun karakter, kepedulian sosial, dan kemandirian siswa dalam menyongsong masa depan.*[]


























