TLii..Banda Aceh — Lulusan dayah salafiyah di Aceh dinilai memiliki kompetensi keilmuan yang kuat sekaligus adaptif dalam menghadapi tantangan globalisasi. Temuan ini mengemuka dalam disertasi Tgk. Azmi Yudha Zulfikar, yang mengkaji secara fenomenologis kompetensi alumni dayah salafiyah di Kabupaten Pidie Jaya.
Sidang terbuka yang digelar di lantai 3 Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (21/4/2026), dengan disertasi berjudul “Analisis Salafiyah Kompetensi Lulusan Dayah Era Globalisasi” tersebut dipresentasikan dalam sidang akademik yang dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Eka Sri Mulyani, M.A., Ph.D yang juga Direktur pascasarjana UIN Ar-raniry. Tim penguji terdiri dari Prof. Dr. Muntasir A. Kadir, M.A (penguji eksternal Guru Besar Unimal Lhokseumawe), Dr. Teuku Zulkhairi, M.Ag, Dr. Marzuki, M.Si, dan Dr. Silahuddin, M.Ag. Sementara itu, penelitian ini dibimbing oleh dua promotor, yakni Prof. Dr. Hasbi Amiruddin, M.A dan Prof. Dr. Muhammad AR, M.Ed.
Dalam paparannya, Tgk. Azmi Yudha Zulfikar menjelaskan bahwa globalisasi telah membawa perubahan sosial yang kompleks, mulai dari derasnya arus informasi hingga pergeseran nilai dan otoritas keagamaan. Kondisi ini, menurutnya, menuntut kehadiran figur yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga kemampuan membaca realitas sosial secara bijak.
“Lulusan dayah salafiyah memiliki posisi strategis dalam konteks ini. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai penyampai ajaran agama, tetapi juga sebagai rujukan moral di tengah dinamika masyarakat modern,” ujarnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan melibatkan 15 alumni dari tiga dayah besar di Aceh, yakni Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, dan Dayah Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh Bireuen. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara interpretatif, serta studi dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi lulusan dayah salafiyah dibentuk melalui tiga pilar utama, yakni penguasaan kitab kuning, internalisasi nilai adab dan akhlak, serta disiplin keagamaan yang kuat. Ketiga aspek ini melahirkan kapasitas keilmuan yang tidak hanya mendalam secara tekstual, tetapi juga kontekstual dalam menjawab persoalan masyarakat.
Lebih jauh, lulusan dayah juga terbukti mampu menjalankan peran sosial-keilmuan di berbagai sektor. Tidak terbatas pada ruang keagamaan tradisional seperti pengajian dan dakwah, mereka juga aktif dalam organisasi sosial, birokrasi pemerintahan, bahkan ranah politik dan ekonomi.
“Ini menunjukkan bahwa lulusan dayah tidak terisolasi dari perkembangan zaman. Mereka justru hadir sebagai aktor yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisional dengan kebutuhan masyarakat modern,” tambahnya.
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah dinamika tradisi menulis di kalangan alumni dayah. Jika sebelumnya karya tulis klasik berbasis kitab menjadi dominan, kini terjadi pergeseran ke arah penulisan modern seperti artikel, opini, dan konten digital.
Meski demikian, Tgk. Azmi Yudha Zulfikar menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak menghilangkan akar epistemologis dayah salafiyah. Tradisi keilmuan klasik tetap menjadi fondasi utama, sementara media modern menjadi sarana ekspresi baru.
Kebaruan penelitian ini terletak pada rekonstruksi konsep kompetensi lulusan dayah dari perspektif epistemologi internal dayah itu sendiri. Kompetensi tidak lagi dipahami sebatas indikator administratif atau keterampilan teknis, melainkan mencakup kemampuan memahami realitas sosial dan menjadi rujukan moral publik.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi lulusan dayah salafiyah bersifat hibrid: tradisional secara epistemik, namun adaptif secara praksis.
“Globalisasi bukan ancaman, melainkan ruang aktualisasi bagi lulusan dayah,” tegasnya.
Di akhir sidang, Tgk. Azmi Yudha Zulfikar menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang tua, para guru, keluarga, dosen promotor, civitas akademika UNISAI Samalanga, UIN Ar-Raniry, kalangan dayah, serta berbagai pihak lainnya.
Sementara itu, Humas UNISAI Samalanga Tgk. Mursalin, M.H menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai keberhasilan ini menjadi bukti bahwa alumni dayah mampu bersaing di level akademik tertinggi tanpa kehilangan jati diri keilmuannya.
“Ini bukan hanya capaian personal, tetapi juga representasi kekuatan tradisi dayah dalam menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Sidang terbuka tersebut turut dihadiri akademisi, mahasiswa, serta berbagai kalangan yang memberikan apresiasi atas jalannya forum ilmiah yang kritis namun konstruktif. Disertasi ini dinilai memberikan kontribusi penting dalam pengembangan studi pendidikan dayah, sekaligus mempertegas relevansi dayah salafiyah di tengah arus globalisasi.


































