Lulus Kuliah, Lalu Menganggur: Apakah Jurusan yang Dipilih Masih Relavan dengan Dunia Kerja?

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:41 WIB

5072 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto ilustrasi sumber AI)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Zahra Amanda Mufida Mahasiswa PBI Unmuh Babel

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dahulu, lulus kuliah dianggap sebagai tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, kini bagi sebagian lulusan baru, wisuda justru menjadi awal dari perjuangan panjang mencari pekerjaan. Di sisi lain, beberapa perguruan tinggi mulai menutup atau mengevaluasi program studi yang minim peminat karena dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah pendidikan tinggi masih mampu menjamin masa depan lulusannya, atau justru perlu beradaptasi dengan tuntutan pasar kerja yang terus berubah?

Nyatanya, tidak semua lulusan berhasil mewujudkan harapannya. Setiap tahun, jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah, tetapi kesempatan kerja tidak meningkat dengan laju yang sama. Menurut Badan Pusat Statistik, pada Februari 2025, terdapat sekitar 7,28 juta pengangguran di Indonesia. Di antara berbagai jenjang pendidikan, lulusan perguruan tinggi memiliki tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,23%, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,25%. Fakta ini menunjukkan bahwa menyelesaikan pendidikan tinggi tidak lagi menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan dalam waktu singkat.

Salah satu penyebab utama meningkatnya angka pengangguran di kalangan lulusan baru adalah ketidakseimbangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan ketersediaan lapangan pekerjaan. Setiap tahun, ribuan mahasiswa berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dengan harapan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian mereka. Namun, pertumbuhan jumlah lulusan tersebut tidak selalu diikuti oleh peningkatan kesempatan kerja. Akibatnya, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi semakin ketat. Banyak perusahaan juga lebih memilih pelamar yang telah memiliki pengalaman kerja, sehingga lulusan baru sering kali kesulitan bersaing meskipun memiliki latar belakang pendidikan yang baik.

Selain terbatasnya lapangan pekerjaan, ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja juga menjadi faktor yang menyebabkan tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan baru. Banyak perusahaan tidak hanya mencari pelamar dengan nilai akademik yang baik, tetapi juga mengutamakan keterampilan praktis, seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja sama dalam tim, serta beradaptasi dengan perubahan. Sayangnya, tidak semua lulusan memiliki kemampuan tersebut karena proses pembelajaran di perguruan tinggi masih lebih berfokus pada penguasaan teori dibandingkan pengalaman praktik.

Selain terbatasnya lapangan pekerjaan dan ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, muncul pula fenomena baru di dunia pendidikan tinggi, yaitu penutupan sejumlah program studi yang minim peminat. Pada tahun 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengungkapkan bahwa sebanyak 122 program studi ditutup atas usulan masing-masing perguruan tinggi.

Beberapa program studi yang paling banyak diajukan untuk ditutup meliputi D3 Kebidanan, D3 Manajemen Informatika, D3 Akuntansi, D3 Teknik Komputer, D3 Keuangan dan Perbankan, D3 Keperawatan, S1 Manajemen Ritel, serta S1 Matematika. Penutupan tersebut dilakukan karena berbagai alasan, seperti minimnya jumlah mahasiswa, rendahnya daya serap lulusan, serta penyesuaian dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Permasalahan pengangguran di kalangan lulusan baru tidak dapat diselesaikan hanya dengan menutup program studi yang minim peminat. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, dan mahasiswa untuk menciptakan lulusan yang lebih siap menghadapi dunia kerja. Pemerintah perlu memperluas kesempatan kerja melalui peningkatan investasi dan dukungan terhadap sektor usaha yang mampu menyerap tenaga kerja. Di sisi lain, perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri tanpa mengabaikan nilai akademik, misalnya melalui program magang, pembelajaran berbasis proyek, serta pelatihan keterampilan seperti komunikasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah.

Meningkatnya angka pengangguran di kalangan lulusan baru menunjukkan bahwa memperoleh gelar sarjana tidak lagi menjadi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan. Permasalahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, serta perubahan kebijakan perguruan tinggi dalam mengevaluasi program studi yang kurang diminati.

Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, hingga mahasiswa itu sendiri. Pendidikan tinggi tetap memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, tetapi keberhasilannya juga harus didukung oleh tersedianya kesempatan kerja yang memadai. Dengan sinergi yang baik antara dunia pendidikan dan dunia kerja, gelar sarjana tidak hanya menjadi simbol pencapaian akademik, tetapi juga menjadi bekal yang mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Berita Terkait

Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang Laksanakan Program Kerja Bak Sampah di SDK Idalolong
Lulus Tanpa Skripsi : Terdengar Menggiurkan Tapi Sebenarnya Jebakan?
Quiet Quitting: Malas Bekerja atau Bentuk Kesadaran akan Work-Life Balance?
Perlukah Media Sosial Dibatasi Untuk Anak di Bawah 16 Tahun?
Hubungan Parasosial di Era Digital
Penghapusan Kewajiban Skripsi: Apakah Sebuah Kemajuan?
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
DAMPAK SMARTPHONE TERHADAP FOKUS BELAJAR MAHASISWA

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 08:29 WIB

“Akankah Sang Senior Muslim Agani Mengungkap Jejak di Balik Sengketa Tanah Seuneubok Bayu?”

Rabu, 2 September 2026 - 00:58 WIB

Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp11,94 Miliar

Selasa, 1 September 2026 - 21:45 WIB

Pulang Kampung, Kombes Carlie Syahputra Ditunjuk Jadi Kabidpropam Polda Aceh

Selasa, 1 September 2026 - 13:52 WIB

Peserta PKPPM Gelombang II IAIN Takengon Disambut Hangat Masyarakat Kampung Pantan Nangka

Selasa, 1 September 2026 - 10:20 WIB

3 BHAYANGKARA BERPRESTASI DI PIDIE JAYA DAPAT PENGHARGAAN, KAPOLRES: TERUS BERIKAN YANG TERBAIK

Selasa, 1 September 2026 - 09:37 WIB

Berkas P-21, Dua Tersangka Narkotika Pidie Jaya Dilimpahkan ke Kejaksaan

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:20 WIB

7 Urus Surat Pengadilan, 20 Lulus Administrasi Baitul Mal Gayo Lues: Pansel Sebut Bisa Diganti SKCK

Senin, 31 Agustus 2026 - 21:09 WIB

Baitul Mal Aceh Gandeng Rumah Zakat Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Kelompok Usaha

Berita Terbaru

BMA Sebut Muzaki Terbesar di Aceh

ACEH

Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp11,94 Miliar

Rabu, 2 Sep 2026 - 00:58 WIB