TLii…Bener Meriah — Selasa, 8 Desember 2025. Hampir dua pekan pascabencana, kondisi masyarakat di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bener Meriah kian memprihatinkan. Stok pangan di rumah-rumah warga terus menipis, sementara sebagian besar kede (warung) mulai tutup karena persediaan barang telah habis. Tidak hanya ikan basah, bahkan ikan asin pun menghilang dari peredaran.
Sejak awal bencana, stok beras di kede-kede sudah habis dan hingga hari ini belum ada suplai baru. Sebagian warga dengan “jiwa petualang” bahkan memilih berjalan kaki menempuh jarak jauh untuk mencari kebutuhan pokok ke wilayah Bireuen dan Lhokseumawe.
Di tengah keterbatasan pangan, beberapa kampung dan dusun sempat membuka dapur umum dengan membagikan nasi seadanya per kepala keluarga. Namun upaya itu hanya mampu berjalan selama lima hari karena stok beras bantuan yang diterima kampung telah habis.
Sementara itu, akses BBM dari arah KKA mulai terbuka meski masih sangat terbatas. Harga BBM yang beredar berkisar Rp50.000–Rp70.000 per liter. Banyak warga kini terpaksa memasak menggunakan kayu bakar akibat tidak tersedianya gas elpiji.
Jaringan telekomunikasi juga masih belum pulih. Saat ini hanya terdapat dua titik akses jaringan, itupun berbayar dan dibatasi 10 menit per orang. Kondisi ini membuat warga sulit memberikan kabar rutin kepada keluarga di luar daerah.
Saat malam tiba, masyarakat masih berselimut kegelapan karena minimnya penerangan. Aktivitas sekolah lumpuh total, sementara layanan perkantoran berjalan tidak normal. Dalam sektor perbankan, hanya Bank Aceh yang beroperasi, sementara BSI tutup total dan hanya mesin LINK yang masih berfungsi.
Warga Bener Meriah berharap doa dan dukungan dari seluruh pihak agar situasi segera membaik. Pembukaan akses jalan utama menjadi kunci agar pasokan bahan pokok — terutama beras — dapat segera masuk dan meringankan beban masyarakat.
Reporter: Zulkarnaini



























