Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Langsa Taufiqurrahman, (Foto : Istimewa)
TIMELINES INEWS INVESTIGASI
Kota Langsa – Bulan Ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang, langkah hidup seakan melambat, dan hati diajak untuk lebih peka. Di tengah ritme ibadah yang meningkat—puasa, salat tarawih, tadarus, sedekah—ada satu nilai yang sering luput kita renungkan secara mendalam: makna demokrasi. Sekilas, Ramadhan dan demokrasi tampak berada di ruang yang berbeda. Ramadhan identik dengan spiritualitas, sementara demokrasi sering dipahami sebagai urusan politik dan kekuasaan. Namun bila direnungi lebih dalam, keduanya bertemu pada nilai yang sama: penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab bersama.
Demokrasi pada dasarnya adalah tentang pengakuan bahwa setiap manusia memiliki suara yang layak didengar. Dalam demokrasi, tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya hanya karena jabatan, kekayaan, atau latar belakangnya. Semua memiliki hak yang sama untuk berbicara, berpendapat, dan berpartisipasi. Ramadhan mengajarkan hal yang serupa. Ketika berpuasa, semua orang—kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa—menahan lapar dan dahaga dengan cara yang sama. Rasa haus yang dirasakan tidak membedakan status sosial. Di situlah kita belajar tentang kesetaraan yang sejati.
Puasa mendidik kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang kekurangan. Ketika perut kosong dan tenggorokan kering, kita diingatkan bahwa di luar bulan Ramadhan pun ada orang-orang yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Kesadaran ini melahirkan empati. Dan empati adalah fondasi penting dalam demokrasi. Tanpa empati, demokrasi hanya menjadi prosedur formal—sekadar pemilihan dan perhitungan suara—tanpa jiwa keadilan. Dengan empati, demokrasi menjadi ruang untuk memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada mereka yang lemah.
Ramadhan juga melatih pengendalian diri. Kita tidak hanya menahan lapar dan minum, tetapi juga menahan amarah, menjaga lisan, dan mengontrol emosi. Dalam kehidupan demokrasi, pengendalian diri sangat dibutuhkan. Perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Dalam masyarakat yang beragam, tidak mungkin semua orang sepakat pada satu pandangan. Tanpa kemampuan menahan diri, perbedaan bisa berubah menjadi permusuhan. Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri sendiri.
Ketika seseorang berdebat dalam suasana demokratis, ia diuji untuk tetap santun. Ia boleh berbeda, tetapi tidak boleh merendahkan. Ia boleh tegas, tetapi tidak boleh menghina. Nilai-nilai ini selaras dengan pesan Ramadhan untuk menjaga lisan dan hati. Demokrasi yang sehat membutuhkan masyarakat yang matang secara emosional—dan Ramadhan adalah madrasah yang melatih kedewasaan itu.
Selain kesetaraan dan pengendalian diri, Ramadhan juga menumbuhkan semangat kebersamaan. Saat berbuka puasa, orang-orang berkumpul. Ada yang berbagi takjil di pinggir jalan, ada yang mengundang tetangga untuk makan bersama, ada pula yang menyisihkan sebagian rezekinya untuk mereka yang membutuhkan. Kebersamaan ini menciptakan rasa memiliki terhadap sesama. Demokrasi pun bertumpu pada rasa kebersamaan. Ia bukan sistem yang berdiri di atas ego pribadi, melainkan di atas kesadaran bahwa kita hidup dalam satu komunitas yang saling terhubung.
Dalam demokrasi, keputusan diambil untuk kebaikan bersama, bukan hanya untuk kepentingan satu kelompok. Semangat gotong royong yang terasa kuat di bulan Ramadhan menjadi pengingat bahwa kesejahteraan tidak bisa dibangun secara individualistis. Kita membutuhkan solidaritas. Kita membutuhkan kepedulian. Dan Ramadhan menghidupkan nilai itu dalam bentuk yang nyata.
Ramadhan juga mengajarkan kejujuran. Puasa adalah ibadah yang sangat personal. Orang lain mungkin tidak tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Tidak ada pengawasan manusia yang ketat. Namun kita tetap menjalankannya karena kesadaran batin. Kejujuran inilah yang menjadi pilar penting dalam demokrasi. Tanpa kejujuran, sistem sebaik apa pun akan rapuh. Pemimpin yang tidak jujur akan menyalahgunakan amanah. Warga yang tidak jujur akan mudah terprovokasi oleh informasi palsu. Ramadhan melatih integritas—melakukan yang benar meski tidak ada yang melihat.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga tentang menjaga amanah. Setiap jabatan adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Ramadhan mengingatkan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran spiritual ini dapat memperkuat etika publik. Ketika seseorang menyadari bahwa kekuasaan bukan sekadar hak, melainkan amanah, maka ia akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Bulan Ramadhan juga identik dengan musyawarah. Di banyak keluarga, menjelang berbuka ada diskusi kecil tentang menu yang akan disiapkan. Di lingkungan masyarakat, ada pertemuan untuk mengatur kegiatan ibadah atau pembagian zakat. Musyawarah menjadi cara untuk menyatukan pandangan dan mencari solusi terbaik. Demokrasi pun menempatkan musyawarah sebagai salah satu nilai utama. Keputusan yang dihasilkan melalui dialog cenderung lebih adil dan dapat diterima bersama.
Makna demokrasi di bulan Ramadhan juga terlihat dalam semangat berbagi. Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya ritual, tetapi mekanisme sosial untuk mengurangi kesenjangan. Dalam demokrasi, keadilan sosial adalah tujuan penting. Ketika kesenjangan terlalu lebar, rasa kepercayaan akan memudar. Ramadhan menghadirkan momentum untuk memperbaiki keseimbangan itu. Tangan yang memberi dan tangan yang menerima dipertemukan dalam suasana yang penuh rasa hormat, bukan belas kasihan yang merendahkan.
Ramadhan mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketakwaan dan kebaikan. Dalam demokrasi, kemuliaan warga negara tidak diukur dari statusnya, tetapi dari kontribusinya bagi masyarakat. Setiap orang punya peran. Setiap suara memiliki arti. Ketika masyarakat menyadari bahwa mereka setara dalam hak dan tanggung jawab, demokrasi akan tumbuh dengan kuat.
Di sisi lain, Ramadhan juga mengajarkan kesabaran. Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Menahan lapar sejak fajar hingga magrib membutuhkan ketekunan. Begitu pula dengan demokrasi. Ia adalah proses panjang yang memerlukan komitmen. Kadang kita merasa kecewa terhadap keadaan. Kadang harapan tidak segera terwujud. Namun seperti puasa yang berakhir dengan berbuka, kesabaran dalam menjaga nilai demokrasi akan membawa hasil pada waktunya.
Bulan Ramadhan adalah waktu refleksi. Kita diajak untuk melihat ke dalam diri: sudahkah kita adil? Sudahkah kita menghargai orang lain? Sudahkah kita berkontribusi untuk kebaikan bersama? Refleksi ini penting dalam demokrasi. Tanpa evaluasi diri, demokrasi bisa kehilangan arah. Kritik dan saran harus disertai dengan kesediaan untuk memperbaiki diri sendiri.
Pada akhirnya, makna demokrasi di bulan Ramadhan terletak pada pertemuan antara nilai spiritual dan nilai sosial. Ramadhan membentuk pribadi yang sabar, jujur, empatik, dan peduli. Demokrasi membutuhkan pribadi-pribadi seperti itu agar dapat berjalan dengan baik. Tanpa karakter yang kuat, demokrasi mudah tergelincir ke dalam konflik dan ketidakadilan.
Ramadhan mengingatkan kita bahwa kebebasan bukanlah kebebasan tanpa batas. Ada tanggung jawab moral yang menyertainya. Dalam demokrasi, kebebasan berpendapat harus diiringi dengan tanggung jawab untuk tidak menyebarkan kebencian. Kebebasan memilih harus disertai dengan kesadaran untuk memilih secara bijak. Ramadhan melatih kita untuk menggunakan kebebasan dengan kendali diri.
Ketika azan magrib berkumandang dan kita berbuka puasa, ada rasa syukur yang mendalam. Rasa itu lahir dari perjuangan menahan diri sepanjang hari. Demokrasi pun akan terasa bermakna ketika kita menjaganya dengan kesungguhan. Ia bukan hadiah yang datang begitu saja, tetapi hasil dari komitmen bersama untuk saling menghormati dan memperjuangkan keadilan.
Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan pembelajaran sosial. Ia mengajarkan nilai-nilai yang menjadi fondasi demokrasi: kesetaraan, empati, kejujuran, kesabaran, musyawarah, dan tanggung jawab. Jika nilai-nilai Ramadhan mampu kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari, maka demokrasi tidak hanya menjadi sistem, tetapi juga budaya yang hidup dalam diri setiap warga.
Demokrasi yang berjiwa Ramadhan adalah demokrasi yang hangat, adil, dan penuh kepedulian. Demokrasi yang tidak sekadar menghitung suara, tetapi juga menjaga rasa. Demokrasi yang tidak hanya berbicara tentang hak, tetapi juga tentang kewajiban. Di bulan yang suci ini, kita diingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hati yang bersih. Dan dari hati yang bersih itulah, demokrasi yang bermartabat dapat terus dirawat dan diperkuat.
Penulis : Taufiqurrahman, S.H.i.,
Editor : Zulkarnaini




































