‎Betungkah: Perlawanan Terhadap Kerusakan Alam Dari Pesisir Bangka

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Rabu, 25 Maret 2026 - 19:56 WIB

50339 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto istimewa sang penulis)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Lakenu (Ketua Umum Maritim Muda Kabupaten Bangka)
‎
‎Kerusakan lingkungan akibat tambang timah di Bangka bukan lagi cerita baru. Lubang tambang tersebar di darat, sementara di pesisir aktivitas tambang laut ikut mengubah bentang alam dan mengganggu ruang hidup masyarakat. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan perlahan kehilangan daya dukungnya. Bagi masyarakat pesisir, kerusakan ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap keberlanjutan hidup mereka. Ketergantungan pada komoditas tambang juga menciptakan kesejahteraan semu, ketika sumber daya menipis atau aktivitas tambang berhenti, masyarakat sering kali ditinggalkan dengan lanskap yang rusak dan pilihan ekonomi yang semakin terbatas.
‎
‎Di tengah situasi tersebut, masyarakat Pangkal Niur menunjukkan cara yang berbeda dalam merespons perubahan yang terjadi. Melalui tradisi betungkah, warga turun ke pesisir saat air laut surut untuk mencari kerang dengan cara-cara tradisional. Praktik ini tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan nilai penting tentang bagaimana masyarakat memandang laut sebagai ruang hidup yang harus dijaga.
‎
‎Di titik inilah betungkah menjadi penting: ia bukan sekadar permainan tradisional atau atraksi wisata, melainkan penegasan bahwa laut adalah sumber hidup, bukan objek untuk dikeruk habis oleh logika tambang.
‎
‎ betungkah memiliki makna simbolik sebagai bentuk perlawanan masyarakat terhadap kerusakan lingkungan akibat tambang laut ilegal.‎Perlawanan terhadap tambang tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka. Dalam banyak kasus, ia juga hidup dalam praktik-praktik budaya yang terus dijalankan oleh masyarakat. Betungkah menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat menjadi cara masyarakat mempertahankan relasinya dengan alam sekaligus menegaskan sikap terhadap kerusakan yang terjadi.
‎
‎Tradisi betungkah dapat di adaptasi sebagai alat perlawanan terhadap kerusakan baik itu darat maupun laut di pulau bangka, karena Seni merupakan perlawanan yang paling halus, dan betungkah merupakan bentuk perlawanan terhadap kerusakan dengan pelestarian. Karena, betungkah bukan sekadar tradisi pesisir yang patut dilestarikan. Ia adalah praktik nyata yang menunjukkan bahwa masyarakat memiliki cara sendiri untuk menjaga alamnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Berita Terkait

Di Balik Tangisan Anak Pencuri Ayam, Ada Keresahan Pemilik Ayam Aduan Juara dan PR Besar Penegakan Hukum
Rupiah Terjun Bebas: Bukti ‘Ekonomi Pancasila’ Masih Sebatas Dongeng Pengantar Tidur Penguasa
INGKAR JANJI DALAM HUBUNGAN ASMARA: BISAKAH CINTA DIGUGAT?
Politik Santun, Menang Tanpa Balas Dendam
Kekosongan Kepemimpinan di Bangka Barat Bukan Soal Jabatan, Tetapi Hilangnya Keberanian Memimpin.
Pers Pilar Keempat Demokrasi: Masihkah Menjadi Penjaga Kebenaran?
“Tak Dapat Dana Bantuan Sosial, Geusyik Dituding Pilih Kasih dan Balas Jasa Politik”
MBG: Mesin Ekonomi Desa, Strategi Ketahanan Nasional, dan Tantangan Tata Kelola Program Raksasa

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:13 WIB

KORMI Lhokseumawe mengadakan Turnamen Tenis 78 PASANGAN IKUT MERIAHKAN BOOMING OLAHRAGA TENIS

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Tingkatkan Kebugaran dan Kekompakan, Pegawai Rutan Labuhan Deli Latihan Fisik melalui Mini Soccer

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:50 WIB

Kapolres Pematangsiantar Bersama Jajaran Gelar Sholat Jumat Keliling, Pererat Silaturahmi dan Ajak Warga Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:46 WIB

Sat Lantas Polres Pematangsiantar Edukasi TK Tertib Berlalu Lintas Sejak Usia Dini 

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:02 WIB

Program Tumbuh Bersama,PT Pelindo Regional I Dorong Peningkatan Kualitas SDM melalui Pembangunan Sekolah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:40 WIB

Bapas Palangka Raya Gali Kesiapan Lingkungan, Dukung Keberhasilan Reintegrasi Sosial Klien Pemasyarakatan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Berdalih Pematangan Lahan, Galian Tanah Urug Diduga Ilegal Tetap Berjalan: Warga Curigai Ada “Tameng” dan Permainan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:29 WIB

Kepala Bapas Theo Adrianus Tegaskan Pelayanan Optimal Kedepankan Profesionalisme dan Nilai Kemanusiaan Kondisi Khusus

Berita Terbaru