‎Betungkah: Perlawanan Terhadap Kerusakan Alam Dari Pesisir Bangka

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Rabu, 25 Maret 2026 - 19:56 WIB

50162 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto istimewa sang penulis)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI

Penulis: Lakenu (Ketua Umum Maritim Muda Kabupaten Bangka)

‎Kerusakan lingkungan akibat tambang timah di Bangka bukan lagi cerita baru. Lubang tambang tersebar di darat, sementara di pesisir aktivitas tambang laut ikut mengubah bentang alam dan mengganggu ruang hidup masyarakat. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan perlahan kehilangan daya dukungnya. Bagi masyarakat pesisir, kerusakan ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap keberlanjutan hidup mereka. Ketergantungan pada komoditas tambang juga menciptakan kesejahteraan semu, ketika sumber daya menipis atau aktivitas tambang berhenti, masyarakat sering kali ditinggalkan dengan lanskap yang rusak dan pilihan ekonomi yang semakin terbatas.

‎Di tengah situasi tersebut, masyarakat Pangkal Niur menunjukkan cara yang berbeda dalam merespons perubahan yang terjadi. Melalui tradisi betungkah, warga turun ke pesisir saat air laut surut untuk mencari kerang dengan cara-cara tradisional. Praktik ini tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan nilai penting tentang bagaimana masyarakat memandang laut sebagai ruang hidup yang harus dijaga.

‎Di titik inilah betungkah menjadi penting: ia bukan sekadar permainan tradisional atau atraksi wisata, melainkan penegasan bahwa laut adalah sumber hidup, bukan objek untuk dikeruk habis oleh logika tambang.

‎ betungkah memiliki makna simbolik sebagai bentuk perlawanan masyarakat terhadap kerusakan lingkungan akibat tambang laut ilegal.‎Perlawanan terhadap tambang tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka. Dalam banyak kasus, ia juga hidup dalam praktik-praktik budaya yang terus dijalankan oleh masyarakat. Betungkah menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat menjadi cara masyarakat mempertahankan relasinya dengan alam sekaligus menegaskan sikap terhadap kerusakan yang terjadi.

‎Tradisi betungkah dapat di adaptasi sebagai alat perlawanan terhadap kerusakan baik itu darat maupun laut di pulau bangka, karena Seni merupakan perlawanan yang paling halus, dan betungkah merupakan bentuk perlawanan terhadap kerusakan dengan pelestarian. Karena, betungkah bukan sekadar tradisi pesisir yang patut dilestarikan. Ia adalah praktik nyata yang menunjukkan bahwa masyarakat memiliki cara sendiri untuk menjaga alamnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Berita Terkait

Pers Pilar Keempat Demokrasi: Masihkah Menjadi Penjaga Kebenaran?
“Tak Dapat Dana Bantuan Sosial, Geusyik Dituding Pilih Kasih dan Balas Jasa Politik”
MBG: Mesin Ekonomi Desa, Strategi Ketahanan Nasional, dan Tantangan Tata Kelola Program Raksasa
Demokrasi di Bulan Suci Ramadhan
Meugang dan Ziarah: Mengikat Silaturahmi Hingga ke Alam Kubur
Ricky (Direktur Perumdam TS) : PAM/PDAM Juga Korban Bencana yang Harus Dipulihkan di Gayo Lues
Kontroversi Lambang Aceh Dinilai A-Historis dan Sarat Polemik
Ketika Bencana hidrometeorologi Gayo Lues Dijadikan Alasan Menambah Utang ASN

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:20 WIB

Minggu 17 Mei Jadi Puncak Arus Balik, KAI Divre I Sumut Layani 8.055 Penumpang

Minggu, 17 Mei 2026 - 16:57 WIB

Undercover Buy Bongkar Peredaran Liquid Narkotika di Hamparan Perak, Puluhan Cartridge Yakuza Disita

Minggu, 17 Mei 2026 - 16:53 WIB

Polda Sumut Ikuti Panen Raya Jagung Serentak Polri Bersama Presiden Prabowo, Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 17 Mei 2026 - 16:49 WIB

Berantas Peredaran Narkoba,Sat Res Narkoba Polres Pematangsiantar Berhasil Amankan Diduga Pelaku Kepemilikan Ekstasi

Minggu, 17 Mei 2026 - 16:42 WIB

Diduga Memiliki Ekstasi,Sat Res Narkoba Polres Pematangsiantar Amankan Dua Pelaku

Minggu, 17 Mei 2026 - 12:37 WIB

Polres Pematangsiantar Ikuti Zoom Meeting Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:31 WIB

Jeffry Sentana Berbaur dengan Warga, CFD Langsa Hadirkan Suasana Penuh Keakraban

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:31 WIB

Pria Lansia Meninggal Dunia Ditabrak Mobil Terios  Saat Menyebrang Jalan di Balige

Berita Terbaru